Advertisement

apijiwa.id – Ikatan Remaja Masjid (IRMA) SMK BPP Kota Bandung menggelar diskusi pendidikan bertajuk “Urgensi Berorganisasi dalam Dunia Pendidikan: Perspektif Pelajar, Mahasiswa, dan Pendidik” pada Minggu (13/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung SMK BPP, Jalan Van Deventer No. 14, Kota Bandung ini menghadirkan tiga narasumber lintas generasi: Sahrul Mubarak (pegiat pendidikan), Nelis Rosita (mahasiswa UPI), dan Luthfiana (Ketua IRMA SMK BPP).

Pembina IRMA SMK BPP, Gilang Faresi, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya organisasi sejak dini.

“Berorganisasi dapat memperluas wawasan dan pengalaman siswa, serta menumbuhkan minat mereka dalam berdiskusi. Kami berharap output-nya siswa lebih semangat dan optimal dalam berorganisasi demi pengembangan diri mereka di masa depan,” ujar Gilang.

Sebagai pembicara pertama, Sahrul Mubarak memandang organisasi sebagai “laboratorium sosial”. Menurutnya, organisasi adalah tempat nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, kolaborasi, dan empati dipraktikkan secara nyata.

Sahrul menilai pendidikan formal di kelas seringkali terjebak pada aspek kognitif, seperti teori dan hafalan. “Organisasi mengisi celah pembelajaran kontekstual. Di sanalah peserta didik belajar menghadapi konflik, mengelola program, hingga memahami dinamika masyarakat. Tanpa organisasi, pendidikan berisiko menghasilkan individu yang cerdas secara akademik, namun kurang terampil dalam kehidupan sosial,” jelasnya.

Senada dengan Sahrul, Nelis Rosita mengungkapkan bahwa bagi mahasiswa, organisasi merupakan jembatan menuju realitas profesional. Keterlibatan aktif dalam organisasi melatih kemampuan manajerial, komunikasi publik, serta pengambilan keputusan.

“Hal-hal semacam ini jarang didapat di ruang kuliah. Mahasiswa yang aktif berorganisasi biasanya lebih siap menghadapi dunia kerja karena terbiasa bekerja dalam tim, mengelola tekanan, dan mengatur waktu dengan efisien,” tutur Nelis.

Sementara itu, Ketua IRMA SMK BPP, Luthfiana, menekankan peran organisasi sekolah seperti OSIS atau IRMA sebagai titik awal pembentukan karakter. Di usia remaja yang merupakan masa pencarian jati diri, organisasi memberikan ruang aman untuk bereksperimen.

“Di sini, pelajar belajar bahwa suara mereka memiliki arti. Kita belajar bahwa setiap individu dapat berkontribusi dan perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil,” tambah Luthfiana.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa berorganisasi bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan kebutuhan bagi siapa pun yang ingin maju, memperluas relasi, dan mengasah kemampuan untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.