apijiwa.id – Saat Anda berjalan-jalan di supermarket menjelang akhir Januari dan mendadak melihat tumpukan blok cokelat mengilat yang dikemas plastik bening dengan stiker merah menyala, pemandangan ini adalah “tanda alam” yang lebih akurat daripada ramalan cuaca mana pun: Tahun Baru Imlek segera tiba.
Kue keranjang, dengan teksturnya yang lengket dan aroma legit yang khas, seringkali kita anggap sebagai sekadar kudapan musiman. Namun, di balik balutan plastiknya, tersimpan narasi panjang tentang pelarian, strategi politik “menyuap” dewa, hingga sejarah kelam yang sempat terbungkam selama tiga dekade.
Sebagai penikmat kuliner budaya, mari kita bedah mengapa kue ini jauh lebih berbobot daripada sekadar tumpukan gula dan ketan.
Istilah “Imlek” dan Keunikan Identitas di Indonesia
Tahukah Anda bahwa istilah “Tahun Baru Imlek” ternyata hanya dikenal di Indonesia? Pakar kuliner mendiang Aji ‘Chen’ Bromokusumo dalam catatannya menjelaskan bahwa kata “Imlek” berakar dari dialek Hokkian. Secara etimologi, ia berasal dari kata Yĩn li yang berarti “penanggalan bulan” (lunar calendar).
Hal ini kontras dengan kalender masehi yang kita gunakan sehari-hari, yang dalam bahasa Mandarin disebut Yáng li atau “kalender matahari”. Penggunaan istilah ini di tanah air mencerminkan kuatnya pengaruh migrasi masyarakat dari pesisir Tiongkok Selatan (Hokkian) ke Nusantara.
Ini adalah bukti nyata asimilasi budaya; di mana sebuah istilah teknis penanggalan berubah menjadi identitas perayaan yang hanya dimiliki oleh Indonesia.
Jejak Sejarah yang Sempat Terbungkam
Menikmati kue keranjang di ruang publik adalah kemewahan yang sempat hilang. Antara tahun 1968 hingga 1999, aroma manis kue ini harus disembunyikan di balik pintu-pintu rumah yang tertutup rapat. Melalui Inpres No. 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru melarang segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa di depan umum.
Baru pada tahun 2000, di bawah keberanian Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kebebasan ini dikembalikan. Gus Dur mencabut larangan tersebut, membiarkan kue keranjang kembali naik ke permukaan sebagai simbol keteguhan identitas.
Selama 32 tahun, kue ini adalah saksi bisu sebuah komunitas yang merawat tradisi secara sembunyi-sembunyi, menanti fajar demokrasi untuk bisa kembali merayakan keberagaman secara terbuka.
Aslinya Bukan Pencuci Mulut yang Manis
Fakta ini seringkali mengejutkan para pencinta dessert: kue keranjang awalnya tidak manis. Sejarah mencatat kue ini sudah ada sejak awal Dinasti Liao (907-1125), namun baru mencapai puncak popularitasnya pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing.
Di negara asalnya, penyajiannya justru lebih mirip dengan kwetiau goreng—dimasak gurih dengan bawang putih, daun bawang, irisan daging babi, dan udang.
Pemerhati sejarah Semarang, Jongkie Tio, menyebutkan bahwa kue ini masuk ke Nusantara bersamaan dengan para pelaut Tiongkok pada tahun 400-an. Saat mendarat, mereka membawa kue ini sebagai hantaran wajib di klenteng sebagai syukur kepada Dewa Bumi.
Seiring waktu, terjadi adaptasi luar biasa dengan selera lokal. Kue yang tadinya gurih bertransformasi menjadi penganan manis yang kita kenal sebagai thi kue, kue bakul, atau kue ranjang. Teksturnya yang legit pun menjadikannya saudara sepupu bagi kudapan lokal seperti Dodol Garut, Dodol Betawi, dan Jenang Kudus.
Nama “Kue Keranjang” sendiri lahir dari detail teknis pembuatannya: penggunaan anyaman rotan sebagai cetakan saat proses pengukusan seharian penuh, yang meninggalkan pola unik pada permukaan kue dan aroma bambu yang samar namun menggoda.
Strategi “Menyuap” Dewa Dapur dan Legenda Raksasa Nian
Mengapa kue ini harus lengket dan manis? Ada dua mitos besar yang melatarbelakanginya. Pertama; kisah pemuda bernama Gao yang menyelamatkan penduduk dari raksasa Nian. Gao mengakali raksasa tersebut dengan memberikan kue lengket agar mulut si monster tertempel rapat, sehingga ia tak lagi bisa memangsa manusia. Dari sinilah nama Nian Gao berasal.
Mitos kedua jauh lebih humanis sekaligus tragis, yakni tentang Dewa Dapur (Dewa Tungku). Konon, ia adalah arwah seorang suami yang bunuh diri di dapur karena malu akan kemiskinannya. Setiap akhir tahun, sang Dewa akan naik ke langit untuk melaporkan perilaku setiap keluarga kepada Raja Surga.
Warga memberikan persembahan kue yang sangat manis dan lengket dengan satu tujuan pragmatis: agar sang Dewa merasa senang dan hanya melaporkan hal-hal yang ‘manis’ saja. Jika pun ia ingin melaporkan keburukan, mulutnya diharapkan sudah tersumpal oleh ketan yang lengket sehingga tak sempat membocorkan rahasia rumah tangga mereka.
Matematika Keberuntungan dan Pantangan Angka 4
Dalam filosofi Tionghoa, setiap makanan adalah doa yang terwujud dalam bentuk dan angka. Nama Nian Gao sendiri adalah permainan kata (wordplay) yang cerdas. Nian berarti lengket (homofon dengan kata ‘tahun’), dan Gao berarti tinggi. Maka, menyusun kue keranjang secara bertumpuk tinggi adalah simbol harapan agar rezeki dan derajat hidup terus menanjak di tahun yang baru.
Bentuknya yang bulat melambangkan persatuan keluarga yang utuh tanpa sudut pemisah, sementara tekstur lengketnya adalah simbol persaudaraan yang erat. Namun, hati-hati dalam menyajikannya. Jangan pernah menyajikan 4 buah kue keranjang. Dalam bahasa Mandarin, angka empat (Shi) terdengar identik dengan kata “mati”. Untuk mengundang keberuntungan, sajikanlah dalam jumlah ganjil atau angka 6 yang dianggap membawa kelancaran.
Makna di Setiap Gigitan
Membuat sepotong kue keranjang bukanlah perkara instan; ia membutuhkan proses pengukusan hingga 24 jam. Ini adalah pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan hati—bahwa hasil yang manis hanya bisa dicapai melalui proses yang panjang dan konsisten.
Saat Anda menikmati sepotong kue keranjang, ingatlah bahwa Anda tidak hanya sedang memakan gula dan ketan. Anda sedang mencecap sejarah panjang, menghormati perjuangan identitas yang sempat terbungkam, dan menelan doa-doa baik yang telah bertahan selama ribuan tahun.














