Advertisement

apijiwa.id — Sekelompok anak muda yang dipersatukan oleh gagasan kreatif mendirikan ruang kolaborasi bernama Sawah Comics pada 2026. Lebih dari sekadar wadah berkumpul, mereka berproses melahirkan karya komik fiksi bernuansa kearifan lokal. Debut terbaru mereka mengusung sosok pahlawan berlatar budaya Sunda bertajuk “Pajajaran Fighter”.

Inisiatif ini lahir dari kegelisahan agar generasi muda tidak melupakan akar budaya daerahnya. Untuk menjembatani hal tersebut, komik ini dikemas dengan bahasa yang kekinian, ramah anak muda, serta didukung visual yang memikat.

Di balik nama Sawah Comics tersimpan akronim dari empat kreator yang menggarapnya: Satria Alfiansyah, Wais Al Qorni, Heru Triatmaja Eryadi, dan Chandra Iman Nugraha. Heru mengungkapkan, proyek ini bermula dari keprihatinan mereka ketika banyak kalangan Gen Z yang asing dengan tokoh-tokoh dan istilah tradisional Sunda. Terlebih, ketika disodorkan buku-buku berbahasa Sunda konvensional, minat baca mereka cenderung minim.

“Karena itu, kami urun rembug dan mencoba memberikan alternatif agar mereka tertarik mengenal tokoh dan budaya Sunda melalui komik ini, tentu dikemas dengan bahasa kekinian yang mudah mereka pahami,” ujar Heru.

Menantang Arus di Tengah Lesunya Pasar Cetak

Heru bersama rekan-rekannya berani mewujudkan proyek ini di tengah tren penurunan penjualan komik cetak. Keyakinan mereka terlecut setelah melihat kesuksesan komik-komik lokal lain seperti “Bandit Batavia” (Betawi) dan “Rajasa” (Jawa) yang mendapat sambutan hangat dari para penggemar. Bagi Heru, khazanah budaya Sunda sangat kaya untuk digali, khususnya kisah dari tokoh-tokoh legendaris di Tanah Pasunda Sari.

“Memang kebanyakan anak muda saat ini lebih menggandrungi komik Jepang. Jadi, tidak salah dong jika kami menghadirkan komik dengan tokoh lokal yang juga patut dikenal oleh anak-anak muda,” tambah Heru.

Untuk tahap awal, pencetakan novel komik ini dilakukan secara terbatas dengan sistem pre-order. “Pajajaran Fighter” baru dicetak sebanyak 50 eksemplar, namun peminatnya sudah merambah hingga luar Bandung. Promosi saat ini masih berpusat di media sosial Instagram.

Heru menegaskan langkah ini sebagai bentuk “tes ombak” untuk mengukur respons pasar. Memasuki tahun 2027, mereka berencana merambah berbagai ajang konvensi komik, dengan proyeksi cetak maksimal di kisaran 200 eksemplar per terbitan.

Sawah Comics memperkenalkan debut terbarunya yang mengangkat kearifan lokal budaya Sunda melalui karya berjudul ‘Pajajaran Fighter’. (apijiwa.id/Istimewa)

Selain “Pajajaran Fighter”, Sawah Comics juga tengah menggarap proyek lain seperti “Kabayan” dan “Lutung Kasarung”. Jika penjualan versi cetak nantinya menghadapi kendala, mereka tidak menutup kemungkinan untuk beralih sepenuhnya ke platform digital.

Tidak hanya fokus pada cerita rakyat (folklore), anggota Sawah Comics lainnya, Wais Al Qorni, menyebutkan bahwa mereka juga menggarap komik bertema romansa berjudul “Love Move”. Langkah ini diambil bukan sekadar mempertahankan idealisme semata, melainkan juga memperhitungkan aspek komersial. Heru menambahkan, komik romansa ini mengambil sudut pandang khas kreator laki-laki, sebuah ruang yang selama ini lebih banyak dieksplorasi oleh komikus perempuan.

Menariknya, Sawah Comics sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi seperti UPI dan UNPAD, guna mengenalkan karya mereka kepada publik yang lebih luas. Bahkan, edisi cetak pertama telah dikirimkan ke perpustakaan khusus komik di Yogyakarta.

“Komik ini tentu memiliki pembagian rating atau jenjang usia. Karenanya, kami harus jeli memastikan target pembaca yang tepat untuk setiap karya yang dihadirkan,” ungkap Wais.

Evaluasi dan Harapan untuk Ekosistem Komik Lokal

Heru menegaskan bahwa seluruh karya ini dipersembahkan sebagai wujud cinta terhadap budaya daerah. Bukan berarti menutup diri dari komik luar, tetapi memberi ruang yang adil bagi karya lokal untuk dicintai di rumah sendiri.

Beberapa waktu lalu, komik mereka sempat di-review oleh seorang kritikus asal Bandung. Hasil penilaian menunjukkan bahwa ketebalan komik ini sudah di atas rata-rata karya sejenis dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi serial. Di sisi lain, kritikus tersebut mencatat beberapa catatan konstruktif, seperti alur (pacing) yang terlalu cepat serta konsistensi dalam penggambaran dan pewarnaan yang masih perlu diasah.

“Masukan itu tentu kami terima dengan baik untuk pengembangan karya selanjutnya,” kata Heru, yang rutin menggelar rapat evaluasi bersama tim setiap Jumat sore dan memanfaatkan media sosial untuk berdiskusi karena belum memiliki studio fisik.

Ke depan, Heru berharap kehadiran Sawah Comics dapat menjadi pemantik (trigger) bagi pembaca untuk mengenal sosok-sosok penting di Tatar Sunda. Selepas membaca komik ini, pembaca diharapkan tergerak menelusuri sumber-sumber literasi sejarah yang lebih dalam agar mendapatkan kisah yang utuh.

“Komik Pajajaran Fighter dicetak setebal 120 halaman dan dibanderol seharga Rp57.000. Bagi yang tertarik, pemesanan bisa dilakukan melalui akun Instagram @sawahcomics,” pungkas Heru menutup perbincangan.

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *