Advertisement

“Salah jurusan itu tidak ada, yang ada hanyalah anak yang tidak bisa beradaptasi dengan dunia perkuliahan.”

apijiwa.id — Kalimat tersebut sempat diucapkan oleh seorang ketua BEM di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya saat saya berkunjung ke sana. Tentu saja, klaim itu tidak sepenuhnya valid. Penelitian yang dilakukan oleh Diana dkk. (2023) terhadap 1.283 mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia justru menemukan bahwa hampir 30% partisipan merasa telah salah memilih jurusan. Angka ini menunjukkan bahwa perasaan “salah jurusan” bukanlah hal sepele yang bisa diabaikan begitu saja.

Pertanyaannya; apakah perasaan tersebut selalu berarti mahasiswa salah mengambil keputusan akademik, atau justru berkaitan dengan proses mengenali diri dan beradaptasi dengan lingkungan baru? Bagaimana cara membedakan keduanya, dan bagaimana pula fenomena ini jika dibedah melalui kacamata psikologi?

Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini, salah jurusan dan ketidakmampuan beradaptasi memang tampak serupa, tetapi keduanya memiliki garis batas yang cukup jelas. Fenomena salah jurusan biasanya terlihat ketika seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti ritme perkuliahan—mengerahkan seluruh tenaga dan komitmen penuh—namun hasil yang didapat tetap jauh dari harapan.

Di samping itu, mereka umumnya sudah kehilangan atau memang tidak memiliki ketertarikan sama sekali pada bidang yang dipelajari. Sebaliknya, mahasiswa yang sekadar mengalami kendala adaptasi biasanya tetap memiliki minat yang kuat pada bidang studinya; hanya saja, mereka menghadapi hambatan dalam mengimbangi kecepatan materi maupun pola pembelajaran yang ada.

Mengapa Perasaan Salah Jurusan Bisa Muncul?

Ketidaktahuan individu terhadap minat, bakat, dan ketertarikan yang dimiliki seringkali menjadi akar dari persoalan salah jurusan. Fenomena ini tentu bukan hal baru. Berdasarkan teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja pada rentang usia 12–18 tahun berada pada tahap identity versus role confusion (identitas versus kebingungan peran).

Pada fase ini, mereka dihadapkan pada tantangan untuk mencari jati diri serta posisi mereka di tengah masyarakat. Muaranya ada dua: menemukan identitas yang utuh atau justru terjebak dalam kebingungan peran.

Meskipun Erikson memetakan fase ini pada usia remaja awal hingga akhir, batas waktunya seringkali lebih fleksibel di dunia nyata. Sangat wajar dan memungkinkan bagi mahasiswa baru untuk justru menemukan identitas diri mereka yang sesungguhnya saat mereka telah menginjak bangku kuliah di semester-semester awal.

Selain belum matangnya pencarian identitas, ada berbagai faktor eksternal yang turut memicu kekeliruan dalam memilih jurusan. Faktor-faktor luar ini biasanya bertindak sebagai penguat, bukan berdiri sebagai satu-satunya penyebab tunggal. Dinamika tersebut dapat dianalisis melalui Self-Determination Theory (Teori Determinasi Diri) yang dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk tumbuh dan mencari tantangan, asalkan tiga kebutuhan psikologis dasarnya terpenuhi: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.

Ketiga kebutuhan dasar tersebut memiliki dinamika hambatannya masing-masing. Pertama; hambatan pada aspek otonomi terjadi ketika individu kehilangan kebebasan dan kehendak mandiri dalam mengambil keputusan. Kondisi ini biasanya dipicu oleh tekanan serta tuntutan orang tua, ekspektasi keluarga terhadap profesi yang dianggap bergengsi, hingga keterbatasan pilihan akibat faktor ekonomi.

Kedua; masalah pada aspek kompetensi berkaitan dengan terganggunya rasa mampu dalam menghadapi tantangan akademik. Hambatan di ranah ini seringkali bersumber dari minimnya informasi mengenai realitas materi perkuliahan, ekspektasi yang tidak realistis terhadap kapasitas diri, serta kurangnya ruang untuk mengenali minat dan bakat sejak dini. Ketimpangan informasi ini pada akhirnya membuat calon mahasiswa kesulitan membangun gambaran yang objektif tentang jurusan yang mereka pilih.

Terakhir, kendala pada aspek keterhubungan berakar dari terganggunya kebutuhan untuk merasa diterima, diperhatikan, dan menjadi bagian dari relasi sosial yang bermakna. Dalam konteks pemilihan jurusan, hambatan ini umumnya mewujud dalam bentuk fenomena FOMO (fear of missing out) terhadap pilihan teman sebaya, dorongan untuk mengejar jurusan yang dipandang “gengsi”, hingga pencarian validasi dari lingkungan sekitar demi merasa diakui.

Peran Self-Efficacy dan Lingkungan dalam Adaptasi

Sementara itu, kesulitan menghadapi dunia perkuliahan belum tentu disebabkan oleh salah jurusan. Tantangan beradaptasi ini sangat umum dialami oleh mahasiswa semester awal akibat perbedaan lingkungan fisik, sosial, dan akademik yang sangat kontras dengan masa sekolah menengah. Pada masa transisi ini, mahasiswa harus berjuang menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan baru yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.

Di sinilah pentingnya memiliki self-efficacy yang baik untuk bertahan di lingkungan baru. Berdasarkan Teori Self-Efficacy dari Albert Bandura, konsep ini merujuk pada keyakinan atau kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya dalam merencanakan, mengorganisasi, dan mengeksekusi suatu tindakan untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas tertentu.

Albert Bandura mengidentifikasi empat sumber utama yang membentuk self-efficacy. Sumber yang pertama adalah mastery experience atau pengalaman keberhasilan, di mana pengalaman sukses di masa lalu dapat memperkuat keyakinan diri untuk menghadapi tugas serupa di kemudian hari. Sebaliknya, kegagalan berulang dapat melemahkan keyakinan tersebut, terutama jika dianggap sebagai bukti nyata dari ketidakmampuan.

Sumber kedua adalah vicarious experiences atau pengalaman melalui pengamatan. Dalam hal ini, seseorang dapat membangun keyakinan diri dengan mengamati orang lain yang berhasil menyelesaikan suatu tugas. Pengaruh dari sumber ini akan jauh lebih kuat jika orang yang diamati memiliki latar belakang atau kemampuan yang setara.

Berikutnya, terdapat sumber ketiga yaitu persuasi verbal atau verbal persuasion. Umpan balik positif, dukungan, serta dorongan dari orang lain terbukti dapat membantu seseorang menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan. Meski demikian, dorongan ini akan terasa jauh lebih bermanfaat apabila disampaikan secara realistis dan disertai dengan strategi yang tepat.

Terakhir, physiological and affective states atau kondisi fisiologis dan emosional menjadi sumber yang tak kalah penting. Seseorang seringkali menilai kemampuannya sendiri berdasarkan kondisi tubuh dan emosi mereka saat itu. Rasa cemas, tegang, atau lelah kerap disalahartikan sebagai tanda ketidakmampuan, meskipun perasaan-perasaan tersebut tidak selalu mencerminkan kompetensi yang sebenarnya.

Namun, perlu diingat bahwa mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi tidak selalu memiliki self-efficacy yang rendah. Proses adaptasi mahasiswa di perguruan tinggi sejatinya juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal lainnya. Tokoh psikologi Urie Bronfenbrenner mengemukakan bahwa perkembangan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi internal dirinya, tetapi juga oleh interaksinya dengan lingkungan sekitar.

Dalam teorinya, Bronfenbrenner membagi lingkungan menjadi lima tingkatan yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada adaptasi mahasiswa. Tingkatan pertama adalah mikrosistem, yaitu lingkungan terdekat yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa, seperti keluarga, teman sebaya, dosen, teman sekelas, hingga lingkungan tempat tinggal.

Tingkatan kedua adalah mesosistem, yang menggambarkan keterhubungan antara dua atau lebih mikrosistem dalam kehidupan mahasiswa—misalnya bagaimana hubungan antara lingkungan keluarga dan dunia kampus saling memengaruhi. Selanjutnya, terdapat eksosistem yang mencakup keputusan atau lingkungan luar yang tidak melibatkan mahasiswa secara langsung, tetapi dampaknya tetap terasa, seperti kebijakan institusi kampus, kondisi pekerjaan orang tua, serta keputusan administratif lainnya.

Dua tingkatan terakhir mencakup konteks yang lebih luas, yaitu makrosistem dan kronosistem. Makrosistem berkaitan dengan konteks sosial budaya yang lebih besar, meliputi nilai-nilai masyarakat, norma, ideologi, hingga sistem pendidikan yang mengonstruksi cara pandang terhadap keberhasilan. Sementara itu, kronosistem menekankan pada dimensi waktu, perubahan fase kehidupan, serta peristiwa historis yang turut membentuk perjalanan perkembangan individu.

