apijiwa.id – Dr. Dewi Turgarini, S.S. MM.Par, bagi yang menggeluti dunia wisata gastronomi, khususnya di Tatar Pasundan, namanya sudah cukup dikenal. Bukan saja sebagai seorang akademisi, tetapi juga sebagai sosok perempuan pejuang pengembangan dunia wisata gastronomi tradisional Sunda. Ibu Dewi, demikian ia akrab disapa, sangat antusias jika diajak ngobrol tentang gastronomi, khususnya yang berada di provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, negeri ini memiliki kekayaan (potensi) wisata gastronomi yang luar biasa, namun belum banyak yang dikembangkan. Bila kita mengunjungi desa atau kota, kita akan menjumpai makanan-makanan khas, otentik, dan langka, yang usianya lebih dari 50 tahun sebagai warisan budaya.
Hingga kini, belum banyak yang mengembangkan potensi wisata gastronomi sebagai daya tarik wisata yang bisa menghasilkan cuan bagi para pelestarinya. Padahal sebetulnya, potensi itu bisa di-create dan menghasilkan experience lebih.
“Gastronomi sendiri berdasarkan pengalaman saya sebagai akademisi dan pelaku usaha perjalanan wisata gastronomi, sangat menarik mengetahui sejarah dan filosofi yang dapat dilihat dari proses budayanya yang luar biasa, yang bisa diberikan kepada generasi muda kita sendiri, bahkan kepada para wisatawan,” jelas dosen Universitas Pendidikan Indoinesia (UPI) Bandung, yang lahir di Bandung, 20 Maret 1970.
Ketahanan Pangan
Dewi membagi kuliner ke dalam dua kategori: Pertama; kuliner tradisional yang diwariskan turun-temurun dan tidak ada perubahan pada aspek technofact-nya, dan kedua; kuliner lokal sebagai makanan hasil akulturasi budaya. Di Bandung, sejumlah kuliner berasal dari akulturasi buadaya Tionghoa, Islam, dan Belanda.
Menurutnya, yang terpenting untuk upaya ketahanan pangan adalah bahan bakunya yang harus bahan lokal yang endogen, serta ditanam di sekitar. Menanam bahan baku makanan dengan teknik permakultur akan menjadi ketahanan pangan setiap wilayah. Bukan hanya melestarikan budaya dan bahan bakunya, tapi sekaligus juga bisa memitigasikan bencana.
“Jadi sangat luar biasa apabila kita bisa mengembangkan wisata gastronomi secara berkelanjutan,” ungkap penulis dan editor sejumlah buku terkait gastronomi yang telah terbit.
Dewi menjelaskan, manfaat edukasi yang diwariskan nenek moyang sangat luar biasa. Hal ini merupakan nilai-nilai yang bisa dipelajari dan memberikan pengalaman yang tidak terlupakan atau yang disebut sebagai memori kolektif.
Bahkan sampai rentang waktu 50 tahun pun, manusia akan mengingat rasa yang dinikmati pada saat proses kehidupannya. Ini menjadi atraksi dan story telling yang menarik bagi wisatawan, bahkan bagi masyarakat lokal sendiri.
Menurutnya, nenek moyang kita sudah membuat makanan yang berbasis bahan baku lokal, yang sesuai dengan fisiologis kita dan memiliki manfaat kesehatan yang sesuai dengan kultur kita. “Contohnya, kita memang tidak cocok makan dengan gluten. Kita cocoknya dengan umbi-umbian,” terangnya.
“Dari faktor cara menikmati makanan, secara kultur kita punya aturan dan etika. Saat menanam tanaman ada doanya. Saat mengolah dan memanen ada doanya. Apalagi saat menikmati,” tambah perempuan yang tinggal di Kabupaten Bandung Barat.
Wisata Gastronomi
Bagi Dewi, urusan makan di Indonesia itu sangat luar biasa. Makan itu bukan asal makan. Ada 9 komponen gastronomi, sejak proses memasak, bahan baku, mencicipi, menghidangkan, meneliti, pengalaman, pengetahuan gizi, filosofi dan sejarah, serta etika dan etiket, yang sangat komprehensif.
