Advertisement

apijiwa.id – Setidaknya sebanyak 28 produk olahan dari daun kelor hasil inovasi mahasiswa Fakultas Ilmu dan Teknologi Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Ahmad Yani (UNJANI) Kota Cimahi dipamerkan di Pasar Sapasir–Festival Archipelagic Moringa 2025 yang digelar di gedung Gasblock, Jalan Braga, Kota Bandung, Minggu (7/12/2025).

Semua mahasiswa yang terlibat dalam pembuatan produk ini hadir. Selain sebagai peserta acara, mereka juga mempresentasikan produk inovasi yang telah dibuatnya.

Dosen Gizi Prodi Kesehatan Masyarakat UNJANI, Susilowati, menyatakan semua produk merupakan inovasi dari mahasiswanya yang mengikuti mata kuliah Gizi Kesehatan Masyarakat. Menurutnya, produk inovasi itu sebagai jawaban atas munculnya pelbagai problem kesehatan di masyarakat seperti gizi kurang dan gizi lebih, ada pula penyakit infeksi dan noninfeksi seperti kolesterol, hipertensi, diabetes, stunting, dan obesitas.

Merespons realitas sosial masyarakat itu, mahasiswa diajak berpikir menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya di bidang kesehatan, namun bukan dalam bentuk kapsul melainkan dalam bentuk olahan makanan yang disukai.

“Problemnya terkait kesehatan seperti penyakit hipertensi dan banyak orang yang putus minum obat. Maka dari itu, mahasiswa diajak menghasilkan produk makanan yang bisa dinikmati sekaligus bisa menjadi obat. Kelor banyak mengandung zat flavoin yang bisa menurunkan tekanan darah serta tinggi kaliumnya. Istilahnya makanan ini bisa menjadi super food,” terang wanita yang juga penggiat kelor.

Masih menurut Susilowati, pengembangan produk kuliner dan kesehatan ini menghadapi problem modal sehingga menjadikan produksi agak tersendat. Karenanya, menurut Susi, ajakan untuk memajang produk-produk mahasiswa dalam sebuah festival adalah kesempatan emas.

Selain bisa mendapatkan pengalaman dari para pengusaha yang sudah sukses, juga berkesempatan memperkenalkan produk, sehingga bisa dikenal khalayak umum, sekaligus harapannya bisa mengundang investor.

“Mahasiswa kami telah berinovasi, sehingga tentu saja kami perlu memajukan mereka dan produknya agar dikenal publik,” terang Susi kepada Apijiwa.id di sela-sela acara Pasar Sapasir–Festival Archipelagic Moringa 2025.

Salah satu produk inovasi dari mahasiswanya adalah produk tepung daun kelor yang sebenarnya berbahan dasar singkong namun dicampur bubuk kelor, sehingga menjadi semacam gluten free atau bebas gluten.

Prosesnya, singkong melalui proses fermentasi, lalu diparut dan diperas melalui saringan dan dikeringkan dalam waktu tiga jam. Kemudian, setelah menjadi tepung, dicampurlah dengan bubuk daun kelor.

“Tepung ini dapat digunakan membuat kulit tortila yang dapat diisi daging, ketimun, sayur, dan juga mayones. Dapat pula dibuat pancake. Makanan dengan bahan ini cocok untuk penderita diabetes karena rendah kadar gulanya. Nah, jika ingin mendapatkan tepung, sistemnya mesti PO dan sekarang yang tersedia kemasan ukuran 200 gram,” kata Mayza Salwa Alliyah, mahasiswa UNJANI, mewakili teman-teman yang memproduksi tepung daun kelor.

Produk lain yang dipamerkan adalah Moubery C. Menurut Natra Disista dan teman-temannya, sebenarnya apa yang dihasilkannya itu merupakan tugas dari dosennya. Namun, melihat perkembangan gaya hidup dan pola makan remaja saat ini, obesitas adalah problem yang mengancam mereka.

Karenanya, ia bersama dengan teman-temannya, setelah melakukan survei, tercetuslah ide membuat produk yang berbahan dasar buah stroberi dan lemon.

“Kami telah melakukan percobaan dengan memberikan sampel kepada salah seorang teman dan hasilnya buang airnya lancar. Dengan begitu, saya dan teman-teman percaya, produk inovasi ini dapat dikembangkan walaupun produk ini telah mengalami tiga kali revisi untuk menghasilkan produk yang nantinya bisa disukai remaja,” tegas Natra.

Produk inovasi lainnya adalah LumeriUbi Pie, yang dihasilkan oleh M. Satria Raka Wardhana dan Fitri Aulia Mega, serta didukung teman-temannya. Produk ini, menurut Satria, adalah snack yang bisa dinikmati oleh mereka penderita diabetes.

“Produk ini dibuat dengan bahan dasar ubi, ada kandungan yoghurt, stroberi, dan sorgum, serta daun kelor yang rendah gula, sehingga aman untuk dinikmati penderita diabetes. Insyaallah jika mendapatkan sambutan baik dari masyarakat, kami akan mengembangkan potensi bisnisnya. Saat ini, produk dipatok dengan harga Rp 10.000,-/buah,” tambah Fitri.

Produk inovasi para mahasiswa jelas membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Karenanya, sudah saatnya pihak-pihak yang peduli, memberi dukungan bagi pengembangan potensi generasi muda yang ada untuk kebermanfaatan yang lebih luas.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.