apijiwa.id – Tak dapat dimungkiri, gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak saat ini. Oleh karena itu, perlindungan ekstra sangat diperlukan agar mereka terhindar dari dampak negatif teknologi digital. Semangat inilah yang melandasi seminar parenting bertema “Menjaga Fitrah Anak di Era Digital” dalam rangkaian acara Ramadhan Festival Si Kabayan 3.0. Kegiatan yang digelar oleh Yayasan At-Taqwa Rajawali Kota Bandung pada Selasa (10/3/2026) ini menghadirkan psikolog Fainna Safitri, S.Psi., M.Psi. sebagai pembicara utama.
Dalam pemaparannya, Founder Adeena Psychology Centre ini menekankan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah—ibarat kertas putih yang bersih dan netral. Mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Fainna mengingatkan pesan Rasulullah Saw: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Pimpinan LKP Ruang Profesional Kita itu menjelaskan bahwa setiap anak lahir dengan empat potensi utama: kemampuan mengenal Allah, kecenderungan pada kebaikan, hati yang bersih, serta kapasitas untuk belajar. Keempat modal dasar ini harus dikelola dengan baik agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
“Potensi ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat anak tumbuh. Oleh karena itu, orang tua wajib berperan aktif melindungi buah hati mereka agar tidak terpapar dampak negatif lingkungan yang dapat merusak masa depan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Islam menekankan peran orang tua bukan sekadar untuk menjejali anak dengan banyak teori, melainkan menjaga fitrah yang sudah ada. “Anak-anak memang harus tumbuh sesuai dunianya, namun orang tua harus senantiasa menanamkan nilai-nilai agama sebagai benteng dari pengaruh buruk yang dapat merusak kehidupan mereka,” tambahnya.
Fainna Safitri menegaskan bahwa orang tua saat ini menghadapi tantangan era digital yang tak terelakkan. Dampaknya pun mulai terlihat nyata: anak-anak cenderung kecanduan dopamine instan, sulit fokus dalam belajar, hingga menurunnya keterampilan sosial dan daya juang akibat penggunaan gadget tanpa batas.
“Ini adalah persoalan menyeluruh, namun penanganannya harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Orang tua dituntut mampu mengarahkan anak-anak mereka ke kegiatan yang lebih positif,” tegasnya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Fainna membagikan tujuh langkah praktis bagi orang tua:
Pertama; Edukasi Digital. Berikan pemahaman sederhana kepada anak mengenai apa itu dunia digital dan dampaknya.
Kedua; Batasi Screentime. Tetapkan batas waktu penggunaan gadget yang jelas, misalnya maksimal satu jam dalam sehari.
Ketiga; Perbanyak Pengalaman Nyata. Ajak anak bersosialisasi dengan lingkungan positif, mengenalkan mereka pada alam terbuka, atau mengunjungi tempat-tempat edukatif.
Keempat; Kurasi Konten. Pastikan konten yang dikonsumsi anak sesuai dengan usia dan ramah bagi perkembangan mereka.
Kelima; Aktivitas Fisik Kreatif. Ajak anak melakukan kegiatan variatif seperti bermain bersama, berkebun, menggambar, hingga berolahraga.
Keenam; Bangun Kedekatan. Jalin komunikasi yang hangat dan berkualitas agar ikatan batin antara anak dan orang tua semakin kuat.
Ketujuh; Menjadi Teladan. Orang tua harus menjadi contoh nyata dalam penggunaan gadget secara bijak di depan anak.
Sebagai penutup, Fainna mengajak para orang tua untuk terus berikhtiar seoptimal mungkin demi menjaga tumbuh kembang anak, agar mereka tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah.












