apijiwa.id – Suasana khidmat menyelimuti aula Madrasah Aliyah (MA) 2 Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep, pada Sabtu pagi, (27/12/ 2025). Puluhan pasang mata menjadi saksi pengukuhan dan pelantikan pengurus Ikatan Alumni Madrasah Aliyah 2 Annuqayah (IKAMADA) masa bakti 2025-2028.
Acara tidak sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan konsolidasi besar mewujudkan cita-cita besar pesantren: menjadikan MA 2 Annuqayah sebagai pusat keunggulan intelektual dan spiritual di Madura dan Indonesia.
Prosesi pelantikan dipimpin langsung Ketua Yayasan Annuqayah KH. Abadi Ishomuddin, MA. Di hadapan deretan pengurus baru, kiai yang dikenal visioner ini membacakan naskah pelantikan yang diikuti seluruh jajaran pengurus IKAMADA.
Ada empat poin utama dalam ikrar yang diucapkan, yang menjadi landasan etik bagi para alumni dalam bergerak:
– Komitmen Akidah: Berpegang teguh pada prinsip Islam Ahlusunnah wal Jama’ah.
– Amaliyah: Selalu mengamalkan nilai-nilai dan tradisi ma’ruf yang menjadi ciri khas Annuqayah.
– Integritas: Menjaga nama baik almamater di mana pun mereka berada.
– Loyalitas Visi: Mendukung penuh visi dan misi besar yang dicanangkan oleh Pondok Pesantren Annuqayah.
Setelah ikrar diucapkan, suasana aula terasa semakin sakral, menandai dimulainya babak baru bagi organisasi alumni yang baru terbentuk untuk berkontribusi nyata bagi madrasah.
Target unggulan dan pusat saintis
Dalam sambutannya KH. Abadi Ishomuddin memberikan arahan strategis yang sangat tajam. Ia menekankan bahwa peran alumni adalah kunci vital untuk mendongkrak status MA 2 Annuqayah menjadi “Sekolah Unggulan”.
Ia membedah indikator keunggulan tersebut ke dalam tiga pilar utama: keunggulan intelektual, kemampuan berpikir kritis dan penguasaan sains; keunggulan spiritual: kedalaman hubungan dengan Sang Pencipta. Serta keunggulan akhlaqulkarimah, karakter mulia yang menjadi identitas santri.
“MA 2 Annuqayah harus menjadi pusat saintis dan pusat entrepreneur yang mumpuni. Indikasinya sederhana namun terukur, yaitu jika alumni kita semakin banyak yang menembus kampus-kampus elit seperti UI, UGM, ITB, IPB, ITS, Unair, Unibraw, hingga perguruan tinggi ternama di mancanegara, maka itulah tanda kita telah menjadi sekolah unggulan,” tegasnya.
Kiai berharap IKAMADA menjadi jembatan bagi adik-adik kelas mereka agar memiliki cakrawala luas untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin tanpa melupakan akar kepesantrenan mereka.
Setelah resmi dilantik, Ketua Umum IKAMADA terpilih, Ahmadi, M.Pd.I., menyampaikan pidato perdananya. Dengan nada yang penuh semangat dan rendah hati, beliau menekankan pentingnya kerja tim (teamwork).
Ahmadi menyadari bahwa tantangan di periode 2025-2028 tidaklah ringan. Oleh karena itu, ia menggarisbawahi beberapa poin penting untuk internal pengurus, yaitu soliditas kerja. Ia mengharap seluruh pengurus yang baru dilantik selalu bekerja sama dengan baik dan membuang ego sektoral.
Kedisiplinan organisasi, dalam bentuk kehadiran dalam rapat-rapat pengurus yang menjadi indikator awal keseriusan dalam mengabdi. Pengabdian ke pesantren, di mana arah perjuangan IKAMADA adalah demi kemajuan Pondok Pesantren Annuqayah, khususnya di wilayah Daerah Kebun Jeruk.
“Kita di sini bukan sekadar menyandang jabatan, tapi untuk berjuang. Kehadiran kita harus dirasakan manfaatnya oleh almamater dan seluruh alumni,” ujarnya.
Menjadi generasi yang tangguh
Puncak acara diisi dengan tausiyah oleh KH. Ahmad Hanif Hasan, Dewan Masyaikh Annuqayah, mantan Kepala MA 2 Annuqayah periode 1988-1992, sekaligus Dewan Penasehat IKAMADA. Dalam tausiyahnya, Kiai Hanif membangkitkan kembali memori kolektif tentang wasiat almarhum Kiai A. Warits Ilyas.
Ia mengingatkan bahwa tujuan utama pendidikan Annuqayah adalah mencetak Generasi Abdullah yang memiliki empat ciri utama, bertakwa, dalam arti memiliki ketakutan dan kepatuhan kepada Allah. Berilmu, dalam arti tidak buta terhadap perkembangan zaman. Tafaqquhfiddin, memiliki kedalaman pemahaman ilmu agama. Serta mengabdi, dalam arti bermanfaat bagi masyarakat luas.
Kiai Hanif juga menekankan pentingnya kekuatan (al-Qawiy). Allah lebih mencintai orang mukmin yang kuat daripada orang mukmin yang lemah. Kuat di sini berarti kuat secara ekonomi, kuat secara politik, dan kuat secara intelektual.
“Alumni Annuqayah jangan hanya jadi penonton, jadilah penguasa yang adil dan terampil dalam segala bidang kehidupan,” pesannya.
Lebih spesifik, ia memberikan motivasi bagi alumni yang kini sebagian terjun di dunia pendidikan. Ia mendorong agar alumni yang mengajar santri-santri Annuqayah diajarkan untuk menguasai ilmu-ilmu sains (kauniyah).
Menurutnya, jika seorang santri mampu menguasai metodologi saintifik dengan baik, namun tetap dibalut dengan penguasaan keagamaan yang mumpuni dan akhlak tasawuf, maka ia akan menjadi insan kamil yang luar biasa.
Acara ditutup dengan doa bersama, menandai resminya nakhoda baru IKAMADA. Dengan sinergi antara visi besar yayasan, semangat pengurus baru, dan bimbingan dari para masyaikh, MA 2 Annuqayah optimis menatap masa depan sebagai kiblat pendidikan Islam modern yang tetap menjaga tradisi salaf.












