Advertisement

apijiwa.id – Perjalanan mudik di Pulau Jawa adalah sebuah ritual tahunan yang penuh cerita. Di antara padatnya lalu lintas, tantangan terbesar seringkali adalah menemukan tempat makan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga autentik dan lezat.

Sebagai jawaban atas pencarian ini, hadirlah buku “100 Mak Nyus Jalur Mudik, Jalur Pantura dan Jalur Selatan Jawa” (Penerbit PT Kopitiam Oey Indonesia, 2018). Buku ini, boleh dibilang, merupakan panduan kuliner “paling otoritatif”, ditulis oleh trio penulis kuliner: Bondan Winarno, Lidia Tanod, dan Harry Nazarudin.

Persembahan Terakhir Sang Maestro

Di balik sampulnya yang penuh warna, buku ini menyimpan kisah perjuangan dan dedikasi yang mendalam. Proyek ini merupakan karya terakhir dari Bondan Winarno sebelum ia berpulang.

Dimulai pada Januari 2017, semangat Bondan Winarno untuk merampungkan buku ini tidak pernah padam, bahkan ketika ia jatuh sakit. Dalam kondisi terbaring di rumah sakit, Bondan tetap bersemangat untuk melanjutkan proyek bukunya itu.

Sayangnya, takdir berkata lain. Sang maestro kuliner tutup usia pada 29 November 2017, saat proyek hampir rampung. Tim yang sempat goyah memutuskan untuk melanjutkan perjuangan ini sebagai sebuah penghormatan.

Tim yang nyaris menyerah, pada Januari 2018 mengusulkan kepada pihak sponsor dan penerbit untuk melanjutkan proyek ini. Pertimbangannya, toh Pak Bondan sudah menulis lengkap soal tujuan kulinernya, dan buku ini bisa merangkap tribute untuk jasa Pak Bondan di dunia kuliner tradisional Indonesia.

Keputusan ini menjadikan buku 100 Mak Nyus Jalur Mudik bukan hanya sekadar kumpulan rekomendasi, tetapi sebuah monumen sentimental dan karya pamungkas dari seorang legenda kuliner Indonesia.

Di antara keistimewaan buku ini terletak pada kemampuannya mengungkap permata kuliner yang selama ini tersembunyi dari radar publik. Selain membahas hidangan populer, Pak Bondan dan timnya memperkenalkan kita pada hidangan-hidangan lezat yang jarang diketahui.

Tiga di antaranya benar-benar mencuri perhatian: Pertama; Pedesan Entog (Indramayu). Hidangan pedas ini lahir dari tradisi syukuran panen padi yang disebut medes. Entog (sejenis itik) dipilih karena dagingnya yang lebih tebal dan empuk dibanding bebek, menjadikannya pilihan sempurna untuk masakan berkuah dengan aneka rempah yang kuat.

Kedua; Sayur Ontong (Tuban): Ontong adalah sebutan untuk jantung pisang. Bahan yang umumnya dianggap bergetah dan sulit diolah ini, di tangan ahli masak Tuban, berubah menjadi sajian gurih yang luar biasa. Rasa getahnya hilang sama sekali, namun tekstur dan aroma khas jantung pisang tetap terasa, menciptakan sensasi yang unik di lidah.

Ketiga; Nasi Goreng Piritan (Ciamis): Jika Anda mengira sudah mencoba semua jenis nasi goreng, Anda harus mencoba yang satu ini. Piritan adalah jeroan ikan yang digoreng hingga kering. Nasi gorengnya sendiri tampil beda dengan warna kuning karena menggunakan mentega alih-alih kecap. Dihiasi irisan cabai merah dan hijau yang membuatnya nampak cantik, taburan piritan di atasnya memberikan aroma khas yang membuat siapa pun ketagihan untuk terus menyuap.

Mengangkat Martabat Kuliner Lokal

Jargon “Pokok’e mak nyus” yang dipopulerkan oleh Bondan Winarno lebih dari sekadar slogan; ia adalah sebuah katalisator budaya. Ungkapan ini menjadi sebuah counter-movement yang berhasil mengangkat kembali kepercayaan diri para pelaku usaha kuliner tradisional di belantika perkulineran Indonesia yang kala itu mulai didominasi oleh pelbagai kuliner modern.

Berkat pengaruhnya, warung-warung legendaris kembali ramai dikunjungi, bahkan oleh kalangan anak muda yang kini tidak lagi malu menikmati kekayaan rasa dari dapur-dapur tradisional. Jargon ini berhasil menjadikan wisata kuliner lokal sebagai sebuah tren yang membanggakan.

Di era digital, buku ini menunjukkan relevansinya dengan menyematkan fitur-fitur modern yang sangat praktis bagi para pelancong. Dua fitur utamanya menjadikan buku ini lebih dari sekadar kumpulan ulasan di atas kertas:

Pertama; Resep di setiap entri. Setiap ulasan kuliner tidak hanya berhenti pada deskripsi rasa, tetapi juga dilengkapi dengan resepnya. Ini adalah undangan terbuka bagi para pembaca untuk bereksperimen dan mencoba menghadirkan kembali kelezatan “mak nyus” di dapur mereka sendiri.

Kedua; Integrasi QR Code. Setiap rekomendasi rumah makan dilengkapi dengan QR Code. Cukup dengan memindainya menggunakan smartphone, Anda akan langsung terhubung ke lokasi persisnya di Google Maps. Fitur ini menghilangkan kemungkinan tersesat dan membuat petualangan kuliner Anda menjadi jauh lebih mudah dan efisien.

Cakupan Luas Jalur Pantura dan Selatan

Buku ini memetakan kekayaan kuliner Jawa secara komprehensif dengan membaginya ke dalam dua jalur utama: Jalur Pantai Utara (Pantura) dan Jalur Selatan. Hebatnya, buku ini tidak hanya mengulas yang populer, tetapi juga mengungkap harta karun tersembunyi di sepanjang kedua rute.

Pertama; Jalur Pantura. Di jalur ini, Anda tentu akan menemukan ulasan kuliner masyhur seperti sate maranggi (Purwakarta), nasi jamblang (Cirebon), dan rawon (Surabaya). Namun, buku ini juga mengajak Anda mencicipi permata tersembunyi seperti pedesan entog (Indramayu), kepiting gemes (Pekalongan), dan kari rajungan (Tuban).

Kedua; Jalur Selatan. Di jalur selatan ini, Anda akan dipandu menuju kelezatan soto bandung (Bandung) dan sate klatak (Yogyakarta) yang legendaris. Tak berhenti di situ, buku ini juga mengungkap rekomendasi yang jarang dikenal publik, seperti nasi goreng piritan (Ciamis), sate siboen (Ponorogo), dan rujak soto (Banyuwangi).

Pada akhirnya, 100 Mak Nyus Jalur Mudik lebih dari sekadar buku panduan perjalanan. Ia adalah sebuah ensiklopedia rasa, sebuah warisan pengetahuan kuliner, dan tribute yang tulus untuk dedikasi Bondan Winarno. Buku ini adalah bukti bahwa di sepanjang jalanan ramai Pulau Jawa, tersimpan harta karun rasa yang menunggu untuk ditemukan.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.