apijiwa.id – Suasana khidmat di musala santri putra Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Utara (PPALU), Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berubah menjadi arena perbincangan literasi yang hangat dan mencerahkan selama dua hari berturut-turut.
Perpustakaan PPALU sukses menggelar hajatan besar bernama “Jurnalistafest 2025” yang berlangsung Senin-Selasa, (8–9/12/2025). Mengusung tema “Santri Berkata, Pena Berkisah, Literasi Bertuah” acara berupaya memantik gairah menulis dan membaca di kalangan santri sekaligus menegaskan kembali peran pesantren sebagai lumbung intelektual dan produsen karya.
Kegiatan yang terbagi dalam sesi kepenulisan fiksi dan nonfiksi ini menjadi momentum refleksi bagi para santri bahwa tradisi literasi adalah mahkota peradaban Islam dan pesantren.
Setiap hari, mulai pukul 15.00 hingga 14.30 WIB di hari berikutnya, musala menjadi saksi bisu lahirnya komitmen-komitmen baru para santri untuk terjun ke medan jihad pena.
Tiga Pilar Sakti ala Ahmad Muhli Junaidi
Sesi pembuka, Senin, (8/12/2025), pemateri pertama, Ahmad Muhli Junaidi, seorang pegiat literasi dan penulis dengan karya-karya fiksi dan nonfiksi yang mendalam. Di hadapan puluhan peserta, ia membongkar rahasia di balik tulisan fiksi yang kuat dan memikat.
Muhli dengan lugas menyampaikan, proses penciptaan fiksi bukanlah hasil sulap, melainkan sebuah ritual yang harus dipenuhi. Ritual itu ia ringkas menjadi tiga pilar sakti yang tak terpisahkan: membaca, menulis, dan konsisten.
“Menulis fiksi itu seperti membangun rumah. Pondasinya adalah Membaca,” tegasnya.
“Tanpa membaca, imajinasi kita miskin, diksi kita terbatas, dan alur cerita kita mudah ditebak. Membaca adalah bahan bakar, ensiklopedia karakter, dan guru tanpa bicara bagi seorang penulis fiksi,” imbuhnya.

Ia menambahkan, membaca bukan sekadar membaca, melainkan membaca dengan kesadaran seorang penulis: menganalisis struktur kalimat, mengamati dialog, dan mempelajari teknik showing, not telling.
Setelah fondasi membaca kokoh, barulah pilar kedua, menulis, wajib dilaksanakan. Pria yang sering mekai nama pena Amjun ini mengkritisi kebiasaan sebagian calon penulis yang terlalu banyak merencanakan tanpa pernah memulai.
“Ide itu ibarat air di telaga. Jika tidak ditimba, dia akan diam dan menguap. Menulislah, meski hanya satu paragraf buruk hari ini. Jangan tunggu sempurna, karena kesempurnaan datang dari proses perbaikan, bukan dari penundaan,” ujarnya.
Pilar penutup, sekaligus yang paling sulit, adalah konsisten. Muhli mengingatkan bahwa banyak penulis hebat tumbang bukan karena kehabisan ide, melainkan karena kehilangan disiplin.
“Konsistensi adalah jembatan antara bakat dan karya yang diakui publik. Jadwalkan waktu menulis Anda. Anggap menulis sebagai salat, yang wajib dilaksanakan, bukan sebagai hobi yang bisa ditunda-tunda,” pesannya.
Menurutnya, konsistensi inilah yang akan membedakan seorang ‘hanya’ penulis fiksi dari seorang ‘seniman’ fiksi.
Salah seorang panitia, Moh. Nuril Abshar menyatakan, materi yang disampaikan seperti kompas bagi santri yang ingin berkarya. Tidak hanya teori, tetapi juga membangun mentalitas seorang penulis
“Kami berharap setelah ini, lahir cerpen-cerpen dan novel-novel yang berbasis dari dinamika kehidupan santri, yang kaya akan nilai dan kearifan lokal,” harapnya.
Kedalaman Pembacaan sebagai Pijakan Opini
Hari kedua, Selasa, (9/12/2025), giliran ranah kepenulisan nonfiksi. Materinya disampaikan Habibullah Salman, seorang penulis esai dan artikel sosial dan keagamaan. Kehadiran Salman menarik perhatian santri yang tertarik pada isu-isu publik, jurnalistik, dan pemikiran kritis.
Dalam makalah yang disebarkan kepada peserta, Salman secara eksplisit menyuarakan sebuah adagium: menulis nonfiksi adalah menuliskan hasil dari perenungan mendalam.
“Menulis opini, esai, atau artikel, bukan sekadar menulis ulang apa yang sudah kita dengar atau baca. Itu hanya transkrip, bukan tulisan berbobot,” ujar Habibullah Salman.
“Sebuah tulisan nonfiksi harus dinilai dari pembacaan yang dalam. Kedalaman ini yang akan membedakan tulisan Anda dengan tulisan di media sosial biasa.”
Habibullah Salman menggarisbawahi pentingnya kesadaran diri saat membaca. Bagi seorang penulis opini, membaca harus menjadi sebuah proses dialog dengan teks. Tanyakan pada diri sendiri: Apa asumsi penulis ini? Apakah datanya valid? Bagaimana saya bisa menghubungkannya dengan konteks lokal pesantren?
“Hadirkan membaca itu dengan kesadaran diri untuk mendapatkan pengetahuan sebagai pijakan dari tulisan yang akan ditulis. Pengetahuan itu bukan hanya data, tetapi juga sudut pandang yang matang,” lanjutnya.
Ia memberikan contoh nyata, untuk menulis sebuah opini tentang pentingnya kurikulum baru di pesantren, seorang santri tidak cukup hanya membaca buku kurikulumnya. Ia harus membaca sosiologi pendidikan, sejarah pesantren, dan bahkan psikologi perkembangan remaja.
“Pembacaan yang dalam ini akan menjadi ‘pijakan’ yang kukuh, membuat argumen menjadi tak terbantahkan dan relevan,” tegasnya.
Semangat Literasi: Mempertegas Peran Santri
Jurnalistafest 2025 secara keseluruhan berhasil menciptakan gelombang antusiasme baru. Kegiatan ini bukan hanya sekadar seminar, melainkan sebuah deklarasi bahwa santri Lubangsa Utara siap untuk tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga memproduksi dan menyebarkannya.
Kepala Perpustakaan PP Annuqayah Daerah Lubangsa Utara, Moh. Fajrul Falah dalam sesi penutup menyatakan, acara ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan perpustakaan untuk memposisikan diri sebagai pusat aktivitas, bukan hanya tempat penyimpanan buku.
“Jurnalistafest ini adalah langkah awal. Kami tidak ingin santri kami hanya menjadi konsumen wacana, kami ingin mereka menjadi produsen wacana. Dengan bimbingan para penulis handal ini, kami yakin, pena santri Lubangsa Utara akan berkisah tentang kearifan dan kemajuan,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya Jurnalistafest 2025, Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Utara telah menanamkan bibit-bibit penulis baru. Diharapkan, dalam beberapa tahun ke depan, karya-karya fiksi yang menceritakan dinamika pondok dan artikel-artikel opini yang bernas dari santri, akan menghiasi khazanah literasi nasional, menggenapi tema besar: santri berkata, pena berkisah, dan literasi bertuah.













