Advertisement

apijiwa.id – Buku yang membahas wisata gastronomi belum begitu banyak. Selain temanya yang spesifik, juga tema ini diminati kalangan terbatas. Padahal gastronomi sangat terkait dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Karena itu, kehadiran buku ini dapat dianggap sebagai ikhtiar memperkenalkan dunia gastronomi secara luas kepada masyarakat. Tim penyusun dinakhodai Dr. Dewi Turgarini, SS., M.M.Par, seorang dosen Prodi Magister Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung.

Gastronomi sendiri membahas hal Ikhwal bagaimana makanan dibuat, berikut cara penyajiannya yang baik, serta melibatkan hal-hal terkait dengan latar belakang dan sejarah makanan.

Karenanya, gastronomi perlu dibedah lebih mendalam, sehingga pembaca atau masyarakat luas dapat memahami hal-hal yang terkait dengan makanan yang selama ini dikonsumsi. Sehingga, masyarakat bukan saja sekedar mencicipi makanan, tetapi juga memiliki pengetahuan tentang makanan yang telah dinikmatinya.

Potensi alam pedesaan jika ditelisik secara mendalam, sesungguhnya merupakan dasar pengembangan destinasi wisata gastronomi. Buku ini merupakan hasil penelitian terhadap sebuah kampung bernama Pasir Ipis di Desa Jayagiri,  Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Buku ini bisa menjadi trigger bagi pihak-pihak terkait mampu mengolah wisata gastronomi yang dapat dijual kepada masyarakat. Paparan dalam buku ini bisa menjadi pendorong bagi siapapun agar mampu mengolah dan mengembangkan potensi destinasi wisata gastronomi di daerah masing-masing.

Dengan mengambil Kampung Pasir Ipis sebagai objek penelitian, ada semacam semangat dari tim penyusun dan penggagas buku ini, yang mencoba membuka ruang bagi siapapun yang peduli dengan dunia gastronomi untuk senantiasa bersinergi, karena potensi yang ada begitu besar dan nyata.

Alam pedesaan menyimpan pemandangan alam yang indah, seni dan budaya, kuliner, dan pernak-pernik lainnya. Sumber daya alam itu bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata gastronomi dan ekonomi kreatif, yang bisa mendongkrak pendapatan asli daerah.

Desa Pasir Ipis sendiri adalah desa binaan UPI Kota Bandung, yang dengan sinergisitas yang terjalin, tercetuslah keinginan bersama mengembangkan destinasi wisata gastronomi di sana. Sehingga potensi budaya dan adat istiadat yang ada, dapat dieksplorasi secara baik serta dikenalkan kepada publik.

Selain itu, adanya jenis makanan yang menjadi ciri khas daerah tersebut, yang diproduksi skala rumahan, dibantu segala sesuatunya, termasuk dalam promosi dan penjualannya, yang dilakukan secara digital. Semua diawali tahun 2022, dan semakin intenbsif lagi pengembangannya tahun 2023.

Buku “Pengembangan dan Pengelolaan Produk Pangan Darurat, Sebagai Mitigasi dan Pasca Bencana di Kampung Pasir Ipis Jayagiri Lembang Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi” ini banyak membahas potensi wisata gastronomi di kampung Pasir Ipis dengan penekanan khusus kepada pembaca, semacam ajakan untuk menyadari pentingnya pengembangan wisata gastronomi daerah. Buku ini sendiri mengupas secara gamblang sejak cara melihat potensi wisata gastronomi di sebuah daerah, tata kelolanya, hingga sumber dayanya.

Juga dijelaskan strategi pengembangan wisata gastronomi yang dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya, serta dijelaskan beragam upaya mengenalkan desa secara luas melalui wisata gastronomi yang menjadi andalannya.

Buku ini juga membahas tentang mitigasi bencana dan perlunya ada jenis makanan yang bisa dinikmati oleh orang-orang saat terjadi bencana, karena posisi daerah Pasir Ipis terletak di sesar Lembang yang sangat rawan bencana. Sehingga, meskipun memiliki potensi alam desa yang sangat menjanjikan karena wilayahnya dekat pegunungan, akan tetapi secara potensi rawan terjadi bencana.

Buku ini sendiri terdiri dari lima bab. Bab pertama, membahas tentang tujuan dari penulisan buku ini. Bab kedua, lebih banyak membahas tentang apa itu dunia wisata, gastronomi, dan sebagainya, dalam kajian teori.

Bab ketiga, dibahas tentang objek pengumpulan data dan analisa data dari hasil survei yang dilakukan kepada para responden. Bab keempat, secara detail mengungkapkan tentang potensi di Pasir Ipis untuk pengembangan wisata gastronomi dari berbagai aspek; dan Bab kelima, adalah kesimpulan dan saran guna pengelolaan yang lebih baik terhadap destinasi wisata gastronomi yang ada.

Melalui buku ini, pembaca tidak sekadar diajak memahami persoalan dunia gastronomi secara umum, tapi juga diajak secara spesifik melalui pemaparan potensi kuliner yang dapat dikembangkan, adat istiadat atau kebiasaan makan di daerah setempat, serta yang tak kalah penting adalah langkah pengelolaan wisata gastronomi secara baik, sehingga menghasilkan apa yang diharapkan oleh pengelolanya.

Kendati dipaparkan dengan beragam tabel di dalamnya dan dibahas secara sederhana dalam ruang terbatas, namun buku ini dapat menggambarkan secara jelas metode, perencanaan, pengelolaan, pengembangan dan dampak di kemudian hari dari pengelolaan destinasi wisata gastronomi yang baik, berikut fakta yang telah diterapkan di lapangan.

Tidak berhenti sampai di situ, seluk beluk terkait gastronomi di daerah itu juga dibahas secara rinci. Setidaknya ada tiga bahasan yang jadi pokok utama, yang potensial dikembangkan. Pertama; adanya makanan yang disebut rengginang oyek, yang menjadi kuliner khas di kampung Pasir Ibis, yang dikupas aspek pengelolaan dan pembuatannya, serta potensi pengembangannya dipandang secara ekonomi.

Kedua, juga yang menarik adalah adanya pembahasan tentang botram (kebiasaan makan bersama dalam kegiatan tertentu—pen) dikupas tuntas dari aspek sosial dan budaya yang memiliki potensi ekonomi untuk warga setempat. Dan ketiga; dikupas bagaimana mengelola potensi wisata gastronomi secara baik sehingga menghasilkan sesuatu yang diharapkan selama ini.

Akhirnya, dengan melihat semua paparan yang ada di buku ini dapat diambil kesimpulan, bahwasannya Pasir Ipis adalah daerah yang dekat dengan sesar Lembang, sehingga perlu ada mitigasi bencana jika suatu saat terjadi bencana. Namun demikian, potensi wisata gastronomi yang ada, dengan berbagai aspek yang ada, perlu dikembangkan secara baik, karena terlihat potensi yang dapat mendongkrak PAD setempat. Upaya semacam ini diharapkan menjadi model bagi daerah-daerah lain dalam pengembangan wisata gastronomi yang dimilikinya di daerah masing-masing.

Data buku:
Judul Buku: Pengembangan dan Pengelolaan Produk Pangan Darurat Sebagai Mitigasi dan Pasca Bencana di Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Lembang Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi
Penyusun: Dr. Dewi Turgarini, SS, M.M.Par; Caria Ningsih, PhD.; Dr. Woro Priantini, M.Si; Dias Pratami, M.Si; dan Purna Hindayani, M.T
Penerbit: Program Studi Manajemen Industri Katering, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia
Tahun Terbit: 2023
Tebal: vi + 68 halaman

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.