apijiwa.id – Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL) bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Kota Bandung menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Cleaning Service Disabilitas pada (13/1/2026). Diklat yang digelar di Ruang Seminar Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat itu diikuti kaum disabilitas dari sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Ketua APDL, Sri Agustini Djoekanan dalam sambutannya menyatakan, diklat yang dilaksanakan kali ini adalah upaya APDL memberikan ilmu tentang cleaning service, agar para kaum disabilitas bisa mendapatkan kesempatan bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya.
Sebelumnya, APDL juga telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan dan BUMN, sehingga ketika ada yang memenuhi syarat dan bersertifikat dapat disalurkan untuk bisa bekerja.
“Sudah banyak lembaga yang bekerja sama dengan kami. Kementrian terkait pun turut membantu anggota kami yang membutuhkan modal usaha. Bahkan Alfamart sudah merekrut anggota kami dipekerjakan di perusahaannya. Semoga banyak perusahaan yang lain yang bisa bermitra dengan APDL,” ujar Sri Agustini berharap.
Dua narasumber yang hadir pada diklat tersebut adalah Fajar Panji Gumilang, Manajer Operasional Danf Naluri Kreasi perwakilan dari perusahaan penyalur karyawan jasa cleaning service; dan Budi Raharja, Kepala Divisi Pendistribusian BAZNAS Provinsi Jawa Barat. Perwakilan dari BPJS Ketenagakerjaan Kota Bandung sedianya juga akan ikut hadir mengisi diklat, namun berhalangan hadir.
Dalam paparannya, Fajar Panji Gumilang menjelaskan, cleaning service merupakan layanan kebersihan yang dibutuhkan banyak perusahaan kecil maupun besar. Bukan itu saja, kafe, restoran, hotel, bahkan rumah pun, ada yang membutuhkannya.
Pekerjaan ini termasuk pekerjaan yang mulia. Hanya saja, perlu dikerjakan dengan sepenuh hati dengan bekal skill yang mumpuni. “Jangan dianggap hal ini sebagai pekerjaan biasa, karena pekerjaan ini sangat berpengaruh kepada kondisi publik,” ungkapnya.
Fajar pun menuturkan, sebagai seorang cleaning service yang baik, harus mampu pula menjaga penampilan dan kesehatan. Seorang cleaner misalnya, harus menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan karet saat membersihkan toilet.
Selain itu, perlu juga menjaga penampilan agar menarik, serta memiliki pemahaman tentang peralatan yang digunakan. Saat bekerja juga harus menjaga attitude agar orang-orang tertarik dengan pekerjaannya dan kelak bisa memberikan karier yang baik dalam bidang ini.
“Sekali lagi, cleaning service itu pekerjaan yang bisa dibanggakan dan diandalkan, asalkan kita melakukannya dengan baik,” tambah Fajar.
Sementara itu, Budi Raharja menjelaskan, bekerja iadalah aktivitas yang sudah seharusnya dilakukan. Dalam sebuah riwayat hadis diterangkan, ada satu dosa yang tidak bisa terhapus kecuali dengan bekerja. Karena itu, bekerja juga berpahala.
Selain itu, Budi Raharja membekali peserta pelatihan dengan hal-hal yang perlu diperhatikan jika kelak menjadi seorang cleaning service, di antaranya terkait prinsip perilaku atau attitude. Pertama; badan harus wangi. Kedua; tidak kucel. Ketiga; salam, sapa, senyum, dan santun kepada siapapun saat bekerja.
Keempat; tidak boleh mencuri barang; dan kelima adalah mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah memberikan pekerjaan. Tidak sampai di situ, Budi pun menekankan perlunya memperhatikan prinsip teknis yang menjamin keselamatan kerja, karena pekerjaan cleaning service juga memiliki resiko, terutama saat menggunakan cairan kimia.
“Jagalah mata, hidung, dan hati-hati dengan barang yang berputar,” pesannya.
Tiap sesi, peserta diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan yang langsung dijawab oleh narasumber. Diklat diakhiri dengan foto bersama. “Semoga ilmunya bermanfaat dan kaum disabilitas mendapatkan haknya untuk bisa bekerja di manapun mereka berada,” tutup Ketua APDL, Sri Agustini di akhir acara.













