apijiwa.id – Mencetak generasi penghafal Al-Qur’an merupakan ikhtiar agar umat Islam, khususnya generasi muda, mampu menghafal sekaligus mencintai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Tergerak oleh visi mulia tersebut, KH Yayat Ruhiyat mendirikan Pesantren Agro Tahfiz Qur’an Al-Muqorrobun pada tahun 2017.
Lembaga ini didedikasikan khusus untuk mencerdaskan anak bangsa, terutama bagi kalangan yatim piatu, duafa, lansia, hingga tunanetra. Perjalanan ini tidaklah instan. Di awal pendiriannya, mendapatkan lahan dan kepercayaan santri adalah tantangan besar bagi KH. Yayat sebagai pendatang baru.
“Melalui pendekatan dan silaturahmi yang baik, perlahan tapi pasti, niat ini mulai membuahkan hasil,” ungkap sosok yang juga mendalami pengobatan thibbun nabawi ini.
Kini, pesantren tersebut berdiri kokoh di Kampung Barujaya, RT 01 RW 03, Desa Sukamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Dengan membina 35 santri jenjang SD hingga SMA, Al-Muqorrobun menerapkan pola didik berbasis kasih sayang. Selain fokus menghafal Al-Qur’an, para santri tetap mengenyam pendidikan umum untuk bekal masa depan mereka.

Di balik ketulusan niatnya, Pesantren Al-Muqorrobun berpijak pada kemuliaan hati para dermawan. Melalui jaringan relasi KH. Yayat yang luas hingga ke luar negeri, dana pendidikan terus mengalir secara sukarela.
Istimewanya, pesantren ini membebaskan biaya pendidikan sepenuhnya bagi para santri. Tanpa syarat seleksi yang rumit, Al-Muqorrobun membuka pintu lebar-lebar bagi siapa pun yang ingin memperbaiki nasib melalui Al-Qur’an.
“Program harian kami sangat padat dengan hafalan Qur’an. Kami ingin anak-anak ini tidak hanya belajar, tapi merasa dicintai. Karena itulah, pendidikan di sini gratis total demi mengatasi beban sosial yang mereka hadapi,” ungkap KH. Yayat.
Seluruh fasilitas di Pesantren Agro Tahfiz Al-Muqorrobun diberikan secara cuma-cuma. Mulai dari makan tiga kali sehari, uang saku, asrama, hingga bimbingan belajar dan pendampingan beasiswa ke perguruan tinggi.
“Kami terus berjuang demi masa depan mereka. Anak-anak ini memiliki potensi besar yang harus terus didorong,” ujar KH. Yayat Ruhiyat.
Pada bulan Ramadan tahun ini, fokus utama pengelola adalah meningkatkan ketakwaan sekaligus memperbaiki sarana ibadah. Salah satu prioritas mendesak adalah renovasi asrama dan MCK yang terdampak banjir pada 22 Februari 2026 lalu. Perbaikan ini menjadi sangat penting agar para santri dapat beribadah dengan tenang selama bulan suci.
“Kenyamanan adalah kunci agar santri betah dan fokus menghafal. Kami ingin memastikan mereka memiliki tempat tinggal yang layak dan aman dari banjir,” tambahnya.
“Saya mengajak seluruh kaum Muslimin, khususnya anak-anak yatim piatu, saudara kita penyandang tunanetra, hingga kaum lansia yang memiliki keinginan kuat belajar agama, silakan mendaftar di Pesantren Al-Muqorrobun. Seluruh fasilitas di sini gratis 100%,” ajak KH. Yayat Ruhiyat.
Lebih lanjut, beliau berpesan agar umat Islam kembali memprioritaskan pendidikan agama, terutama dalam memahami Al-Qur’an. Beliau mengkhawatirkan pergeseran gaya hidup generasi muda yang mulai menjauhi nilai-nilai Islam akibat pengaruh budaya luar yang tidak sesuai.
“Al-Qur’an adalah jati diri kita. Semoga kami bisa terus istikamah menjalankan amanah ini demi menjaga marwah umat,” pungkasnya.