Dengan demikian, selain faktor internal seperti self-efficacy, faktor eksternal berupa jejaring lingkungan ini memegang peranan yang sangat besar dalam membantu mahasiswa bertahan dan beradaptasi pada awal masa perkuliahan.

Langkah Konkret yang Bisa Dilakukan

Merasa salah jurusan pada semester awal adalah hal yang sangat wajar dan dapat dimaklumi. Menyadari ketidakcocokan ini justru menandakan bahwa seseorang mampu mengenali kondisi dirinya dengan baik, yang jauh lebih sehat daripada bersikap denial terhadap apa yang dirasakan.

Begitu pula dengan tantangan beradaptasi. Setiap mahasiswa pasti membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan perkuliahan yang baru. Yang membedakan hanyalah durasi dan proses yang ditempuh, mengingat setiap orang memiliki ritme serta cara adaptasinya masing-masing, termasuk potensi hambatan yang berbeda-beda dalam proses tersebut.

Meski demikian, ada beberapa langkah antisipasi yang dapat dicoba agar Anda lebih siap menghadapi dunia perkuliahan dan meminimalkan risiko tersebut. Untuk mencegah rasa salah jurusan, alangkah baiknya jika Anda mengenali potensi diri secara mendalam—misalnya melalui tes minat dan bakat di lembaga psikologi terdekat. Selain itu, pelajari detail program studi yang dituju, mulai dari kurikulum, daftar mata kuliah, hingga budaya belajarnya, agar Anda memiliki ekspektasi yang realistis sejak awal masuk kuliah.

Sementara itu, untuk mengatasi kesulitan beradaptasi, mulailah dengan memahami gambaran umum dunia perkuliahan di jurusan pilihan Anda, lalu identifikasi secara spesifik letak kendala yang sedang dialami. Jika Anda kesulitan memahami materi perkuliahan, cobalah mengevaluasi dan mengganti metode belajar agar jauh lebih efektif. Di saat yang sama, bangunlah sistem dukungan dari orang-orang terdekat serta temukan sumber motivasi, baik yang berasal dari eksternal maupun internal. Ketika Anda berada di titik lelah, ingat kembali alasan utama dan tujuan awal Anda memilih jurusan tersebut sebagai bahan bakar penyemangat.

Pada akhirnya, label “salah jurusan” tidak seharusnya langsung dijadikan kesimpulan pertama setiap kali mahasiswa menghadapi kesulitan di bangku kuliah. Ketidakcocokan minat memang bisa terjadi, namun proses adaptasi, keyakinan terhadap kemampuan diri (self-efficacy), dan dukungan lingkungan juga layak untuk dipertimbangkan.

Memahami berbagai faktor ini bukan berarti memaksa seseorang untuk bertahan di tempat yang tidak sesuai, melainkan membantu mereka mengambil keputusan secara bijak berdasarkan pemahaman diri yang utuh. Sebab, tidak semua kesulitan menandakan bahwa kita telah memilih jalan yang salah—meski tidak semua hambatan pula yang harus terus dipaksakan untuk dilewati.

Sebelum bertanya, “Apakah aku salah jurusan?”, mungkin ada pertanyaan lain yang lebih mendasar untuk dijawab terlebih dahulu; “Apa sebenarnya yang membuatku merasa tidak cocok?”

Referensi:

  • Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191–215. https://doi.org/10.1037/0033-295X.84.2.191
  • Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.
  • Diana, D., Guntur, I., Roebianto, A., & Christy. (2023). Choosing the wrong major: What is the profile of students who feel they have chosen the wrong major? Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling: Jurnal Kajian Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Konseling, 9(2), 77–85. https://doi.org/10.26858/jppk.v9i2.45753
  • Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. W. W. Norton & Company.
  • Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68

Penulis: Raditya Surya PratamaEditor: Redaksi Apijiwa.id

2 Komentar

  1. Ary senpai

    Saya pernah di fase itu, saya merasa salah jurusan sbnrnya saat semester 2. Karena berbagai hal termasuk pindah pun harus ada konsekuensi termasuk dana yg terbatas saya dengan setengah hati menempuh kuliah sampai lulus. Namun terkadang sampai saat ini saya masih merasa “kalo saja dulu pindah” hidup saya jadi lebih baik 😀 wkwkkwwk
    Btw tulisan yg sangat bagus … saya suka..terima kasih banyak atas ilmunya

  2. Hasan

    Relevan sekali, terutama bagi mahasiswa mahasiswa baru yang semakin kesini semakin merasa salah jurusan.
    Kebetulan waktu itu saya bersama penulis saat gagasan ini disampaikan pada suatu forum di salah satu PTN Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *