Advertisement

apijiwa.id– Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti agenda bertajuk “Blusukan Cagar Budaya sekaligus Halalbihalal” yang digelar oleh Komunitas Dewa Siwa pada Minggu (12/4/2026). Memanfaatkan momentum pasca-Lebaran, komunitas pecinta situs ini mengemas napak tilas sejarah melalui aksi jelajah di dua lokasi ikonik: Petirtaan Senjoyo, Salatiga, dan Candi Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.

Kegiatan dimulai sejak pagi hari di kawasan Petirtaan Senjoyo. Lebih dari 20 peserta tampak antusias menikmati kejernihan mata air yang sarat akan nilai historis peninggalan masa Mataram Kuno. Selain menyegarkan pikiran, momen ini menjadi ruang bagi para anggota untuk saling bertegur sapa dan mempererat tali silaturahmi.

Dalam sesi pembukaan, Bambang, perwakilan Komunitas Dewa Siwa, memaparkan ulasan mendalam mengenai sejarah Senjoyo. Ia menjelaskan bahwa pada era Hindu-Buddha, lokasi ini merupakan petirtaan suci. Muncul dugaan kuat bahwa dahulu pernah berdiri sebuah struktur candi besar di kawasan tersebut.

Usai berdiskusi di Senjoyo, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Candi Klero di Kecamatan Tengaran. Sesampainya di lokasi, pegiat cagar budaya, Nur Hayati, memberikan edukasi mengenai latar belakang situs unik tersebut. Dengan gaya bahasa yang lugas, ia menguraikan kronik pembangunan serta keunikan arsitektur Candi Klero yang berbeda dari candi-candi lainnya.

Penjelasan tersebut berhasil membawa imajinasi peserta kembali ke masa kejayaan kerajaan di tanah Jawa. Nur Hayati menekankan bahwa Candi Klero bukan sekadar tumpukan batu, melainkan saksi bisu dari sebuah peradaban besar yang pernah berjaya di wilayah ini.

Agenda “blusukan” di tengah situs klasik ini ditutup dengan kesan mendalam. Di bawah keteduhan pepohonan sekitar candi, para peserta terlihat tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga akhir.

Melalui kegiatan rutin ini, Komunitas Dewa Siwa berharap minat masyarakat luas, khususnya generasi muda, terhadap sejarah lokal dapat terus tumbuh. Dengan mengenal akar sejarahnya, diharapkan muncul rasa memiliki yang kuat untuk menjaga dan melestarikan kekayaan arkeologis di Jawa Tengah agar tetap lestari melintasi zaman.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.