Advertisement

apijiwa.id – Tidak ada proses kreatif yang lahir tiba-tiba, sebagaimana tidak ada mata air yang menyembul tanpa terlebih dahulu menyimpan hujan berpuluh musim. Setiap penulis, bagaimana pun jejaknya, membawa riwayat panjang: perjumpaan, luka, kejutan, suara-suara samar yang direkam diam-diam oleh batin.

Saya percaya, setiap kata yang lahir dari tangan saya hari ini, sesungguhnya adalah gema dari masa kecil saya—sebuah masa kecil yang tidak pernah sepi dari bisikan buku.

Sejak kecil, saya hidup dalam radius yang tak bisa jauh dari huruf. Rak-rak di rumah paman saya, seorang lulusan PGA, berdiri bukan sekadar sebagai perabot, tetapi sebagai hutan rimbun tempat saya menjelajah.

Di sana saya bertemu dengan bahasa, dengan kisah para nabi, dongeng anak negeri, sejarah yang penuh riak, dan petuah yang tak habis ditafsir. Semuanya membentuk semacam kerajaan sunyi dalam batin saya, sebuah kerajaan yang kelak akan menjadi sumber cahaya dalam setiap proses kreatif saya.

Di hari-hari itu, saya tidak sadar bahwa diri saya sedang dibentuk. Seperti seorang pengembara kecil, saya hanya merasa senang ketika membuka halaman, merasakan aroma buku yang usang, dan menemukan dunia yang lebih luas dari batas kampung saya.

Namun justru di situlah akar pertama proses kreatif saya ditanamkan—akar yang merambat jauh bahkan ketika usia menua dan rambut memutih oleh perjalanan waktu.

Perigi Kedua dari Mata Air Kreatif

Kemudian hari, nasib membawa saya ke pesantren: Pondok Pesantren Annuqayah, Daerah Lubangsa Utara. Di sana, membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi etika, disiplin, dan napas kehidupan.

Tradisi ilmu begitu kental, dan pesan-pesan kiai selalu mengingatkan: bahwa membaca adalah jembatan antara gelap dan terang, antara kebodohan dan kebijaksanaan, antara kebisuan dan keberanian untuk bersuara.

Di pesantren, saya menemukan kenyataan lain: bahwa membaca tidak melulu tentang buku. Membaca adalah kerja mata batin. Membaca gerak angin yang membelai pohon. Membaca perubahan cuaca di atas bukit.

Membaca wajah kawan yang diam tapi menyimpan ribuan cerita. Membaca perilaku manusia, politik negeri, arah sejarah yang kadang berbelok tiba-tiba. Semua itu menajamkan rasa dan kecerdasan emosional, dan pada akhirnya menata struktur batin penulis.

Saya sering duduk di serambi masjid ketika malam sudah hampir habis, membaca apa pun yang saya temukan: koran lama, kitab kuning, majalah yang mulai sobek, buku-buku ilmiah yang menjadi rebutan santri.

Dari situlah saya mengerti bahwa tulisan bukan hanya rangkaian kalimat yang manis, tetapi hasil pergulatan panjang antara dunia dalam diri dan dunia di luar diri.

Proses kreatif saya, tanpa saya sadari, mengalir seperti air yang mencari jalannya sendiri. Kadang bening, kadang keruh, kadang deras, kadang hampir kering. Namun dalam riwayatnya, ia tidak pernah benar-benar berhenti.

Ritual yang Tak Pernah Patah

Ada yang bilang, menulis adalah kerja menumpahkan. Tetapi bagi saya, menulis adalah kerja menampung. Dan untuk bisa menampung, saya harus terus memperluas wadah dalam diri saya—yang hanya bisa dilakukan dengan membaca.

Tidak ada hari tanpa membaca, sejak masa muda hingga kini, di usia yang kian menyusut oleh waktu. Ada kewajiban batin yang membimbing tangan saya untuk membuka halaman koran, menelusuri majalah, mendedah kitab, menyusuri renungan, bahkan memaknai fenomena alam.

Semuanya saya baca dengan kesadaran bahwa membaca adalah bentuk ibadah.

Dari membaca yang intens inilah saya semakin mengerti bahwa kata-kata bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Kata-kata harus dipelihara. Mereka datang untuk mereka yang membuka pintu batinnya, bukan semata-mata untuk mereka yang memegang pena.

Buku “Celoteh Saya, Bukan Sekadar Kisah” yang saya tulis bukanlah sekadar kumpulan cerita. Ia adalah semacam ziarah ke masa lalu, ke ruang batin tempat proses kreatif saya mula-mula tumbuh sebagai benih kecil yang rapuh.

Di dalamnya, saya menuliskan bahwa kemampuan saya menulis tidak pernah lahir dari kursus atau nasihat motivator, melainkan dari kebiasaan membaca yang tidak pernah saya tinggalkan. Dari dialog panjang antara saya dan buku-buku yang menjadi sahabat sunyi saya.

Ketika Menulis Menjadi Nafas Kedua

Seiring perjalanan waktu, saya sadar bahwa menulis bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi kebutuhan eksistensial. Ada malam-malam ketika saya merasa gelisah dan hanya dengan menulis, saya menemukan ketenangan.

Ada hari-hari ketika pengalaman hidup terasa menyesakkan, lalu saya menulis untuk meredakan beban.

Menulis bagi saya telah menjadi semacam napas kedua. Jika napas pertama menjaga tubuh tetap hidup, maka menulis menjaga jiwa tetap waras. Inilah sebabnya saya tidak pernah benar-benar bisa berhenti menulis.

Bahkan ketika lelah, ketika usia menua, atau ketika waktu begitu sempit, batin saya selalu mendorong: tulislah, walau satu kalimat. Tulislah, walau hanya satu ide kecil. Tulislah, sebab di situlah engkau mengenali dirimu.

Dari kebiasaan personal inilah, saya akhirnya menjadi pembina kelas kepenulisan dan komunitas literasi di Annuqayah. Bimbingan ini bukan sekadar tugas sosial atau amanah organisasi; ia adalah bentuk syukur saya pada perjalanan panjang yang telah membawa saya ke titik ini.

Jika dulu kata-kata datang kepada saya sebagai tamu, maka kini saya ingin membantu generasi muda membuka pintu mereka agar tamu yang sama menghampiri mereka.

Sebuah Perjalanan dalam Sunyi

Orang sering mengira proses kreatif adalah proses yang riuh: ide yang meletup-letup, inspirasi yang datang bagai petir. Padahal tidak. Justru dalam kesunyian proses kreatif menemukan bentuknya yang paling jernih.

Proses kreatif saya bekerja seperti ini:

  • Ia bermula dari membaca.
  • Kemudian mengendap sebagai renungan.
  • Lalu muncul sebagai kegelisahan.
  • Dan kegelisahan itulah yang akhirnya menuntut kata-kata.

Menulis bukanlah hanya soal kemampuan menyusun kalimat. Menulis adalah kerja menyusun makna. Dan makna lahir dari permenungan—sebuah permenungan yang sabar, tekun, dan jujur dengan diri sendiri.

Oleh karena itu, setiap tulisan yang saya hasilkan sebenarnya adalah refleksi dari apa yang saya baca, saya alami, saya lihat, dan saya rasakan. Saya selalu percaya bahwa menulis adalah seni memindahkan keheningan menjadi tanda-tanda.

Dalam setiap tulisan saya, selalu ada jejak sunyi di dalamnya, jejak malam-malam yang saya habiskan di bawah cahaya temaram lampu pesantren, jejak masa kecil saya yang dipenuhi buku, jejak perjalanan saya sebagai santri yang haus ilmu, dan jejak saya sebagai guru yang ingin merawat tradisi membaca dan menulis di lingkungan Annuqayah.

Menjadi Tua Bersama Kata-Kata

Kini, di usia yang tidak lagi muda, saya tetap merasa bahwa menulis adalah jalan panjang yang tidak pernah selesai. Bahkan mungkin sampai hari tua saya benar-benar menjemput batas, saya akan terus membaca dan menulis.

Sebab di situlah saya merasa hidup. Di situlah saya menemukan cara paling jujur untuk merekam perjalanan. Menjadi tua tidak membuat api kreatif saya redup. Justru sebaliknya, ia membuat saya lebih peka, lebih sabar, dan lebih memahami nilai sebuah kata.

Menulis di usia senja memberi saya kesempatan untuk menata kembali perjalanan hidup: mana yang perlu disyukuri, mana yang perlu direnungi, mana yang menjadi pelajaran.

Kadang saya berpikir, jika suatu hari nanti saya tidak lagi mampu menulis karena tangan saya melemah, maka biarlah saya tetap membaca. Sebab membaca adalah pintu tempat kata-kata keluar masuk. Dan jika saya tidak bisa memegang pena, biarlah kata-kata tetap hidup di dada saya.

Proses Kreatif sebagai Anugerah

Pada akhirnya, proses kreatif saya adalah anugerah. Ia lahir dari pertemuan antara takdir dan pilihan. Takdir membawa saya ke rumah yang penuh buku, ke pesantren yang mencintai ilmu, ke lingkungan yang menghargai bacaan.

Pilihan saya adalah menerima itu semua dengan sungguh-sungguh, merawatnya, dan menjadikannya jalan pengabdian.

Saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan kecil saya, bersama buku dan tulisan, akan mengantarkan saya menjadi pembina komunitas literasi. Tetapi begitulah jalan hidup: ia mengantar kita ke tempat yang tak pernah kita rencanakan, namun telah lama dipersiapkan oleh takdir.

Proses kreatif saya adalah mata air sunyi yang terus mengalir. Selama saya masih bisa membaca, selama saya masih bisa merenung, selama saya masih bisa mencintai kehidupan, selama itu pula saya akan terus menulis.

Dan semoga, di antara kata-kata yang saya tinggalkan, ada jejak kecil yang dapat menerangi jalan orang lain.

Facebook Comments Box

Penulis: Ahmad Muhli JunaidiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.