apijiwa.id – Meski pasar roti kian padat, inovasi unik datang dari Saeful Adnan, dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Bandung. Berbeda dari roti konvensional yang berbahan dasar tepung terigu impor, ia memanfaatkan tepung tanaman Hanjeli sebagai bahan utama. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk memaksimalkan potensi pangan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum yang tinggi.
Inovasi ini berawal dari riset Adnan mengenai pemanfaatan bahan pangan lokal dan produk sampingan industri. Ia memilih tanaman Hanjeli—yang biasanya hanya dimanfaatkan sebagai bahan tasbih atau peluru mainan—sebagai objek penelitiannya.
Melalui hibah penelitian pada tahun 2019, Adnan berupaya mencari alternatif pengganti bahan pangan impor. Kepada apijiwa.id, ia menjelaskan bahwa pilihannya jatuh pada Hanjeli untuk diolah menjadi roti guna mengurangi ketergantungan pada tepung terigu.
Pemilihan roti sebagai objek inovasi didasari oleh popularitasnya sebagai makanan kedua yang paling diminati masyarakat setelah nasi. Saeful Adnan, dosen Teknologi Pangan UM Bandung sekaligus doktor lulusan Teknik Kimia ITB, memilih metode sourdough dengan ragi alami dalam produksinya.
Tepung hanjeli dipilih sebagai tepung lokal alternatif untuk menghindari risiko Celiac Disease yang sering dipicu oleh konsumsi gluten berlebih dari tepung berbahan gandum alias tepung terigu. Menariknya, tepung Hanjeli yang telah dimodifikasi dengan bantuan bakteri asam laktat (BAL) dalam proses frementasinya menghasilkan senyawa eksopolisakarida yang fungsinya menyerupai gluten namun jauh lebih aman bagi sistem pencernaan.
“Menggunakan tepung yang menggandung gluten seringkali menimbulkan gangguan pencernaan yang dinamakan Celiac Disease, di mana penggunaan gluten dalam waktu lama membuat pencernaan tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik. Sementara tepung Hanjeli termodifikasi menghasilkan eksopolisakarida seperti gluten tetapi relatif aman,” tegas Adnan.
Pemilihan Hanjeli didasari oleh potensi lokalnya yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Sukabumi dengan kawasan wisata tanamannya di Waluran, serta Cimenyan dan Ciwidey di Kabupaten Bandung. Di Wado, pengelolaannya bahkan sudah melibatkan peran aktif Asosiasi Wanita Tani.
“Ternyata saya pun mendapat kabar Hanjeli ini dengan tanaman lainnya sedang dikembangkan oleh DKPP Jawa Barat dan DKPP Bandung,”ujar pria yang menjabat Ketua Halal Centre Universitas Muhammadiyah Bandung.

Adnan memilih nama “Roti Yu” karena pelafalannya yang akrab di telinga masyarakat, seolah mengajak orang untuk “Makan Roti, yuk!”. Di balik kesederhanaan namanya, “Yu” juga merujuk pada penggunaan yoghurt dalam proses fermentasi, serta dapat dimaknai sebagai “You” (Kamu) Muhammadiyah dalam konteks internasional.
Melalui merek ini, Adnan berkomitmen penuh pada pengembangan bahan baku lokal demi menekan ketergantungan pada gandum impor, meski proses pengolahannya menuntut upaya ekstra.
Diakuinya, perjalanan menghadirkan roti Hanjeli yang berkualitas tidaklah instan. Adnan menghabiskan waktu sekitar enam bulan untuk melakukan uji coba dari skala laboratorium hingga siap produksi pada tahun 2019. Meski sempat terhambat pandemi, bisnis ini tetap berkembang pesat berkat dukungan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat.
Produknya sering tampil di berbagai pameran bergengsi di Bandung dan Jakarta, bahkan hampir menembus pasar internasional di New Delhi, India, jika tidak terkendala masalah visa.
Adnan memposisikan produknya sebagai pangan fungsional yang mendukung gaya hidup sehat dan bernutrisi tinggi. Berkat penggunaan ragi alami (sourdough), roti ini mampu bertahan hingga tujuh hari tanpa pengawet buatan, ditambah lagi dengan kandungan antioksidan alami dari Hanjeli.
Strategi pemasarannya pun dibuat relevan dengan selera Gen Z melalui berbagai varian kekinian seperti Cinnamon Roll, Bluder, Milkbun, hingga Cranberry Cheese, dengan aneka pilihan topping mulai dari cokelat hingga matcha.
Kesuksesan produk ini terlihat dari jangkauan pesanan yang mencakup wilayah Jawa Barat hingga Jakarta. Dengan harga yang dibanderol antara Rp10.000 hingga Rp80.000, Adnan mampu mengolah hingga 10 kg adonan yang menghasilkan ratusan roti setiap harinya.
“Selain aspek bisnis, usaha ini juga memberikan dampak sosial yang nyata; saat pandemi, produksinya di wilayah Cijerah berhasil memberdayakan ibu-ibu setempat dengan upah harian sebesar Rp100.000,” jelas Adnan.
Saat ini, produksi roti Hanjeli lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan internal Universitas Muhammadiyah Bandung. Saeful Adnan berencana membangun outlet berkonsep open kitchen di lingkungan kampus, yang sekaligus berfungsi sebagai teaching factory bagi mahasiswa Teknologi Pangan. Setelah sempat vakum selama dua tahun demi merampungkan studi S3 di ITB, Adnan kini bersiap menghidupkan kembali inovasinya.
Meski sebelumnya keuntungan finansial yang diraih belum maksimal, Adnan merasa puas karena inovasi ini memberikan manfaat edukasi mengenai potensi pangan lokal dan mampu memberdayakan ekonomi warga sekitar. Ia berharap di tahun 2026 ini, seiring dengan perannya sebagai dosen, produksi Roti Hanjeli dapat kembali berjalan stabil dan penjualannya terus meningkat.
“Doakan saja nanti bisa kembali berproduksi di kampus ini, karena saya juga harus fokus di kampus ini sebagai dosen. Mudah-mudahan tahun 2026 ini produksi dan penjualan akan semakin meningkat,” pungkasnya.
Produk inovatif seperti roti Hanjeli ini sangat layak mendapatkan apresiasi dan perhatian khusus. Meski menawarkan konsep yang berbeda dari roti konvensional, kualitas dan keunikannya patut dicoba oleh publik. Diharapkan ke depannya, roti ini dapat bertransformasi menjadi pangan alternatif yang digemari sekaligus diterima secara luas oleh berbagai lapisan masyarakat.







