Advertisement

apijiwa.id – Seminar Bimbingan dan Konseling (BK) bertema “Konseling Qur’ani: Integrasi Psikologi Al-Qur’an dan Keteladanan Rasulullah dalam Praktik Bimbingan dan Konseling” sukses digelar pada Rabu (8/4/2026) di Auditorium PT INTI, Jl. Moh. Toha No. 77, Kota Bandung. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian INTI Jabar Book Fair 2026, hasil kolaborasi antara PW PERSISI Jabar, Forum Guru BK PERSIS Jabar, dan IKAPI Jabar.

Kegiatan ini menghadirkan dua pakar sebagai pembicara utama, yaitu H. Bubun Farhabun, S.Pd. (Bidang Garapan Pendidikan PW PERSIS Jabar) dan Daris Tamin (Dosen BK IAI PERSIS Kabupaten Garut).

Ketua PW PERSIS Jawa Barat, Iman Setiawan Latief, dalam sambutannya saat membuka acara menekankan bahwa keberadaan guru BK seringkali kurang mendapat perhatian, padahal perannya sangat krusial. Saat ini, terdapat sekitar 600 sekolah yang ada di pesantren di lingkungan PERSIS yang memiliki Forum Guru BK.

“Pengayaan wawasan tentang BK sangat penting, terutama untuk memastikan metode yang digunakan selaras dengan Al-Qur’an dan Hadis. Banyak pengajaran dari luar yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai kita,” ujar Iman. Ia berharap para peserta dapat menyerap ilmu konseling Islami yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Seminar Bimbingan dan Konseling (BK) menghadirkan dua narasumber, yaitu H. Bubun Farhabun, S.Pd. (Bidang Garapan Pendidikan PW PERSIS Jabar) dan Daris Tamin (Dosen BK IAI PERSIS Kabupaten Garut) dengan dipandu Ipah Latipah. (Deffy Ruspiyandy)

Dipandu oleh Ipah Latipah, sesi materi pertama disampaikan oleh Bubun Farhabun. Ia menegaskan bahwa guru BK adalah garda terdepan dalam menghadapi keberagaman karakter santri.

Bubun membagikan data memprihatinkan saat dirinya mengisi materi di Balai Kota Bandung. Dari sekitar 70.000 pelajar, ditemukan 10.000 di antaranya mengalami depresi. “Keesokan harinya setelah pertemuan itu, terjadi kasus bunuh diri seorang pelajar di Jembatan Layang Pasupati. Ini adalah alarm keras bahwa peran guru BK sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat kesehatan mental seperti sekarang. Perannya tidak boleh dianggap kecil,” tegasnya.

Pembicara kedua, Daris Tamin, menyoroti tantangan dalam memasyarakatkan Qur’anic Counseling. Menurutnya, metode ini seringkali ditolak karena dianggap hanya sebagai “pengajian” biasa.

Namun, Daris memaparkan bukti ilmiah berdasarkan studi terhadap subjek di Amerika. Hasil riset menunjukkan bahwa mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an terbukti mampu menurunkan tekanan darah, baik pada Muslim maupun non-Muslim.

“Artinya, Konseling Tadabur Qur’an adalah sebuah terapi psikologis yang valid, bukan sekadar aktivitas pengajian. Ini adalah bentuk pengabdian kepada Allah sekaligus upaya memperbaiki hubungan antarmanusia (hablum minannas),” jelas Daris.

Ia menutup sesi dengan menekankan bahwa pendekatan keteladanan Rasulullah dalam BK sangat efektif, baik dalam skala pendidikan klasikal maupun pendekatan individual.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.