apijiwa.id – Di sebuah sudut dunia yang sering luput dari hiruk-pikuk gemerlap digital, di mana aroma tinta dan debu kertas masih menyisakan jejak, terhampar medan juang yang sunyi namun fundamental: pembinaan literasi di tingkat paling bawah.
Ini bukan sekadar mengajarkan susunan kata atau menata kalimat, melainkan sebuah ritual merawat jiwa, menanamkan benih kesadaran, dan menyalakan obor pemikiran di ruang-ruang yang paling jujur dan rentan.
Setelah puluhan tahun bergumul dalam kancah ini, terutama di arena sakral seperti kelas kepenulisan—baik fiksi yang menjangkau imajinasi liar maupun nonfiksi yang menjejakkan kaki pada bumi realitas—saya sampai pada satu konklusi yang tak terbantahkan: pekerjaan ini menuntut trilogi kebajikan yang paripurna: ketalatenan, kesabaran, dan kekuatan mental yang kukuh. Ia adalah ziarah panjang, bukan lari cepat. Ia adalah menenun sehelai demi sehelai sutra, bukan menjahit karung goni.
Menemukan Sumber Air yang Kering
Membina kelas kepenulisan, apalagi di tingkat akar rumput, seringkali berarti berhadapan dengan sebidang tanah yang kering kerontang. Antusiasme mungkin ada, tapi bekalnya minim. Motivasi mungkin bergelora, tapi pijakannya goyah. Di sinilah letak tantangan pertama, menghadapi realitas bahwa menulis adalah buah, dan membaca adalah akarnya.
Saya sering mendapati peserta kelas, baik santri putra di Kelas Reguler PP Annuqayah Daerah Lubangsa Utara maupun santri putri di Lembaga Literasi, yang matanya nanar ketika diminta menyebutkan nama-nama besar.
Ketika nama Chairil Anwar disinggung, alih-alih mengutip “Aku”, yang muncul hanyalah keheningan. Ketika sosok bijak HAMKA disebut, yang terbayang mungkin hanya nama jalan, bukan kedalaman tafsir dan novel-novel yang menusuk kalbu.
Ini adalah momen krusial. Seorang pembina tidak boleh patah arang atau mencibir. Justru, ini adalah isyarat bahwa kita harus mundur selangkah, menuju titik nol yang paling esensial: stimulus dari bahan dasar yang paling awal, yaitu membaca.
Bagaimana mungkin seseorang bisa merangkai diksi yang bergetar jika ia tak pernah merasakan getaran dari diksi milik orang lain? Bagaimana mungkin sebuah narasi bisa mengalir deras jika sumber airnya, yakni pemahaman akan bahasa dan khazanah, belum ditemukan?
Maka, tugas pertama bukanlah memaksa mereka menulis, melainkan merangsang dahaga mereka akan bacaan.
“Jika kalian tak tahu siapa Chairil Anwar, bacalah puisi-puisinya! Rasakan pemberontakan estetiknya. Jika kalian tak tahu siapa HAMKA, selami karyanya! Cicipi kearifan timurnya yang membingkai modernitas,” demikian selalu saya serukan.
Menarik Benang Emas
Pembinaan literasi dasar adalah seni mengenalkan tokoh tanpa harus menguliahi. Ini tentang menciptakan jembatan emosional antara calon penulis dengan para maestro.
Ambil contoh dua tokoh pemikir yang seringkali hadir dengan aura intelektual yang tinggi: Goenawan Mohammad dan Emha Ainun Najib. Menyebut nama mereka saja kadang sudah membuat peserta ciut. Tugas kita, para pembina, adalah mengubah ketakutan itu menjadi rasa penasaran yang mendalam.
Bukan melulu melalui kajian teoretis, tetapi melalui perjumpaan yang intim. Cari esai-esai pendek Goenawan Mohammad yang puitis, yang lincah, yang berbicara tentang hal-hal sehari-hari. Ajak mereka merasakan keindahan Catatan Pinggir yang mampu membedah isu besar hanya dengan sentuhan ringan.
Begitu pula dengan Emha Ainun Najib (Cak Nun). Kenalkan mereka pada tulisan-tulisannya yang membumi, yang mendobrak sekat kaku, yang penuh humor sekaligus renungan filosofis.
Tanpa bekal ini, tanpa ‘kekayaan raya’ yang tersimpan dalam kepala dari hasil membaca karya-karya dasar ini, gerakan literasi akan sulit dibina. Ia akan menjadi bangunan tanpa fondasi. Para santri, yang merupakan subjek pembinaan di level ini, harus disadarkan bahwa setiap kata yang mereka tulis, adalah warisan dari jutaan kata yang telah mereka serap.
