apijiwa.id – Tempat-tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa sangat banyak. Pengeramatan sebuah tempat, selain berkaitan dengan sejarah, juga dipengaruhi sosok penting yang terhubung dengan tempat tersebut.
Kekeramatan juga diperkuat dengan suasana tempat yang biasanya terkesan angker, seperti adanya pohon-pohon besar. Akan semakin dikeramatkan apabila ada kepercayaan yang menyertai, misalnya bila orang bersikap sembarangan atau tidak menjaga adab, akan mengalami suatu musibah.
Kenduruan
Kenduruan adalah salah satu tempat yang dikeramatkan. Penamaan Kenduruan dengan nama Kanduruan sangatlah mirip. Penamaan ini berkaitan dengan gaya tutur orang Jawa yang sering dalam penyebutan memiliki gaya bahasa yang tidak baku.
Nama Kenduruan bisa diambil dari nama corak tempat tersebut yang dhuwur atau tempat yang tinggi. Dengan imbuhan awalan dan akhiran, maka menjadi Kandhuwuran, di mana tempat area Kenduruan merupakan tempat paling tinggi di wilayah tersebut.
Nama Kenduruan juga bisa berasal dari nama tokoh yang dihormati yang menguasai tempat tersebut, sehingga diberi nama Kenduruan. Namun, bisa juga penamaan tersebut sebagai ungkapan simbolis di mana pernah terjadi pertempuran antara pasukan Mataran Islam dengan Adipati Pragolapati yang terjadi di Grobogan dan Adipati Pragola Pati terkalahkan dan terluka sehingga ia ngluntruk/kenduruk di sana.
Kenduruan sendiri adalah sebuah areal tanah dengan luas sekitar 1,5 Ha yang berlokasi di Kampung Kauman, Kelurahan Wirosari, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan.
Masyarakat setempat kadang menyebutnya Kenduruan, kadang menyebut Kanduruan. Di arena Kenduruan terdapat 9 pohon Randu Alas yang dipercaya berusia ratusan tahun dan terdapat sebuah makam utama dan dua makam pengiring.
Antara Mitos dan Sejarah
Saat menjadi Lurah Wirosari tahun 2009, saya mendapatkan informasi dari warga setempat bahwa ada tanah di pinggir kampung Kauman yang posisinya paling tinggi (dhuwur). Tanah itu dikeramatakan warga dan tidak ada yang berani mendiami atau menguasai tanah tersebut.
Di arel tanah yang seluas 1,5 Ha ini sampai sekarang masih utuh menjadi tanah adat Kelurahan Wirosari. Kekeramatan Kanduruan/Kenduruan ini juga dibuktikan dengan suasana pekarangan yang rimbun oleh banyaknya pepohonan dan sembilan pohon randu alas berusia ratusan tahun.
Menurut cerita warga, konon pernah ada orang yang akan menggarap tanah tersebut, namun kemudian orang tersebut sakit dan meninggal dunia. Demikian pula di waktu lain, juga ada yang mencoba menggarap tanah tersebut, namun juga sakit dan meninggal dunia.
Kekeramatan area Kanduruan juga berkaitan atau dikaitkan dengan kisah sosok penting di zaman Kesultanan Demak dan Mataram Islam awal. Di masa itu ada sosok penting bernama Nyai Randu songo, salah satu putri Kesultanan Demak.
Sejauh ini sulit dilacak keberadaannya, namun nama Nyai Randu Songo dicirikan dengan area Kenduruan yang terdapat pohon Randu Alas sebanyak 9 buah yang sudah berusia ratusan tahun dan masih berdiri tegak hingga kini. Pohon ini sangat besar berdiameter keliling pohon mencapai 20 meter.
Ada juga yang mengisahkan bahwa Sultan Fatah, Sultan Demak, memiliki istri bernama Randu Songo binti Sunan Bonang. Dari pernikahan ini, kemudian melahirkan putra yang bergelar Adipati Kenduruan.
Relasi Kenduruan dan Nyai Ageng Kenduruan
Kisah tentang Nyai Randu Songo memiliki putra bernama Ki Kenduruan, yang di beberapa catatan sejarah lama terdapat sosok yang bernama Kenduruan yang pernah menjadi bupati. Berdasar itu, pada tahun 2024, diadakan Haul Adipati Kenduruan ke-397 oleh masyarakat sekitar. Apakah memang demikian?
Secara akademis memang masih diperlukan kajian geneologis dan historis atas pernyataan ini. Namun kisah ini bisa menjadi bagian catatan untuk penelitian lebih lanjut.
Sementara itu, di Pati juga ada nama tokoh Nyai Ageng Kenduruan, seorang pertapa wanita yang sangat sakti. Pertapa ini mempunyai kakak kandung bernama Mbah Kopek dan adik bernama Mbah Singopadu.
Sejarah tentang Nyai Ageng Kenduruan sudah tertulis pada Babad Pati. Adipati Pati ketika itu, Wasis Joyokusumo, sudah menjadi salah satu murid dari Nyai Ageng Kenduruan. Bahkan Nyai Ageng Kenduruan juga diangkat sebagai penasehat Bupati Pati Wasis Joyokusumo.
Punden atau tempat moksanya Nyai Ageng Kenduruan sangat dikeramatkan oleh masyarakat Desa Lahar dan Desa Ngurenrejo, Wedarijaksa, Pati. Keterkaitan antara Kenduruan ini dengan kisah Nyai Ageng Kenduruan memerlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam.
Sebenarnya, banyak tempat lain di Jawa yang memakai nama Kenduruan, seperti Kecamatan Kenduruan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Ada juga nama kecamatan yang mirip, yaitu Kecamatan Kunduruan, Kabupaten Blora.
Kenduruan di Masa Mataram Islam
Sedangkan nama tokoh Kenduruan di masa Sultan Agung di Mataram dan masa Adipati Pragolapati II, ada nama Adipati Kenduruan. Pada tahun 1627, terjadi perseturuan antara Pesantenan (Pati) yang dipimpin Adipati Pragolapati II dengan pasukan Sultan Agung, di mana pasukan Adipati Pragola II dibantu oleh enam tumenggung: Tumenggung Mangunjaya, Adipati Kenduruan, Tumenggung Ramananggala, Tumenggung Tohpati, Adipati Sawunggaling, dan Tumenggung Sindurejo, serta seluruh rakyat Pati.
Pada Jumat Wage, 4 Oktober 1627 M, Adipati Pragolapati II wafat setelah tertusuk tombak Kyai Baru milik Sultan Agung, yang diserahkan pada Lurah Kapedak, Naya Derma. Sang adipati meninggal dan dikebumikan di Sendang Sani, Pati.
Apabila melihat nama-nama adipati pendukung Adipati Pragolapati II, ada yang bernama Adipati Kenduruan, bisa jadi wilayah Wirosari dulunya menjadi milik Pesantenan, karena pada masa itu, batas wilayah antara Mataram dengan Pragolapati sebagai pembatas wilayah berupa Pegunungan Kendeng utara.
Dulu, Kecamatan wirosari merupakan wilayah kabupaten mandiri, belum menjadi wilayah Kabupaten Grobogan, dengan nama Kadipaten Warung. Baru setelah masa Perjanjian Giyanti berubah nama menjadi Wirosari.
Kedekatan peristiwa pertempuran Adipati Pragolapati ini, di Kampung Kauman ada nama Kampung Pragola yang persis berada di selatan area Kenduruan.
Tradisi yang Berkembang
Dalam bentuk penghormatan tempat, tokoh, dan peristiwa di area Kenduruan, oleh masyarakat setempat dilakukan beberapa tradisi di Kenduruan. Salah satunya, area 1,5 Ha tanah ini menjadi tanah yang dikeramatkan dan dilestrarikan dengan mendirikan aula Sangar Budaya Wirosari, dan pelestarian makam tua di kompleks area tersebut, serta pelestraian sembilan pohon randu alas.
Adapun untuk kegiatan budaya, di lokasi ini, setiap tahun diadakan tradisi Sedekah Bumi oleh warga Kampung Kauman. Demikian pula, ada beberapa warga yang apabila memiliki hajat, mengirim sedekah (shodaqohan) dan berzikir, serta memanjatkan doa di makam tua yang ada di tengah puncak area ini.
Saat ini, untuk menguatkan tradisi dakwah agama, di sebelah selatan kompleks Kenduruan, didirikan madrasah diniyah (madin) dan musala “Mamba’ul ‘Ulum” yang dikelola oleh Ustaz Syahid Nur Mahmudi, AH.
Di madin ini, banyak anak belajar keagamaan serta bermain di kompleks Kenduruan. Pada saat Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) juga dilakukan pengajian, selawatan, pentas drama ketropak anak, bahkan juga pagelaran wayang kulit saat acara sedekah bumi dan Haul Kenduruan.
Sedangkan untuk para pemuda, area Kenduruan dijadikan lokasi kegiatan olah raga seperti bola Voli. Sementara para petani di kampung Kauman menjadikan Kenduruan sebagai lokasi menggembala ternak mereka, baik kambing maupun sapi.
Intinya, lokasi Kenduruan menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar, di balik semakin sempitnya lahan milik warga karena pertumbuhan penduduk dan pembangun. Tanah Kenduruan menjadi ruang publik bagi masyarakat yang harus dilestarikan.
Kekeramatan tanah Kenduruan bisa diambil sisi positifnya, yaitu tetap utuh dan terpelihara sehingga masyarakat tetap memiliki ruang publik untuk berbagai kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan kemasyarakatan.










