Advertisement

apijiwa.id – Kehadiran lembaga yang memiliki kepedulian nyata terhadap umat sangat dibutuhkan oleh kaum Muslimin di mana pun mereka berada. Lembaga seperti ini menjadi ujung tombak dalam menangani berbagai problematika umat.

Berangkat dari urgensi tersebut, Empathy Foundation hadir untuk menjawab tantangan zaman dan menjalin kolaborasi lintas lembaga yang memiliki visi serupa, tanpa terikat batasan teritorial. Lembaga ini fokus pada pemenuhan kebutuhan edukasi serta advokasi masyarakat di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, lingkungan, hingga aksi penyelamatan (rescue).

Menurut Ketua Yayasan Empathy Foundation, Abdurahman Anton Minardi, organisasi ini resmi dideklarasikan di Istanbul, Turki, pada tahun 2000.

“Masalahnya saya melihat secara nyata bahwa terlalu banyak masalah umat yang belum terselesaikan secara baik. Karenanya, saya bersama rekan berinisiatif mendirikan lembaga ini. Ikhtiar ini mesti dilakukan agar ada kontribusi bagi umat,” terang Anton kepada apijiwa.id dalam sebuah kesempatan.

Menurut Anton, fokus utama lembaga ini adalah memberikan edukasi serta advokasi di bidang sosial, kesehatan, dan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa umat Islam seringkali mendapatkan perlakuan tidak adil dari pihak tertentu, sehingga advokasi menjadi hal yang krusial.

Tim Empathy Foundation yang senantiasa siap berkhidmat untuk umat. (empathyfoundation.id)

Di sektor kesehatan, Empathy Foundation berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat sekaligus memberikan bantuan medis bagi mereka yang membutuhkan. Selain itu, penciptaan lingkungan yang layak juga menjadi prioritas. “Kami senantiasa memperhatikan ketiga aspek tersebut agar semuanya berjalan selaras,” tambahnya.

Program-program yang dijalankan meliputi kegiatan Majelis Taklim, pengelolaan Pondok Pesantren, berbagai kajian keilmuan, hingga pelaksanaan ibadah Qurban dan penyaluran santunan bagi kaum duafa. “Saat ini, donasi masih berasal dari kalangan terbatas di lingkungan internal, keluarga, dan kolega. Namun, saya tetap optimis untuk terus berbuat nyata bagi umat,” ungkap pria yang juga mengajar Ilmu Sosial Politik di Universitas Pasundan Bandung tersebut.

Saat ini, Empathy Foundation aktif menangani berbagai problematika umat, khususnya di Kota Bandung dan wilayah lain yang terjangkau, termasuk penyaluran donasi melalui relawan di mancanegara.

Kiprah internasionalnya tercatat saat memberikan bantuan jaket dan selimut bagi Muslim Uighur, serta tergabung dalam Afghanistan Support Working Group untuk membantu korban gempa bumi tahun 2022. Di dalam negeri, lembaga ini juga hadir di garis depan saat pandemi COVID-19 dengan menyalurkan bantuan sembako bagi warga terdampak.

Di bawah kepemimpinan Anton, organisasi ini konsisten menyalurkan bantuan berupa uang tunai maupun barang kebutuhan pokok. Keputusan ini diambil berdasarkan analisis langsung tim di lapangan. Bantuan barang diberikan agar manfaatnya bisa segera dirasakan, sementara bantuan uang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan mendesak lainnya. “Intervensi kami lakukan sesuai kondisi riil dan skala prioritas yang paling utama,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai advokat tersebut.

Pada tahun 2026, Empathy Foundation akan semakin menggencarkan program edukasi dan penyaluran santunan. Edukasi dipandang sebagai kunci untuk memperluas wawasan umat agar mampu berkembang secara mandiri, sementara santunan tetap diberikan sebagai respons atas realitas sosial yang ada.

“Saya menyadari masih banyak umat yang membutuhkan bantuan di berbagai aspek. Sulit bagi seseorang untuk tenang memahami agama jika perutnya kosong karena kekurangan. Namun, bantuan ini sifatnya stimulan. Kami sangat berharap, setelah dibantu, mereka memiliki dorongan untuk bangkit dan mandiri,” tegas Anton.

Anton menyadari tantangan administratif yang dihadapi, yakni belum adanya izin Lembaga Amil Zakat (LAZ) atau rekomendasi resmi Kemensos untuk melakukan fundraising secara luas. Hal ini disebabkan oleh persyaratan yang kompleks dan birokrasi yang panjang, padahal kebutuhan masyarakat akan peran relawan terus meningkat.

“Kami tetap berbuat semaksimal mungkin sesuai kemampuan tanpa terhalang oleh kendala administratif tersebut,” tutur pria yang juga seorang dai ini.

Ia berkomitmen untuk terus mengupayakan perizinan LAZ atau Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) agar penghimpunan dana dapat dilakukan secara optimal di masa depan.

Sebagai penulis yang aktif menelurkan buku bertema politik, Anton berharap semua pihak dapat meningkatkan kepedulian dan kontribusi nyata demi mengangkat derajat pendidikan, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat. “Kitalah yang harus memperjuangkan perubahan itu, dan itu harus dimulai dari sekarang,” pungkasnya menutup obrolan.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.