Advertisement

apijiwa.id – Penyandang tunanetra hadir di dunia dengan kekurangan dan kelebihannya. Kendati begitu,  pada dasarnya, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berbagai aspek. Salah satunya ditunjukkan Puteri Ariani, seorang penyanyi tunanetra yang sudah mendunia. Maka, tak ada alasan bagi mereka merasa lemah dan tak berdaya, karena sebenarnya mereka juga dikaruniai kemampuan yang bisa dioptimalkan.

Adalah Trio Agus Kusmawanto, seorang tunanetra yang memiliki kepedulian terhadap mereka yang bernasib sama dengannya. Ia mendirikan Yayasan Mata Firdaus Indonesia yang dilatarbelakangi oleh tersebarnya Al-Qur’an Braille, tetapi tidak diimbangi pemahaman yang baik, bahkan pengajarnya belum memiliki kemampuan yang bisa diandalkan.

Realitas itu menjadi perhatian khusus Trio Agus Kusmawanto. Di sisi lain, ia juga merasakan kondisi kaum tunanetra yang hampir mayoritas keadaan ekonominya di bawah. “Di sini kami menguatkan dalam urusan ekonomi dengan meningkatkan skill marketing hingga mereka bisa berjualan secara online,” jelas Trio.

Yayasan Mata Firdaus Indonesia didirikannya pada 22 Desember 2022 dengan dorongan pentingnya menyelaraskan banyaknya Al-Qur’an Braille dengan kemampuan membaca Al-Quran Braille di kalangan kaum tunanetra. Sehingga kehadiran Al-Qur’an Braille dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, karena membaca Al-Qu’an merupakan ibadah bagi orang yang beriman, termasuk bagi penyandang tunanetra.

“Kita lihat saat ini, angka kemampuan membaca Al-Qur’an Braille di mana-mana semakin hari semakin meningkat,” ujar Trio yang dikenal juga sebagai pendakwah yang aktif.

Membaca Al-Qur’an dan Kemandirian Ekonomi

Salah satu program Trio melalui Yayasan Mata Firdaus Indonesia adalah meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an Braille kepada para anggotanya. Menurutnya, awalnya kajian baca Al-Qur’an Braille dilakukan sebulan dua kali, namun karena kendala finansial, maka akhirnya dilakukanlah sebulan sekali.

“Sebaliknya untuk membentuk kemandirian dalam bidang ekonomi, kami pernah melakukan pembuatan kue dan dipasarkan melalui marketplace dan penjualan secara online. Tidak lupa juga dilakukan pelatihan motivasi untuk etos kerjanya,” terang Trio.

Aspek pendanaan organisasi, menurut Trio, tengah dibangun dengan lebih memperkuat kemandirian ekonomi, agar bisa mendanai program-program yang dicanangkan secara mandiri, sehingga tidak menggantungkan pengajuan proposal bantuan.

Bila tergantung pada proposal, menurutnya, akan membuat lembaga jauh dari independen dan terkesan dijadikan komoditas untuk selalu dibantu.

“Kami ingin mandiri, sehingga bebas melakukan program tanpa diintervensi. Bukan sok idealis, tetapi kami ingin mandiri secara baik, baik secara kuantitas maupun kualitas. Lebih dari itu, kami pun menghindari stigma jika kaum tunanetra itu lemah. Kami ingin eksis dan mampu melakukan apa saja secara mandiri,” ungkapnya penuh semangat.

Berjualan Online

Trio menyatakan, sejauh ini program penguatan ekonomi yang dilakukannya adalah dengan berjualan makanan dan pakaian secara online. Tidak hanya itu, para anggota pun berjuang bisa berjualan mukena dan alat-alat rumah tangga, juga secara online melalui media sosial.

Masih menurut Trio, secara keseluruhan, anggotanya di Bandung Raya ada sekitar 90 orang, namun yang aktif sebanyak 40 orang. Ia tetap berkomitmen melakukan kegiatan pemberantasan buta huruf Al Qur’an Braille dengan melakukan kegiatan di sekretariat yayasan di Perumahan Permata Tamansari, Cisaranten Kulon, Kota Bandung.

“Selain itu, kami melakukan pembinaan secara kontinu untuk menumbuhkan kepercayaan diri anggota agar mampu berjualan secara online. Skill mereka diasah sehingga bisa menjadi penjual yang baik dan bisa bersaing,” tegas Trio yang selalu tampil sederhana.

Saat ini, Yayasan Mata Firdaus Indonesia tidak menggandeng lembaga lain karena sedang fokus pada program penguatan ekonomi secara mandiri yang dilakukannya secara internal.

Menurut Trio, sejauh ini lembaga yang banyak membantu adalah perusahaan properti X-PRO yang yang berada di kawasan Arcamanik, Kota Bandung, dan pemiliknya pun menjadi pembina yayasan yang didirikannya.

“Sementara kendala kami hadapi adalah belum adanya sekretariat yang representatif dan bisa digunakan untuk berkoordinasi, dijadikan toko untuk menjual hasil karya kami, serta bisa dijadikan tempat pijat, karena kaum tunanetra banyak yang bagus kemampuannya dalam memijat. Semoga ke depan, kami bisa mendapatkannya,” harapnya.

Kepuasan Batin

Secara keuntungan, Trio mengungkapkan dirinya lebih mendapatkan kepuasan batin karena bisa mendampingi teman-teman tunanetra untuk berdaya dan berkarya. Namun, jika ditanya materi, ia mengaku tidak ada.

Dengan mereka tidak minder, Trio bersyukur, karena mereka memang dibentuk untuk kuat. Ia ingin melahirkan pengusaha tunanetra yang tangguh, karena ia punya motto ‘Kita Bisa, Kita Setara’.

“Oleh sebab itu, saya bangga ketika ada tunanetra yang bisa service handphone, menjalankan usaha kuliner, serta mampu mengembangkan potensinya membuat kerajinan yang bisa dijual,” ujar Trio.

Sejau ini banyak kemajuan yang bisa dibanggakan. Secara mental, banyak tuna netra yang percaya diri menjalankan usahanya, baik dalam olahan kuliner maupun produksi di bidang yang lain. Bahkan ada juga yang berprestasi dalam dunia olahraga.

Trio menargetkan, tahun 2026 ingin memiliki sekretariat yang strategis yang bisa digunakan untuk memproduksi taplak dan keset, menjadi tempat servis, dan bisa dijadikan tempat berkumpul. “Semoga harapan tersebut dapat terwujud dan bisa memberi manfaat untuk kaum tuna netra,” pungkasnya berharap.

Yayasan Mata Firdaus Indonesia
Jalan Permata Tamansari  1 No. 9 Cisaranten Kulon, Arcamanik, Kota Bandung
Nomor kontak: 0851-0124-2430, E-mail: matafirdaus@gmail.com, Instagram: @matafirdaus

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.