| Detail Bibliografis | Informasi |
| Judul | Manusia dan Gunung: Teologi – Bandung – Ekologi |
| Penulis | Pepep DW. |
| Penerbit | Djeladjah Pustaka, Yogyakarta |
| Tahun Terbit | 2019 (Cetakan Ketiga) |
| ISBN | 978-602-51833-0-0 |
| Dimensi | 176 x 250 mm, xvi + 234 hlm |
| Status Akademik | Karya Terpilih Program Akuisisi Pengetahuan Lokal 2021 (LIPI Press) |
apijiwa.id – Selama ini, tulisan tentang alam seringkali terjebak pada dua ekstrem: catatan teknis pendakian yang kering atau romantisme visual yang sebatas memuja keindahan. Buku Manusia dan Gunung karya Pepep DW hadir membawa sudut pandang baru yang menyegarkan. Tak sekadar merekam jejak langkah, karya ini menguji ulang cara manusia modern memandang alam. Di tengah krisis lingkungan yang kian mendesak, buku ini berhasil menjembatani dimensi spiritual, rekam jejak sejarah, dan kebutuhan konservasi secara utuh.
Buku ini merupakan “langkah awal” yang ambisius namun niscaya. Memetakan hampir 700 gunung di kawasan Bandung Raya—sebuah pekerjaan yang diakui penulis sebagai tugas yang sulit dan cenderung ambisius—buku ini berupaya membuka selubung sisi lain “benteng alam” Priangan yang selama ini terabaikan. Penulis tidak hanya mengajak pembaca untuk terpaku pada angka ketinggian, melainkan mendorong kita untuk “menyelami kedalaman” makna filosofis sembari tetap tegar “mendaki ketinggian” pengetahuan yang selama ini terputus dari akarnya.
Secara tematik, buku ini ditopang oleh tiga pilar utama yang saling bertautan: teologi, sejarah Bandung, dan ekologi. Dari sisi teologi, gunung dipahami dalam kosmologi suci bukan sebagai objek pasif, melainkan subjek yang aktif bertasbih. Dalam konteks Bandung, buku ini mengeksplorasi morfologi serta toponimi kawasan yang pernah dijuluki De Berg Stad ini sebagai pusat identitas budaya sekaligus benteng pelestari bahasa.
Terakhir, melalui sudut pandang ekologi, penulis menyampaikan kritik tajam atas pergeseran cara pandang manusia yang memicu kerusakan lingkungan—sebuah dampak langsung dari terputusnya jalinan antara iman dan pengetahuan.
Analisis Teologi Gunung: Subjektivitas dan Penanda Waktu
Perspektif teologis dalam buku ini mengubah cara pandang kita terhadap lanskap alam secara radikal. Gunung tidak lagi dilihat sebagai tumpukan material geologis yang mati, melainkan sebagai makhluk yang memiliki subjektivitas dan peran aktif dalam drama penciptaan.
Pepep DW memperkuat argumen “Gunung sebagai Makhluk” dengan menyodorkan bukti-bukti skriptural yang kuat. Selain QS. Al-Hajj: 18 (dalam Al-Qur’an) yang menyebutkan gunung bersujud, ia juga menghadirkan QS. Saba: 10 dan QS. Shaad: 18 sebagai bukti ontologis bahwa gunung secara fisik berpartisipasi dalam ibadah, bertasbih bersama Daud pada waktu petang dan pagi.
Narasi tentang Gunung Uhud yang bergetar karena kecintaan pada Rasulullah bukan sekadar alegori, melainkan bukti “kehidupan” gunung yang mampu merespons kehadiran spiritual manusia. Dalam konteks lokal, penulis menyintesiskan hubungan simbolitas gunung dengan kebudayaan Nusantara melalui elemen Kayon atau Gunungan dalam pewayangan.
Digunakan oleh Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, simbol ini menandai pembabakan makro kehidupan—awal, tengah, dan akhir—yang mencerminkan posisi gunung dalam dimensi waktu (tempus) manusia.
Dari sudut pandang teologis, gunung dipahami melalui tiga peran utamanya. Pertama; gunung sebagai simbol berkah dan penyeimbang alam—berfungsi layaknya pasak bumi yang menjaga stabilitas orbit serta keseimbangan ekosistem. Kedua; gunung sebagai ruang pencerahan spiritual (lokus pencerahan), tempat sakral untuk menyepi dan menyucikan jiwa, sebagaimana Jabal Nur menjadi saksi penerimaan wahyu pertama.
Akhirnya, yang ketiga; gunung juga hadir sebagai saksi peristiwa eskatologis pada hari akhir, ketika bentang alam yang megah ini hancur menjadi tumpukan pasir yang bergoncang hingga beterbangan layaknya bulu.
Dialektika Penjelajahan: Moksa Timur vs. Penaklukan Barat
Terdapat kontras motivasi yang menarik antara tradisi pendakian masyarakat Timur dan Barat. Bagi masyarakat Nusantara, seperti yang dicerminkan oleh Bujangga Manik pada abad ke-15, pendakian adalah sebuah ziarah batin untuk mencari keheningan spiritual. Pangeran-pendeta ini menjadikan Gunung Patuha sebagai tempat moksa—sebuah titik pelepasan jiwa di mana puncak gunung dipandang sebagai ruang penemuan jati diri yang bersifat personal dan transenden.
