Advertisement

apijiwa.id – Pergeseran paradigma ekonomi global dari ketergantungan pada sektor primer menuju ekonomi berbasis inovasi telah memposisikan kekayaan intelektual sebagai mata uang baru yang paling berharga. Di Jawa Tengah, transformasi ini bukan sekadar opsi kebijakan, melainkan sebuah structural pivot yang krusial.

Demikian intisari pandangan yang dikemukakan oleh Dr. Wahono, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Grobogan, dalam acara Unconference: Retrospeksi Ekosistem Ekraf Daerah di Jawa Tengah yang digelar Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Jawa Tengah dan KEK Grobogan, pada Jumat (17/4/2026) malam di aula Sanggar Pramuka Grobogan.

Jawa Tengah dalam Peta Ekraf Nasional

Dalam kesempatan itu, Wahono memberikan penegasan fundamental bahwa ekonomi kreatif bukan hanya sektor alternatif, tetapi fondasi ekonomi masa depan berbasis inovasi, identitas, dan teknologi.

Menurut Wahono, secara analitis, Ekonomi Kreatif (Ekraf) harus dipahami sebagai ekosistem yang mengintegrasikan kreativitas, ide, dan inovasi menjadi produk bernilai tambah tinggi yang diproteksi oleh Kekayaan Intelektual (HaKI)—mencakup Hak Cipta, Merek, Desain Industri, Paten, hingga Rahasia Dagang.

Dengan keunikan sosiologis dan kekayaan tradisi yang dimilikinya, menurutnya, Jawa Tengah memiliki modalitas luar biasa untuk bertransformasi dari sekadar pusat produksi menjadi pusat inovasi global.

Menurut Wahono, Jawa Tengah kini telah memegang geoeconomic leverage yang sangat signifikan di kancah nasional dengan status resminya sebagai salah satu dari 15 Provinsi Prioritas Pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Nasional. Posisi strategis ini diperkuat oleh performa kompetitif sepanjang semester I tahun 2025, di mana provinsi ini berhasil menduduki peringkat kedua nasional dalam nilai ekspor ekraf yang mencapai angka sekitar Rp53 triliun.

Selain unggul dalam perdagangan luar negeri, menurutnya, daya tarik investasi di sektor ini juga sangat kuat dengan torehan nilai investasi sebesar Rp11,45 triliun yang menempatkannya di peringkat ketiga nasional. “Keunggulan Jawa Tengah semakin mutlak berkat fondasi ekosistemnya yang paling kokoh di Indonesia, dibuktikan dengan kepemilikan 12 Kabupaten/Kota Kreatif, jumlah terbanyak dibandingkan provinsi lainnya di tanah air,” jelasnya.

Dominasi Tradisi dan Tantangan Struktural

Wahono juga memaparkan, struktur ekonomi kreatif Jawa Tengah saat ini masih didominasi oleh pola Craft-Based Economy. Tiga subsektor utama yang menjadi tulang punggung adalah Fashion, Kriya, dan Kuliner.

Secara nasional, Fashion (US16,37 Miliar) dan Kriya (US12,03 Miliar) mencatatkan nilai ekspor yang besar. Namun, bagi Jawa Tengah, dominasi ini adalah pisau bermata dua. Sektor tradisional ini memang berfungsi sebagai shock absorber yang kuat karena berbasis UMKM dan padat karya, namun seringkali terjebak pada karakteristik produktivitas rendah, keterbatasan teknologi, akses pasar global yang masih terbatas, serta margin keuntungan yang tipis. Di sinilah, menurutnya, letak urgensi transisi menuju sektor digital yang memiliki skalabilitas eksponensial.

Wahono memberikan kritik akademik yang menyoroti kondisi Jawa Tengah yang dinilai masih terjebak pada fase production-driven, di mana nilai ekonomi wilayahnya masih didominasi oleh tenaga kerja manufaktur ketimbang kepemilikan inovasi yang kuat. Guna bertransformasi menuju innovation-driven economy, menurutnya, Jawa Tengah dituntut untuk segera membedah berbagai hambatan struktural, mulai dari ketimpangan fasilitas dan produktivitas yang tajam antara wilayah urban dan pedesaan, hingga infrastruktur digital yang belum merata sehingga menghambat akselerasi e-commerce global.

Selain itu, menurutnya, upaya ini harus dibarengi dengan penguatan branding global untuk mengatasi lemahnya identitas jenama (IP) produk lokal di pasar internasional, serta peningkatan investasi pada sektor R&D untuk mempercepat evolusi desain dan adopsi teknologi tepat guna yang selama ini masih minim.

Mengakselerasi Ekonomi Kreatif Digital

Wahono menjelaskan, masa depan ekonomi Jawa Tengah terletak pada kemampuannya menginkubasi “Sektor Masa Depan” seperti Game Developer, Film & Animasi, Musik Digital, dan Desain Digital. Meski saat ini kontribusinya secara kuantitas masih kecil, sektor-sektor ini memiliki value-add per worker yang jauh lebih tinggi dan bersifat scalable.

Pemerintah sendiri, menurutnya, telah merumuskan strategi komprehensif melalui empat tahapan roadmap pengembangan yang dimulai dengan penguatan basis UMKM yang sudah ada sebagai fondasi utama. Langkah ini kemudian dilanjutkan dengan digitalisasi menyeluruh serta perluasan penetrasi ke pasar global, yang menjadi jembatan menuju fase inovasi dan transisi ke arah IP-based economy demi mengamankan kepemilikan hak intelektual.

“Sebagai puncaknya, peta jalan ini diproyeksikan untuk mencapai ekspansi industri kreatif digital secara masif yang akan mengukuhkan posisi daya saing ekonomi di masa depan,” jelasnya.

Menurutnya, transformasi ini didukung oleh 5 Rekomendasi Kebijakan Strategis: (1) Transformasi Digital UMKM, (2) Penguatan akses pembiayaan, (3) Inkubasi startup kreatif, (4) Fasilitasi HaKI (Paten, Merek, Hak Cipta), dan (5) Orkestrasi branding global produk lokal.

Orkestrasi Ekosistem yang Inklusif

Bagi Wahono, mengubah wajah ekonomi memerlukan orkestrasi lintas sektoral melalui model Hexahelix. Sinergi ini menyatukan enam pilar: Pemerintah (Regulator), Akademisi (Riset & SDM), Bisnis (Market), Komunitas (Inovasi Lokal), Media (Amplifikasi), dan Investor (Akselerasi Modal).

Hanya melalui kolaborasi multi-pihak ini, nilai tambah dapat ditingkatkan secara konsisten. Fokus utama dari sinergi ini adalah memastikan daya saing ekraf tumbuh dengan visi yang jelas: “Lokal Kuat, Regional Maju, Global Berdaya Saing.”

Menurutnya, dalam satu dekade ke depan, Jawa Tengah diproyeksikan bertransformasi menjadi Hub Ekraf Nasional yang unik—sebuah titik temu antara kekuatan budaya luhur dan teknologi digital. Ekonomi kreatif akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru dan penyerap tenaga kerja terbesar yang mampu meredam guncangan krisis global (resiliensi ekonomi).

Keberhasilan visi 2030 ini mensyaratkan dua komitmen mutlak, yaitu transformasi digital yang agresif dan peningkatan kualitas SDM yang berkelanjutan. “Jika Jawa Tengah mampu mengonversi keterampilannya menjadi Kekayaan Intelektual yang diakui dunia, maka provinsi ini tidak hanya akan menjadi penonton dalam ekonomi global, tetapi menjadi pemain kunci yang menentukan arah inovasi masa depan,” terang Wahano yang juga seorang penulis.

Selain Dr. Wahono, acara unconference yang dipandu oleh Ketua ICCN Jawa Tengah Kurry Yusuf itu juga dihadiri Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disbudparekraf Jawa Tengah Sarido, Wakil Ketua Pelaksana KEK Jawa Tengah Bambang Supradono, Wakil Ketua ICCN Jawa Tengah Dimas Herdy Utomo, dan Ketua Pelaksana KEK Grobogan Ir. Nugroho Adi Kuncoro. Unconference juga dihadiri Ketua KEK Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah, para pengurus KEK Grobogan, sejumlah pelaku ekonomi kreatif Grobogan, serta perwakilan kepala SMK se-Kecamatan Kota Purwodadi.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.