“Ini yang membuat saya mencintai bidang ini, karena apa yang saya lihat, rasakan, dan praktekkan, wisata gastronomi ini sangat komprehensif. (Melalui sarana ini) sangat bisa melestarikan warisan budaya gastronomi, ya melestarikan budaya gastronominya, juga mensejahterakan masyarakat, kemudian bisa dijual sebagai atraksi wisata,” tambahnya lagi.
Dewi menegaskan, media yang sangat efektif mengenalkan dunia wisata gastronomi adalah dari mulut ke mulut. Selain itu juga melalui sejumlah aplikasi media sosial, seperti YouTube. Tapi, buru-buru Dewi menambahkan, yang paling penting justru jangan lupa ke akarnya. Bagaimana keluarga batih juga musti (dibiasakan) melestarikan ini, karena pelestarian wisata gastronomi itu kan harus direncanakan prosesnya, termasuk mengajarkan kepada anak.
“Kan ada jenis-jenis makanan yang waktu penyajiannya tergantung musim, juga ada yang hanya bisa disajikan pada saat tertentu,” jelas perempuan yang pernah meraih penghargaan sebagai Pelestari Kuliner Tradisional dari Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat.
Di Jawa Barat sendiri, menurut Dewi, memiliki potensi wisata gastronomi yang sangat luar biasa. Satu desa saja, menurutnya, banyak yang memiliki keunikan yang bisa dikembangkan sebagai atraksi wisata. “Satu desa dengan desa yang lain itu berbeda,” tegasnya.

Karena itulah, Dewi bersama rekan-rekannya menulis buku berjudul Mandala Rasa, Profil Wisata Gastronomi di Provinsi Jawa Barat yang diterbitkan oleh penerbit Referensi Cendekia pada tahun 2025 ini.
Kerja Sama
Menurut Dewi, wisata gastronomi bisa terealisasi apabila ada 9 pihak yang bekerja sama. Pariwisata gastronomi tidak bisa bekerja, tidak bisa dijual, dan tidak bisa menjadi daya tarik apabila tidak ada kerja sama antarsektor, di antaranya yang paling penting adalah pelaku usahanya atau pembuat makanannya.
Para produsen itu harus terus membuat dan resepnya diperoleh secara turun-temurun. Kemudian juga harus ada kerja sama dengan para akademisi, pekerja, pemasok, dan para NGO pelaku usaha perjalanan wisata, pemandu wisata, komunitas, karang taruna setempat, kelompok sadar wisata, dan BUMDES, serta harus ada support dari pemerintah di berbagai level.
Wisata gastronomi muncul di daerah yang potensinya sudah dilestarikan dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Dari situ, para akademisi musti didekatkan karena mereka memiliki hasil-hasil riset tentang best practice yang bisa men-support model percontohan yang bisa diadaptasi.
Pemerhati budaya juga menjadi bagian penting dalam memberikan pengamatan terhadap proses pewarisan budaya dan pengembangan atraksi wisatanya. Seterusnya yang tak kalah penting adalah teknologi informasi. Penguasaan teknologi informasi harus mengikuti perkembangan zaman, sehingga menjangkau lintas segmen pengunjung.
Pengunjung wisata juga harus mendapatkan referensi yang memadai, agar mereka tertarik untuk berkunjung, sehingga mereka bisa jauh-jauh hari mempersiapkan kunjungan, termasuk menyiapkan aspek finansial.
“Jadi ada 9 stakeholder yang harus dilibatkan,” tegasnya.
Sebagai seorang akademisi, Dewi menjelaskan ada beberapa mata kuliah yang diampunya, di antaranya Pengantar Ilmu Gastronomi, Food dan Gastronomi Tourism, Digitalisasi Gastronomi, Gastronomi Nusantara, serta Seminar Kewirausahaan Gastronomi.
Saat ini, Dewi sedang merancang pembelajaran itu dengan project base agar mereka paham secara teori dan juga mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu itu sebagai sebuah usaha yang bisa dikembangkan pada ranah wisata gastronomi.
“Dan alhamdulilah ya, saat ini sudah banyak mahasiswa yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan wisata gastronomi, mengembangkan usaha-usaha perjalanan wisata gastronomi, bahkan sudah ada lulus 5 doktor gastronomi di bawah bimbingan saya,” tutur peraih Kontributor Berprestasi UPI (2016).