Sebaliknya, para alpinist Eropa seperti Junghuhn, Raffles, dan Wormser mendaki dengan semangat penaklukan dan dorongan pemetaan saintifik. Namun ironisnya, saat Junghuhn merasa berhasil “menemukan” puncak Gede-Pangrango, ia justru mendapati situs-situs pemujaan lokal yang membuktikan bahwa puncak tersebut telah lama disukai dan disucikan oleh masyarakat pribumi.
Meski berbasis pada perspektif profan, catatan Wormser menunjukkan sisi intim yang nyaris religius. Dalam puisinya tentang “Patuha”, ia mengakui bahwa di dalam “kemerisik kesunyian (gunung) ada Tuhan”—sebuah pengakuan bahwa kemegahan alam pada akhirnya akan menundukkan kesombongan intelektual manusia.
Bandung: Anatomi “De Berg Stad” dan Benteng Identitas Sunda
Secara geografis, Bandung merupakan sebuah cekungan raksasa yang dikelilingi oleh benteng alam berupa ratusan gunung. Benteng pegunungan ini tidak hanya membentuk lanskap fisik, tetapi juga berperan penting sebagai penjaga identitas Sunda. Ketika dataran rendah mulai terpengaruh oleh perluasan budaya Mataram, masyarakat pegunungan menjadi garda terdepan yang menjaga dan merawat bahasa Sunda sebagai pusaka budaya yang tak tergoyahkan.
Keterikatan masyarakat Sunda dengan bentang alamnya terefleksi dari cara mereka memandang gunung sebagai entitas yang hidup. Kerapihan hubungan ini melahirkan leksikon lokal yang sangat detail untuk menggambarkan anatomi tubuh gunung. Bagian-bagian gunung tak sekadar diberi nama, melainkan dimaknai secara mendalam dalam kehidupan sehari-hari maupun spiritual.
Dalam konsep budaya lokal, bagian tertinggi gunung dinamai Puncak, yang disimbolkan sebagai ruang pencapaian spiritual tertinggi. Sementara itu, batas akhir lereng yang menjadi dasar prominen disebut Tutugan, dan punggungan tajam yang mengapit jurang di kedua sisinya dikenal sebagai Susuri atau punggung naga. Seluruh rangkaian ini bertumpu pada Suku, yaitu bagian kaki gunung di tepi sungai yang menjadi ruang kehidupan bagi manusia untuk bermukim dan menggantungkan harapan.
Fakta bahwa terdapat hampir 700 gunung di wilayah Bandung Raya mempertegas posisi Bandung sebagai “Kota Gunung”. Meski jumlahnya terlihat kecil dibanding “Gunung Seribu” di Tasikmalaya (3.648 titik akibat letusan Galunggung), gunung-gunung di Bandung memiliki toponimi unik seperti Tangkuban Parahu dan Manglayang yang mencerminkan perspektif spesifik masyarakat lokal terhadap bentang alamnya.
Kritik Ekologi dan Kesadaran Kawasan: Memulihkan Gunung sebagai Guru
Bagian paling tajam dari buku ini adalah evaluasi terhadap degradasi nilai-nilai alam. Pepep DW menyoroti pergeseran makna dari Guru Nu Agung/Luhung—gunung sebagai guru besar—menjadi sekadar Munjung ka Gunung. Jika dulu gunung didaki untuk pencarian spiritual, kini maknanya terdistorsi menjadi eksploitasi materialistik demi memburu harta dan mengorbankan kesucian alam.
Melalui gerakan #SaveCiharus dan kampanye #SadarKawasan, penulis menegaskan prinsip mendasar bahwa cagar alam bukanlah tempat rekreasi. Kasus kerusakan di Artapela dan Sulibra menjadi bukti nyata dari hilangnya pemahaman masyarakat terhadap identitas lingkungan sekitar.
Hal ini dipertegas oleh T. Bachtiar dalam pengantarnya, yang memperingatkan dampak destruktif ketika hutan berganti menjadi ladang “bawang dan kentang”—sebuah metafora tajam untuk eksploitasi agrikultural yang tak terkendali. Keterputusan iman dan hilangnya rasa hormat terhadap privasi alam membuat manusia modern memperlakukan gunung sebagai komoditas semata, yang lambat laun mengikis karakter bangsa.
Pada titik inilah, Manusia dan Gunung tidak lagi menjadi sekadar catatan perjalanan, melainkan media re-edukasi bagi masyarakat yang kian asing di tanahnya sendiri. Karya ini sangat relevan bagi para pendaki agar tak cuma mengejar pacuan adrenalin, bagi kalangan akademisi sebagai landasan etik, serta bagi pengambil kebijakan dalam merancang tata ruang pegunungan yang tidak melulu mengabdi pada kepentingan ekonomi.
Sebagaimana refleksi akhir penulis dalam epilognya, “Buku ini, pada akhirnya, berusaha untuk mengajak menyelami kedalaman gunung, di samping mendaki ketinggiannya. Sehingga, selain kita menjadi lebih tahu, seyogyanya kita bertambah bijaksana.” Membaca karya ini menjadi jalan untuk memulihkan ingatan kolektif bahwa gunung adalah guru yang agung, dan merusaknya merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah menjaga bumi.












