apijiwa.id – Abdul Raup bukanlah sosok baru di Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Rekam jejaknya tercatat sebagai pengurus IKAPI Pusat pada periode 2006–2012. Sejak tahun 2012 hingga saat ini, ia aktif di IKAPI Jawa Barat. Dukungan kuat dari rekan sejawat akhirnya mendorongnya maju sebagai ketua, hingga terpilih untuk masa jabatan 2026–2031.
“Sebelumnya, saya mendampingi Pak Anwarudin dan Pak Mahpudi yang keduanya pernah menjabat sebagai Ketua IKAPI Jabar. Maka, menjadi hal yang wajar jika akhirnya teman-teman memberikan amanah ini kepada saya pada Musda IKAPI Jabar awal tahun ini,” ujarnya saat berbincang dengan apijiwa.id.
Misi Kolaborasi
Untuk kepengurusan periode 2026–2031, Abdul Raup lebih memilih menyebutnya sebagai “masa kolaborasi” alih-alih masa khidmat atau masa kerja. Hal ini didasari oleh latar belakang para pengurus yang memiliki kesibukan luar biasa di bidang masing-masing. Dalam menjalankan roda organisasi, ia menerapkan pendekatan bottom-up ketimbang top-down, dengan memberikan keleluasaan bagi para koordinator bidang untuk menyusun program kerja secara mandiri.
“Periode ini merupakan masa yang cukup berat. IKAPI Jabar harus berjuang ekstra untuk membangkitkan kembali ekosistem perbukuan yang sempat menurun,” pungkasnya.
Salah satu langkah nyata untuk membangkitkan ekosistem literasi adalah penyelenggaraan Jabar Book Fair 2026 di PT INTI pada 7–12 April 2026. Pameran ini menjadi momentum penting setelah vakum selama hampir tujuh tahun. Raup mengungkapkan bahwa banyak pihak mendorongnya untuk menghidupkan kembali kejayaan pameran buku di lokasi yang representatif. Baginya, kolaborasi dengan PT INTI adalah sebuah anugerah.
“Event seperti ini akan rutin dilakukan. Bukan sekadar menjual buku, melainkan menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan penerbit, pegiat literasi, komunitas baca, awak media, hingga masyarakat umum demi memajukan dunia literasi,” jelasnya.
Terkait tantangan zaman, Raup mengakui banyak penerbit sempat mengalami shock menghadapi disrupsi teknologi yang membuat industri seolah mati suri. Namun, ia menekankan bahwa masalahnya bukan pada minat terhadap buku cetak, melainkan pada strategi adaptasi. Penjualan kini harus bertumpu pada teknologi dan media sosial, tidak lagi sekadar mengandalkan toko fisik.
Merujuk pada tren global, Raup mencatat bahwa penjualan buku di beberapa negara mulai menggeliat kembali berkat dukungan teknologi. Hal inilah yang mendasari optimisnya. “Saya menekankan kepada para pengurus agar kembali mengaktifkan penerbitan masing-masing. Kita harus optimis memajukan kembali dunia penerbitan di Jawa Barat,” tambahnya.
Untuk menyukseskan program kerja IKAPI Jabar, Raup akan merangkul seluruh pengurus yang mayoritas merupakan pemilik penerbitan. Saat ini, tercatat ada sekitar 500 penerbit di bawah naungan IKAPI Jabar. Meski tidak semuanya eksis secara aktif, Raup memandang hal tersebut sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Secara eksternal, IKAPI Jabar juga akan memperkuat sinergi dengan pemerintah, lembaga swasta, komunitas, dan media.
“Saya menekankan kepada semua pihak, setiap penyelenggaraan pameran, lokakarya, atau seminar perbukuan harus senantiasa melibatkan IKAPI. Kita perlu bergerak bersama agar kondisi perbukuan kembali ke masa jayanya,” tegas Raup.
Buku Cetak Tak Tergantikan
Ia meyakini bahwa buku digital memang unggul dalam kecepatan informasi, namun buku cetak tetap tak tergantikan dalam memberikan sensasi, kenikmatan, dan kedalaman membaca. “Rasa membaca buku cetak itu berbeda, dan masyarakat akan tetap membutuhkannya,” tegassnya lagi.
Bagi Raup, kehadiran teknologi justru harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai peluang. Teknologi telah mempermudah proses kurasi naskah serta akses terhadap pemikiran para pakar untuk diolah menjadi buku. Selain itu, proses kreatif hingga distribusi ke tangan pembaca kini jauh lebih efisien.
“Saat ini, proses penerbitan buku sangat terbantu oleh teknologi. Penulis yang berada di lokasi jauh sekalipun tetap bisa menerbitkan karyanya di tempat lain. Bahkan untuk pemasaran, kehadiran e-commerce memungkinkan penggemar buku berbelanja dari rumah tanpa harus datang ke toko fisik,” ungkapnya.
Mengenai program kerja IKAPI Jabar dalam waktu dekat, Raup menjelaskan bahwa segala langkah akan dilakukan secara terstruktur. Penyelenggaraan Jabar Book Fair 2026 dipandang sebagai “etalase” sekaligus tulang punggung kebangkitan dunia penerbitan. Selain pameran, IKAPI Jabar akan memperkuat kolaborasi dengan komunitas literasi dan media massa untuk menggelar berbagai ajang literatif di masa depan.
Tak kalah penting, sinergi dengan pemerintah dan lembaga legislatif menjadi prioritas utama. Hal ini krusial untuk memastikan regulasi perbukuan yang ada sejalan dengan program-program pengembangan yang diusung IKAPI.
Pada tahun 2026 ini, target utama IKAPI Jabar adalah penguatan soliditas internal kepengurusan serta peningkatan layanan bagi anggota. Raup ingin memastikan bahwa setiap anggota merasakan manfaat nyata bergabung dengan organisasi ini. Salah satu langkah konkretnya adalah mengoptimalkan sekretariat sebagai pusat diskusi dan wadah pemecahan masalah dunia penerbitan.
Di akhir percakapan, Raup berpesan agar para penerbit kembali produktif menelurkan karya demi kemajuan bangsa. Ia juga membuka diri terhadap segala keluhan maupun usulan demi kemajuan bersama. “Sampaikan aspirasi Anda, karena kemajuan IKAPI Jabar adalah kemajuan kita semua,” pungkasnya.













