Advertisement
Judul Buku Kearifan Lokal dalam Seni Reyog Ponorogo
Penulis Alip Sugianto
Penerbit Penerbit BRIN (Anggota Ikapi)
Tahun Terbit Agustus 2024 (Edisi Pertama)
Tebal Buku xix + 283 halaman (14,8 × 21 cm)
ISBN 978-623-8372-90-4

 

apijiwa.id — Di tengah laju modernisasi yang masif dan arus globalisasi yang kerap mengikis pilar-pilar tradisi lokal, pendokumentasian seni pertunjukan Nusantara secara ilmiah mutlak diperlukan. Kehadiran buku Kearifan Lokal dalam Seni Reyog Ponorogo karya Alip Sugianto, yang dipublikasikan oleh Penerbit BRIN melalui Program Akuisisi Pengetahuan Lokal, tidak sekadar melengkapi khazanah literatur kebudayaan Indonesia. Lebih jauh, karya ilmiah populer ini berhasil mereposisi seni pertunjukan Reyog Ponorogo dari sekadar lanskap visual-estetis yang mengeksplorasi ketangkasan fisik panggung menjadi sebuah tatanan nilai kearifan lokal (local wisdom) yang sarat dengan epistemologi etis, moral, dan spiritualitas Nusantara.

Penerbitan karya ini memiliki bobot legitimasi sosial-politik dan akademis yang sangat solid. Buku ini diperkuat oleh dukungan resmi dari jajaran pemangku kebijakan daerah, termasuk Kata Pengantar dari Bupati Ponorogo H. Sugiri Sancoko, S.E., M.M., serta Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo Sunarto, S.Pd. Selain itu, sinergi kelembagaan lintas sektor yang melibatkan Yayasan Reyog Ponorogo, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, hingga Universitas Sebelas Maret Surakarta, menegaskan bahwa rekonstruksi narasi dalam buku ini berakar kuat pada konsensus intelektual dan kultural masyarakat pemiliknya.

Melalui peletakan fondasi institusional yang kokoh tersebut, eksplorasi kritis terhadap struktur anatomi teks menjadi pintu masuk utama untuk mengurai rekonstruksi narasi dan pemikiran kebudayaan yang ditawarkan oleh penulis.

Rekonstruksi Narasi dan Dekonstruksi Miskonsepsi Budaya

Sistematika pemikiran yang dirancang Alip Sugianto dalam buku ini menyajikan peta pengetahuan yang komprehensif untuk mendekonstruksi stigma negatif dan miskonsepsi yang melingkupi seni Reyog Ponorogo selama berdekade-dekade. Struktur pembahasannya teranyam secara bertahap melalui enam bagian utama.

Pada Bab I, pembaca diajak menelusuri Akar Historis dan Geografis melalui rekonstruksi sejarah Kabupaten Ponorogo serta proses sosio-kultural yang membentuk ruang geobudaya wilayah tersebut hingga berhasil memancangkan identitas legitimatifnya sebagai “Kota Reyog”. Selanjutnya, Bab II menyajikan Mutiara Lokal dan Anatomi Pertunjukan melalui bedah etnokoreologis dan antropologis secara anatomis atas gugusan kearifan lokal. Bagian ini mencakup mitos dan cerita rakyat, pitutur luhur Warok Ponorogo, pembacaan fungsi mantra, organologi material—seperti topeng Barongan, Bujangganong, Klana Sewandana, Potrojaya, Potrothala, Eblek atau Kuda Kepang, serta Pecut Samandiman, dengan iringan gamelan yang meliputi Selompret, Kendang, Ketipung, Angklung, Kethuk, Kenong, dan Kempul—serta dinamika kinetik gerak tari (gestur Tari Warok, Jathil, Klana Sewandana, Kiprahan, Bujangganong, hingga Merak Tarung) dan struktur musikologi gendhing tradisional.

Memasuki Bab III, buku ini membedah Fungsi dan Nilai Budaya guna melihat pergeseran dan perimbangan paradigma seni pertunjukan, dari yang semula dipandang sebatas tontonan (konsumsi estetis-visual) menjadi tuntunan yang memuat fungsi edukasi, etika kemasyarakatan, serta kontrol moral sosial. Adapun strategi keberlangsungan dan pelestarian dirumuskan dalam Bab IV dan V melalui operasionalisasi tujuh pilar kearifan lokal.

Pilar Revitalisasi dan Reformulasi menjawab ancaman komodifikasi melalui penyegaran bentuk tanpa merusak pakem; Komunikasi dan Organisasi memperkuat tata kelola kelembagaan paguyuban di era digital; sementara Adaptasi, Transformasi, dan Rutinitas menjamin pelestarian dinamis melalui transmisi pendidikan, jejaring festival, serta pemanfaatan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Rangkaian pembahasan bab ini ditutup oleh Bab VI yang membedah Prospek Masa Depan, yakni menganalisis proyeksi, daya tahan kultural, dan tantangan eksistensial seni Reyog Ponorogo dalam menjaga autentisitas lokal di tengah gempuran popularitas massa dan dinamika budaya global.

Di luar pemetaan teknis tersebut, karya ini menyuntikkan analisis kritis atas dua isu mendasar yang menyangkut kedaulatan budaya. Pertama; Politisasi Ejaan (“Reyog” vs “Reog”), di mana penulis melakukan kritik historis-politik yang tajam terhadap perubahan ortografi dari “Reyog” (menggunakan huruf Y) menjadi “Reog” (tanpa huruf Y). Penyeragaman ejaan pada masa lalu terbukti merupakan intervensi kekuasaan birokrasi lokal yang menjadikannya akronim jargon politik (Resik, Endah, Omber, Girang Gemirang). Buku ini mengkritisi kebijakan politik tersebut sebagai tindakan ahistoris yang mencederai nilai filosofis asli, mengaburkan akar spiritualitas etimologisnya, serta menyesatkan pemahaman sejarah bagi generasi muda.

Kedua; Dekonstruksi Stigma Negatif, di mana penulis membongkar stereotip keliru masyarakat awam yang acapkali mengidentikkan Reyog dengan praktik klenik, perilaku mabuk-mabukan, atau erotisme penari Jathil. Melalui pembacaan simbolik atas busana, susunan mantra, dan disiplin olah tubuh, buku ini membuktikan bahwa elemen-elemen tersebut merupakan sublimasi ajaran spiritual universal dan etika moralitas adiluhung.

Dekonstruksi stigma ini menjadi instrumen penting dalam memperkokoh posisi Reyog Ponorogo dalam usulannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage/ICH) UNESCO. Pembongkaran atas kompleksitas teks dan kritik politik kebudayaan tersebut pada akhirnya memicu kebutuhan untuk menilai bobot metodologis serta dampak strategis karya ini bagi pemangku kepentingan yang lebih luas.

Evaluasi Kritis, Nilai Strategis, dan Dampak Sosio-Akademis

Sebagai sebuah esai kritik kebudayaan yang proporsional, ulasan ini menuntut pengujian terhadap kontribusi teoretis sekaligus kemanfaatan praktis dari buku yang dibahas bagi para pemangku kepentingan kebudayaan. Kekuatan utama kajian Alip Sugianto terletak pada kelengkapannya yang komprehensif, yakni keberhasilannya merangkum berbagai aspek—mulai dari material (organologi topeng dan peranti pertunjukan), spiritual (mantra dan etika Warok), performatif (etnokoreologi gerak dan musikologi), hingga manajerial (strategi kelembagaan)—ke dalam satu bangunan teoretis yang utuh.

Selain itu, buku ini juga memiliki dimensi multi-sektor yang berhasil memetakan keterkaitan seni tradisi dengan ekosistem ekonomi kreatif (industri pengrajin barongan, busana etnik, kalender seni), sektor pariwisata daerah, serta pembentukan karakter masyarakat berbasis visi “HEBAT” (Harmonis, Elok, Bergas, Amanah, dan Takwa).

Nilai transformatif dari karya Alip Sugianto ini terletak pada posisinya sebagai fondasi akademis yang membuktikan bahwa Reyog Ponorogo adalah salah satu seni pertunjukan topeng terbesar di dunia. Keberadaan kantong-kantong komunitas Reyog di ranah internasional—seperti di Malaysia, Suriname, hingga Belanda—menunjukkan daya hidup budaya yang lintas batas negara.

Buku ini menjadi acuan ilmiah yang sangat vital untuk menegaskan kedaulatan budaya Indonesia di tingkat global sekaligus membentengi autentisitas seni tradisi dari klaim unilateral bangsa lain. Rangkaian penilaian atas kontribusi teoretis dan dampak praktis tersebut kemudian bermuara pada sintesis akhir dan perumusan rekomendasi reflektif bagi publik pembaca.

Buku Kearifan Lokal dalam Seni Reyog Ponorogo karya Alip Sugianto berhasil membuktikan dirinya sebagai “kompas” identitas kebudayaan Ponorogo sekaligus karya referensi literasi yang sangat berbobot. Karya ini tidak sekadar merekam aspek estetika panggung, melainkan sanggup meruntuhkan tembok stigma dan mengembalikan harkat filosofis Reyog sebagai warisan pemikiran adiluhung Nusantara.

Sebagai sebuah karya ilmiah populer yang strategis, buku ini sangat direkomendasikan kepada para akademisi dan peneliti sebagai pijakan metodologis serta teoretis dalam memperdalam studi etnokoreologi, antropologi seni, serta manajemen kebudayaan Nusantara; kepada pemerintah dan pembuat kebijakan sebagai pemandu dalam merumuskan regulasi pelestarian, strategi promosi pariwisata, dan tata kelola budaya yang autentik tanpa terjebak pada komodifikasi politik yang destruktif; serta kepada generasi muda dan praktisi seni sebagai media pembelajaran interaktif untuk menginternalisasi nilai-nilai tuntunan etis dan spiritual yang menjadi jiwa di balik keindahan tontonan Reyog.

Memahami dan merawat Reyog Ponorogo melalui kerja literasi ilmiah ini pada hakikatnya adalah tindakan nyata dalam menjaga kearifan lokal agar tetap berakar kokoh di bumi Nusantara, sembari terus memancarkan pesona nilainya di panggung peradaban dunia.

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *