Advertisement

apijiwa.id – Lembaga ini memiliki sejarah pendirian yang khas, bermula dari gerakan advokasi terkait isu aliran sesat yang bertujuan mengedukasi dan memperkuat akidah umat Muslim. Terdaftar secara legal di bawah Yayasan Indonesia Peduli sejak 2016, institusi ini kini bertransformasi.

Menurut sang ketua, Ikbal Ropik, fokus utama mereka saat ini adalah sektor pendidikan melalui Pondok Pesantren Majelis Al Ghuroba Indonesia di Cimenyan, Kabupaten Bandung. Pesantren ini mengunggulkan program tahfiz Al-Qur’an, penguasaan bahasa Arab, serta bimbingan mengaji bagi anak-anak.

Program rutin lainnya adalah “Jaulah Dakwah” yang merupakan pengembangan dari konsep tablig akbar. Agenda ini bertujuan untuk menyebarluaskan syiar Islam yang komprehensif sekaligus membentengi umat dari pengaruh aliran sesat.

Ikbal Ropik menjelaskan bahwa lembaga ini juga aktif dalam aksi sosial, seperti penyaluran Al-Qur’an, buku Iqro’, bantuan pembangunan masjid, serta pengadaan mukena. Dalam aspek kemanusiaan, Majelis Al Ghuroba bersinergi dengan lembaga lain untuk membantu korban bencana alam, serta konsisten menyelenggarakan majelis taklim di berbagai masjid dan pondok pesantren di wilayah Kota Bandung.

Lembaga ini secara rutin menyelenggarakan pelatihan membaca Al-Qur’an setiap bulan melalui kolaborasi dengan Maqdis Mengembara. Mengenai aspek pendanaan, Ikbal menjelaskan bahwa seluruh biaya operasional bersumber dari para donatur (muwakif) yang mengamanahkan hartanya untuk perjuangan majelis.

Guna memperluas jangkauan dan efektivitas program, Majelis Al Ghuroba juga membangun sinergi strategis dengan berbagai institusi, seperti Dewan Dakwah, Pondok Pesantren Alam Maroko, Sultan Islamic Boarding School, serta beberapa lembaga mitra lainnya.

Majelis Al Ghuroba Indonesia bersinergi dengan lembaga lain untuk membantu korban bencana alam, di antaranya bencana Sumatera. (Deffy Ruspiyandy)

“Hal itu dilakukan sebagai bentuk sinergitas agar persoalan umat dapat diselesaikan secara bersama-sama,” tandasnya.

Cakupan gerak Majelis Al Ghuroba Indonesia tidak hanya terbatas di Bandung, tetapi sudah merambah skala nasional hingga internasional. Di Jawa Barat sendiri, mereka pernah melakukan perjalanan dakwah maraton selama empat hari guna menyambangi puluhan lokasi.

Kiprah nasionalnya mencakup wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. Tak hanya itu, lembaga ini juga menunjukkan kepeduliannya di Sumatera Barat dengan fokus pada pemulihan trauma bagi para korban bencana alam.

Di level internasional, Majelis Al Ghuroba pernah menyalurkan bantuan untuk masyarakat Muslim Pattani, bekerja sama dengan tokoh agama seperti Ustaz Edwin Senjaya dan almarhum Ustaz Abdul Hadi.

Fokus utama Majelis Al Ghuroba Indonesia saat ini adalah melalui kajian intensif guna memperdalam pemahaman keislaman, meskipun pemanfaatan media sosial diakui belum maksimal. Dalam aspek kemanusiaan, lembaga ini secara aktif terlibat dalam berbagai aksi sosial, seperti pembangunan infrastruktur saluran air di Sumatera Barat dan penyaluran sembako bagi korban bencana.

Mengenai tantangan operasional, Ikbal mengungkapkan bahwa sistem penggalangan dana saat ini masih bersifat situasional (insidental) sesuai kebutuhan kegiatan. Namun, untuk ketersediaan Al-Qur’an, pihak majelis telah menjalin kemitraan strategis dengan Muhajir Project Peduli yang mampu memasok hingga 1.000 mushaf dalam sekali pengiriman. Sementara itu, pengadaan buku Iqro’ untuk program pemberantasan buta aksara Al-Qur’an masih memerlukan penggalangan dana khusus.

Rencana besar untuk tahun 2026 akan dititikberatkan pada pengembangan pesantren demi melahirkan generasi pelanjut. Program ini berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan umat serta kesiapsiagaan dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan setiap kali terjadi bencana alam.

“Saya pun berharap jika di dalam majelis ini selalu tercipta persatuan yang kokoh serta memiliki semangat berjuang untuk umat, sehingga keberadaan majelis ini banyak manfaat yang dirasakan oleh umat,” imbuh Iqbal Rofik kepada apijiwa.id.

Mengakhiri perbincangan, Ikbal mengajak umat untuk tetap bersatu meski dalam perbedaan. Mengingat banyaknya persoalan yang tak bisa ditangani sendirian, ia mendorong adanya sinergi dengan berbagai lembaga.

“Mari kita jalankan syariat Islam dengan baik dan perkuat ukhuwah,” ajaknya.

Ia menegaskan bahwa jika bukan kita yang peduli dan bergerak mengatasi masalah umat, lalu siapa lagi yang akan melakukannya.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.