apijiwa.id – Bertempat di Gedung Gasblock, Jalan Braga, Kota Bandung, (7/12/2025) digelar Pasar Sapasir—Festival Archipelagic Moringa 2025, sebuah acara yang memfokuskan pada dunia tumbuhan kelor dilihat dari berbagai aspek pengembangannya, baik untuk kuliner maupun kesehatan. Dalam acara tersebut, digelar diskusi, penampilan produk berbahan daun kelor, serta seluk beluk tumbuhan kelor.
Acara diikuti masyarakat peternak sapi susu dan pekebun dari Pasir Ipis, Jayagiri Lembang, Bandung Barat; pembudidaya pengolah dan pemasar Kelor (Moringa Oleifera Lam); pengemas hampers; pendaur limbah; pemerintah daerah dan pusat; akademisi dan peneliti; mahasiswa; dan komunitas; serta media.
Pemrakarsa Pasar Sapasir, Chaedar Saleh Reksagelora menyatakan, para peserta terhubung melalui Kelor (Moringa Oleifera Lam) sebagai komoditas perkebunan bernutrisi tinggi yang ditawarkan untuk mendapatkan kesehatan, menyarankan cara berbudidaya, pengolahan, penyajian, hingga pemasaran yang lebih baik.
“Prinsip yang patut diterapkan pada komoditas perkebunan lainnya, acara ini menyediakan wadah untuk saling terhubung. Sehingga satu dan lainnya dapat bersinergi, sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya kepada Apijiwa.id.

Acara yang digelar pagi hingga sore hari itu, menghadirkan sejumlah pengisi di antaranya Susilowati dari Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) bersama 28 Startup Pangan Kelor (Moringa Oleifera Lam); Ronnie Susman Natawidjaja dari prodi Agribisni Iniversitas Padjadjaran (UNPAD) dan pendiri Kelembagaan Profesional Lelang Jual Beli (KPLJB); Riadi Darwis, penulis buku serial gastronomi tradisional Sunda dan dosen Politeknik Pariwisata NHI; dan Dewi Turgarini dari prodi Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, serta Sidi Rana Menggala, Ketua Umum Asosiasi Beyond Moringa Indonesia (ABMI).
Lebih lanjut Chaedar menjelaskan, pihaknya juga menggandeng kalangan mahasiswa, yaitu dari Prodi Kesehatan Masyarakat UNJANI melalui pembelajarannya yang mempraktikkan kreasi produk pangan untuk kesehatan masyarakat.
“Acara Pasar Sapasir bermanfaat memberi ajang uji kenal dan pengayaan mutu bagi startup para mahasiswa. Contoh produk ditampilkan dan dipresentasikan, juga dipertemuan dengan praktisi pangan sebagai pengayaan materi, serta dipertemukan dengan umum sebagai uji kenal kepada konsumen,” terang pria yang aktif juga di Asosiasi Beyond Moringa Indonesia (ABMI).
Kegiatan Pasar Sapasir–Festival Archipelagic Moringa 2025 diperkenalkan ke masyarakat luas dengan pesan bahwa pangan harus dikelola dalam kebersamaan untuk menjaga keberlangsungannya. Empat lini, meliputi: budidaya, pengolahan, penyajian, dan pendauran limbahnya, adalah peran yang tidak terpisahkan.
Chaedar sendiri menegaskan, kelor diprioritaskan atau di-hightlight pada even ini mengingat tumbuhan ini merupakan komoditas perkebunan yang para pelakunya telah mempraktikkan keempat lini dan telah terlihat hasilnya.
Even Pasar Sapasir diinisiasi oleh PT. Sapasir dengan dukungan dari banyak lembaga, baik swasta maupun pemerintah, di antaranya Padepokan Pasir Ipis, ABMI, Yayasan Negeri Rempah, UPI, UNJANI, Poltekpar NHI, KPLJB, Ikatan Alumni SMAN 5 Bandung, Pemda Kotamadya Cimahi, Pemda Kabupaten Bandung Barat, Pemda Kotamadya Bandung, Pemda Propinsi Jawa Barat, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perindustrian, dan banyak lagi.
Dengan terlaksananya even ini, diharapkan masyarakat bisa memahami ikhwal tumbuhan kelor sebagai bahan pembuatan produk kuliner dan kesehatan. “Semoga masyarakat semakin teredukasi tentang tanaman kelor ini, yang ternyata bisa digunakan untuk produk kuliner dan kesehatan,” pungkasnya.