Desa Binaan
Dalam hal pengembangan wisata gastronomi, Dewi mempunyai sejumlah desa binaan dengan mitra, di antaranya Desa Wisata Hanjeli di Sukabumi yang telah mendapat sejumlah penghargaan, di antaranya Responsible Tourism Award Asia Tenggara 2024 atau RTASEA 2024 Award Ceremony.

Sebagai seorang akademisi, Dewi merespons apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, misalnya kelompok UMKM. Ia sendiri punya komunitas UMKM yang menjadi mitra. Mereka menyampaikan kebutuhannya, lalu dibuatkan even.
Dewi memfasilitasi mereka sesuai kemampuannya sebagai seorang akademisi. “Saat ini banyak sekali desa-desa wisata yang menghubungi saya, baik melalui jalur digital maupun langsung bertemu dengan tujuan minta dibantu. Yang kemarin ada Kampung Desa Pasir Ipis yang merupakan desa binaan kami sejak tahun 2023, kemudian Desa Cisambeng, Majalengka. Ada banyak sekali kajian-kajian yang jumlahnya ada ratusan terkait pengembangan di berbagai kawasan,” jelasnya.
Untuk level kota, Dewi turut membina Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dalam pengembangan wisata gastronomi tour on Bandros. Dewi menjadi dewan kehormatan pada organisasi ini sejak tahun 2021. “Sudah meluncurkan buku 30 paket wisata yang bisa dikembangkan di Kota Bandung. Aktivasinya, kami me-launching yang namanya (wisata) gastronomi,” jelasnya lagi.
Kendala dalam pelaksanaan wisata gastronomi sendiri, menurut Dewi, (di antaranya) adalah soal networking. “Bagi destinasi tertentu, sangat membutuhkan kerjasama lintas sektor yang memang menantang dalam proses membangunnya, dalam men-create paket wisata yang bisa sesuai dengan mereka dan kemudian kita menjual ke market-market kita,” jelas Dewi lagi.
Sejauh ini pihak-pihak yang telah menjalin kerja sama dengannya adalah Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Jawa Barat, Dinas Pariwisata Kota Bandung, komunitas UMKM, desa-desa wisata, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), pemandu geowisata, Asosiasi Tour and Travel Indonesia (ASITA), dan juga beberapa komunitas yang secara personal minta bantuan.
“Minimal 5 tahun kita bekerja sama hingga hari ini dan saya sendiri sudah terjun ke dunia industri sejak tahun 2014. Jadi, network-nya sudah menjadi seperti keluarga besar. Kalau kita melaksanakan kegiatan, kita sudah punya partner (jejaring) di seluruh Indonesia,” imbuhnya.
Agenda 2026
Terkait agenda dunia gastronomi tahun 2026, Dewi menyatakan memang sudah mengembangkan perencanaan desa wisata gastronomi. Juga akan dipublikasikan dalam bentuk buku pada tahun mendatang.
“Mudah-mudahan ini bisa membantu desa-desa yang mulai mengembangkan wisata gastronominya, karena membangun infrastruktur yang besar itu tidak harus berbasis semua potensi yang ada,” tandasnya.
Sejak tahun 2007, Dewi mendapatkan kebahagiaan dan oprimisme untuk terus mengembangkan ilmu ini. Juga, karena jalinan silaturahmi dengan para mitra berjalan dengan baik. Tumbuh kepercayaan dan saling mendukung. Sekarang, para mahasiswa program doktor juga turut mengembangkan industri wisata gastronomi.
Dewi merasa tidak akan bekerja sendiri, karena telah memiliki support secara akademik, yaitu para mahasiswa yang telah bergelar Doktor.
“Kami memiliki langkah lebih besar untuk mengembangkan wisata gastronomi di Indonesia. Harapan saya, di level keluarga jangan lupa mengajarkan makanan khas masing-masing di daerahnya, dan itu harus diajarkan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita nanti, kemudian itu menjadi aset keterampilan dari kearifan lokal yang bisa dijual, bisa menjadi atraksi ke mana pun anak kita berada, dan mereka bisa berdaya dengan kemampuan mereka memahami warisan budaya gastronomi mereka,” tegasnya sebagai pamungkas.












