Advertisement

apijiwa.id – Bagi para penikmat kuliner Indonesia, nama Bondan Winarno dan jargon ikoniknya, “Pokok’e maknyus”, adalah sebuah kenangan yang tak lekang oleh waktu. Sosoknya di layar kaca telah menginspirasi banyak orang untuk menjelajahi kekayaan rasa Nusantara.

Namun, dedikasinya yang lebih dalam berakar pada komunitas yang ia bangun; pada tahun 2003, ia mendirikan Komunitas Jalan Sutra (KJS), sebuah kolektif para pencinta boga yang menjadi motor penggerak di balik seri buku monumentalnya. Tulisan ini akan mengungkap sejumlah fakta menyentuh dari buku-buku seri mak nyus karyanya, yang membuktikan bahwa warisannya jauh melampaui satu kata saktinya.

Penghargaan Kelas Dunia: Saat ‘Maknyus’ Diakui Kancah Internasional

Banyak yang mungkin tidak menyadari bahwa pengaruh Bondan Winarno menembus batas negara. Buku pertama dalam serinya, 100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia, bukan hanya sukses di dalam negeri, tetapi juga meraih pengakuan di panggung dunia.

Buku ini secara spesifik memenangkan dua penghargaan internasional bergengsi: “Best in the World” dari Gourmand World Cookbook Award pada tahun 2013, dan puncaknya adalah penghargaan “Best of the Bests” di Frankfurt Book Fair pada tahun 2015.

Pengakuan ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya peran Bondan dalam mengangkat status dan martabat kuliner tradisional Indonesia agar setara dengan masakan kelas dunia lainnya. Menurutnya, masakan Indonesia termasuk kategori dangerously delicious yang kelezatannya sering membuat kita semua terlena.

5 buku seri 100 Mak Nyus warisan Bondan Wionarno. (Apijiwa.id/Badiatul Muchlisin Asti).

Pembela Kuliner Terpinggirkan: Perjuangan untuk Masakan Betawi

Melalui buku 100 Mak Nyus Jakarta, yang ia tulis bersama koleganya Lidia Tanod dan Harry Nazarudin, Bondan Winarno mengambil peran sebagai seorang pembela. Ia menyoroti sebuah ironi di ibu kota, yang ia sebut sebagai “salad bowl” budaya, di mana masakan khas Betawi justru semakin terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri.

Bondan menyuarakan keprihatinannya bahwa tidak ada satu pun restoran besar atau menu fine dining yang secara serius menjadikan masakan Betawi sebagai fokus utamanya. Bagi Bondan, tidak boleh ada istilah “faded glory” untuk kuliner Betawi.

Buku ini adalah upayanya yang tulus untuk membalikkan nasib masakan asli Jakarta dan membuktikan bahwa keunggulannya layak mendapat tempat terhormat.

Mematahkan Stereotip: Kekayaan Kuliner Bali yang Ternyata Ramah Muslim

Buku 100 Mak Nyus Bali, yang juga ditulis oleh trio Bondan Winarno, Lidia Tanod, dan Harry Nazarudin, menghadirkan sebuah temuan yang sangat penting dan mencerahkan. Lewat riset mendalam, buku ini secara efektif membantah stereotip umum yang menyebutkan bahwa mayoritas kuliner Bali bersifat haram bagi umat Muslim.

Fakta yang diungkap justru sebaliknya: “persentase jumlah masakan Bali yang tidak mengandung babi maupun darah ternyata jauh lebih banyak.” Temuan ini tidak hanya memperkaya wawasan kita tentang keragaman kuliner Pulau Dewata, tetapi juga berfungsi sebagai panduan yang sangat bermanfaat bagi wisatawan Muslim, memungkinkan mereka untuk menjelajahi kekayaan rasa Bali tanpa rasa khawatir.

Di Balik 100 Pilihan: Proses Kurasi yang Penuh Air Mata

Proses di balik layar penulisan buku pertama, 100 Mak Nyus Makanan Tradisional Indonesia, ternyata menyimpan sisi emosional yang mendalam. Memilih hanya 100 kuliner dari ribuan pilihan yang tersebar di seluruh Nusantara adalah tugas yang luar biasa sulit bagi Bondan.

Bondan Winarno sendiri secara tersirat maupun tersurat menggambarkan proses kurasi ini sebagai momen yang “ekspresif, agak dramatis, sedikit melankolis, dan berlinang air mata”. Begitu beratnya pilihan tersebut, Bondan bahkan terpaksa harus menyingkirkan beberapa kuliner favorit pribadinya dari daftar akhir. Hal ini menunjukkan betapa serius dan personal proyek ini baginya, yang ia anggap sebagai pertaruhan reputasinya sebagai seorang pakar kuliner.

Persembahan Terakhir: Semangat yang Tak Padam hingga Akhir Hayat

Kisah di balik buku kelima dan terakhir, 100 Mak Nyus Jalur Mudik, adalah bukti semangat Bondan Winarno yang tak pernah padam. Buku ini adalah persembahan terakhirnya, yang ia kerjakan saat sedang berjuang melawan sakit keras.

Bahkan saat terbaring di rumah sakit sebelum wafat pada 29 November 2017, ia tetap menunjukkan semangat yang tinggi untuk melanjutkan proyek buku tersebut. Setelah kepergiannya, timnya, Lidia Tanod dan Harry Nazarudin, memutuskan untuk menuntaskan proyek ini sebagai sebuah tribute untuk menghormati jasa-jasanya. Buku ini pun akhirnya berhasil terbit, menjadi warisan abadi dari dedikasinya yang luar biasa bagi dunia kuliner Indonesia.

Pada akhirnya, warisan Bondan Winarno jauh melampaui jargon “mak nyus”-nya. Melalui seri bukunya, ia menjelma menjadi seorang pejuang, kurator, sekaligus pendongeng kuliner yang berdedikasi. Buku-buku ini bukan sekadar panduan makan, melainkan sebuah undangan untuk melanjutkan misinya: mencintai dan melestarikan kekayaan kuliner Indonesia.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.