Nafas Abadi Seorang Pembina
Di tengah upaya yang terkesan ‘mundur’ ke tahap membaca ini, kita akan berhadapan dengan gelombang kebosanan, kemalasan, dan godaan untuk menyerah, baik dari sisi peserta maupun dari diri pembina sendiri. Inilah mengapa ketalatenan menjadi kunci yang paling penting.
Ketalatenan dalam konteks pembinaan literasi adalah:
Pertama; Mengulang tanpa Bosan: Mengulang ajakan membaca, mengulang teknik penulisan, mengulang kritik yang sama dengan sudut pandang yang berbeda, hari demi hari, minggu demi minggu.
Kedua; Melihat Kemajuan Seinci: Merayakan satu kalimat yang berhasil ditulis dengan jujur, satu alinea yang menunjukkan perkembangan diksi, atau satu esai yang terstruktur, meskipun di sebelahnya masih ada tumpukan kesalahan.
Ketiga; Memahami Ritme Sunyi: Menyadari bahwa proses kreatif tidak linier. Ada masa vakum, ada masa panen. Tugas pembina adalah menjadi ‘petani’ yang memahami kapan harus menyiram, kapan harus membiarkan tunas berjuang sendiri, dan kapan harus menaungi.
Di ranah pesantren, seperti yang saya jalani di Annuqayah, ritme kehidupan santri begitu padat. Menyelipkan motivasi literasi di antara jadwal pengajian dan sekolah formal adalah tantangan tersendiri.
Di sinilah kesabaran diuji. Kita tidak sedang mencetak jurnalis instan atau novelis best-seller dalam semalam, melainkan sedang menumbuhkan kebiasaan bergaul dengan gagasan dan keberanian menyatakan pikiran.
Menjadi Mercusuar: Kekuatan Teladan yang Menggugah
Semua teori dan semua motivasi akan hambar tanpa satu bumbu utama: teladan. Peserta kelas kepenulisan di tingkat dasar sangat membutuhkan bukti nyata bahwa menulis itu berharga dan bisa mencapai publik. Mereka harus melihat bahwa pembina mereka bukan hanya seorang komentator ulung, melainkan seorang pelaku yang aktif.
Oleh karena itu, ini adalah kewajiban yang tak terhindarkan: kita, sebagai pembina literasi, harus menjadi contoh hidup dari kesuksesan literasi yang kita khotbahkan.
Ketika kita bisa berkata, “Tulisan ini baru saja saya terbitkan di koran A,” atau, “Inilah buku keenam saya yang baru terbit,” aura motivasi yang terpancar jauh lebih kuat daripada seribu kata dorongan belaka.
Publikasi, baik itu berupa buku yang dibukukan, cerpen di koran lokal, atau esai di laman website bereputasi, berfungsi sebagai mercusuar yang meyakinkan para pemula:
- Menulis itu Mungkin.
- Menulis itu Dihargai.
- Menulis adalah Jalan Kehidupan.
Pengalaman personal kita dalam menembus saringan redaksi, dalam menghadapi penolakan, dan dalam merayakan penerbitan, menjadi kurikulum tak tertulis yang paling berharga. Dengan melihat karya-karya kita, para peserta akan termotivasi bukan hanya untuk menulis, tetapi untuk menulis dengan standar yang tinggi—standar yang layak dibaca dan diterbitkan.
Harmoni Kekuatan Mental
Pada akhirnya, pembinaan literasi di tingkat paling bawah adalah pertarungan mental. Pertarungan melawan nihilisme, melawan keputusasaan, dan melawan anggapan bahwa “menulis itu sulit dan hanya untuk orang pintar.”
Kekuatan mental yang paripurna bagi seorang pembina adalah kemampuan untuk tetap tersenyum ketika peserta tidak menghasilkan apa-apa selama berminggu-minggu, kemampuan untuk tetap percaya pada potensi yang belum terlihat, dan kemampuan untuk menjadikan proses sebagai tujuan, bukan hanya hasil.
Ia adalah kekuatan untuk memahami bahwa kita tidak hanya membina penulis, tetapi membina manusia yang punya suara, yang punya daya kritis, dan yang mampu merumuskan realitasnya sendiri.
Di tengah sunyi pondok pesantren, di mana tradisi lisan seringkali lebih dominan, tugas ini adalah upaya suci untuk mengukir keabadian melalui tulisan.
Di setiap goresan pena yang tertatih, di setiap kalimat yang mencoba merangkai makna dari seorang santri yang baru mengenal Chairil Anwar, saya melihat cahaya ketalatenan yang kita tanamkan.
Cahaya itu mungkin redup di awal, tetapi dengan air kesabaran dan pupuk teladan, ia akan menjadi obor yang menerangi peradaban. Sebab, membina literasi adalah menanam pohon kehidupan di akar sunyi, dan buahnya adalah masa depan yang lebih berakal dan bersastra.













