apijiwa.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menggelar “Ruang Riung: Kata, Kota, Kita” dalam rangka 8 tahun berdirinya Bandung Creative Hub pada Selasa, (9/12/2025). Kegiatan yang digelar dalam bentuk pentas musik dan talk show itu dihadiri Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang dalam kesempatan itu menyampaikan perkembangan kreativitas di kota yang kini dipimpinnya.
“Kata, Kota, Kita” dipilih sebagai tema didasari dengan semangat akan lahirnya ruang pertemuan kreatif bagi warga, seniman, komunitas, dan pemangku kebijakan daerah, untuk saling berbagi cerita, gagasan dan harapan tentang masa depan Kota Bandung. Hal ini dirasa perlu karena Kota Bandung adalah gudangnya kreativitas yang tiada batas.
Farhan menegaskan, Kota Bandung banyak melahirkan seniman dan budayawan ternama. Dia pun mengatakan jika kreativitas itu sendiri banyak muncul di kampus-kampus seperti Unpar, Unpas, Unpad, ITB, dan Unisba. Maka menurutnya, sangat dibutuhkan semacam living laboratorium yang bisa melahirkan ide dan gagasan yang kreatif dan bisa dikembangkan di Kota Kembang.
Masih menurut Farhan, Pemerintah Kota Bandung dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung akan mengupayakan ruang tersendiri bagi yang ingin mengembangkan kreativitas tersebut. Juga terbuka menerima dengan aspirasi untuk memajukan kreativitas seni budaya dan ekonomi kreatif.
“Artinya, yuk babarengan gawe untuk mampu mewujudkan hal itu,” kata mantan penyiar radio dan presenter televisi itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, berharap munculnya inovasi dan gagasan kreatif yang lahir dari pertukaran ide pada kegiatan ini, sehingga menghasilkan berbagai catatan yang dapat menjadi arah pengembangan kota.
“Jangan salah, beberapa hari ke depan saya diundang ke Jakarta yang mungkin akan mendapatkan penghargaan tentang kreativitas untuk dunia kuliner khas Kota Bandung,” tegas Adi.
“Sebenarnya yang diajukan ada dua, yaitu batagor dan mie kocok. Namun, yang diberi penghargaan (hanya) mie kocok. Artinya, Kota Bandung memiliki potensi Kreativitas yang harus digali sedemikian rupa agar Kota Bandung semakin dikenal karena banyak lahir kreativitas dalam berbagai bidang,” tegasnya lagi.
Pada sesi gelar wicara (talk show), pakar gastronomi tradisional Sunda, Riadi Darwis, menjelaskan jika gastronomi dipahami secara baik, maka akan dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk kreativitas oleh siapapun. Menurutnya, jika melihat kondisi Kota Bandung saat ini, maka dapat dikembangkan beragam produk khas dalam bentuk ekonomi kreatif, kuliner, dan bidang lainnya.
“Sewaktu saya melakukan riset di Cirebon, saya menemukan tradisi lisan tentang Nyi Murtasiyah dan bagaimana ia menyajikan hidangan di sana. Jika kita jeli, maka itu dapat dikembangkan menjadi kajian ilmiah, dibuat film, dituliskan dalam sebuah buku, atau menghasilkan kreasi baru dalam dunia kuliner,” terang Riadi Darwis.
Dalam acara itu, hadir pula Farah Mauludynna, pemerhati kuliner yang ingin memelihara kuliner khas Kota Bandung agar tidak terdistruck oleh pelbagai jenis makanan luar negeri, khususnya di kalangan Gen-Z. Hadir pula, Faisal Budiman ‘Bob’ dari The Hallway Space yang dipandu Dimasta selaku pembawa acara.
Kegiatan semakin meriah dengan tampilnya tiga musisi Kota Bandung: Platmerah, Panji Sakti, dan Abimanyu Bhakti. Kegiatan juga dimeriahkan pameran dan seni interaktif yang bisa dinikmati sepanjang acara Ruang Riung berlangsung.












