apijiwa.id – Selasa (16/12/2025), saya berkesempatan mengunjungi rumah Adi Zamzam, penulis asal Jepara yang kini berdomisili di Desa Rejosari, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Pria yang turut membidani berdirinya Akademi Menulis Jepara (AMJ)—sekarang Sanggar Sastra Jepara (SSJ) ini, termasuk penulis yang lumayan produktif.
Saat ini, tulisannya dalam bentuk cerpen dan esai kebahasaan kerap dimuat di sejumlah media nasional seperti Jawa Pos dan Tempo. “Saya dulu tak pernah membayangkan akan menjadi seorang penulis seperti sekarang,” tandasnya, saat saya tanya apakah saat kecil pernah bercita-cita menjadi seorang penulis.
Bermula dari Kegemaran Membaca
Adi Zamzam lahir di Desa Banyuputih, Desa Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, pada 1 Januari 1982. Ayahnya memberi nama Nur Hadi. Saat bersekolah di bangku Madrasah Aliyah (MA), di kampung ia mempunyai teman akrab yang mereka sebut dengan “4 sekawan”, karena jumlahnya empat orang, termasuk dirinya.
Kesemuanya memiliki kegemaran yang sama: membaca buku. Saat itu, di kampungnya, terdapat sebuah perpustakaan milik sebuah keluarga. Namanya Perpustakaan Keluarga Besar Mariyoenani. Perpustakaan ini menyediakan buku yang lumayan banyak. Bagi peminjam buku, dikenakan tarif Rp 500,- per buku.
Karena tidak punya uang, Adi Zamzam dan kawan-kawan berinisiatif menawarkan diri kepada pemilik perpustakaan untuk membantu menyampuli buku. Tawaran itu diterima, sehingga mereka pun bisa leluasa membaca buku di perpustakaan itu secara gratis.
Tahun 2000, mereka lulus sekolah. Salah seorang teman dari kelompok 4 sekawan itu melanjutkan studi di Gontor. Setiap pulang dari Gontor, teman itu membawa majalah Islami Annida dan Ummi. Adi Zamzam turut bersemangat membaca kedua majalah tersebut.
Dari situlah, sejak 2002, Adi Zamzam terinspirasi untuk ikut mengirimkan karya tulisannya berupa cerpen ke kedua majalah tersebut.
Sayang, belasan tulisannya yang ia ketik dari mesin ketik pinjaman dan ia kirim ke kedua majalah tersebut, tidak kunjung dimuat. Tapi, Adi Zamzam tak patah arang. Ia tetap menulis dan mengirimkan karyanya. Hingga kemudian, pada tahun 2004, untuk pertama kalinya, cerpennya dimuat di majalah Ummi.
Tahun 2010, Adi Zamzam bisa membeli komputer. Ia pun makin produktif menulis dan menjelajah ke banyak media. Tulisannya pun kerap dimuat di media-media prestisius seperti Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, dan lain sebagainya.
“Semua media sepertinya pernah memuat cerpen saya, yang belum kesampaian hanya Horison. Tulisan yang saya kirim belum pernah dimuat, dan sekarang medianya sudah tutup,” kenang Adi Zamzam.
Uji Nyali Lewat Kompetisi
Sebagai seorang penulis yang produktif, Adi Zamzam juga kerap tertantang menjajal kemampuan sekaligus uji nyali melalui sejumlah kompetisi menulis. Bahkan, ia kerap memenangi lomba, meski terkadang pula harus cukup puas masuk nominasi atau meraih juara harapan.

Tahun 2004, cerpennya meraih juara harapan di majalah Ummi, dan tahun 2005, cerpennya meraih juara harapan pada Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) yang diadakan majalah Annida. Lebih baik dari sebelumnya, tahun 2008 dan 2012, cerpennya meraih juara 3 LMCPI Annida.
Tahun 2009 dan 2010, dua cerpennya menjadi karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Tahun 2010, karyanya masuk nominasi Lomba Cerpen Krakatau Award 2010.
Pernah juga masuk unggulan Lomba Cerber Majalah Femina 2014/2015. Tahun 2016, Adi Zamzam dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Kategori C (Umum, Guru, Dosen, Pengarang) Green Pen Award 3 Perum Perhutani 2016.
Lalu, dua tahun berturut-turut, karyanya masuk nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2018 dan 2019. Masuk 50 esai terpilih Lomba Menulis dari Rumah Kemenparekraf 2020. 25 Penulis Terpilih Lomba Geguritan Yayasan Podhang 2020. Juara Harapan IV Sayembara Menulis Cerpen Anak Islami (SMCAI) LSBPI MUI 2021.
Dan pada tahun 2022, Adi Zamzam meraih Juara II Lomba Novela Katastrofe Penerbit Basabasi (2022) melalui karyanya yang berjudul Mlangun. Novela bertajuk Mlangun itu terbit tahun 2023. Serta tahun 2025, karyanya masuk nominasi pemenang lomba cerpen Negeri dan Ironi dalam Festival Marah Roesli 2025.
Menyuarakan Jeritan Rakyat
Ada fakta menarik dari sejumlah karya Adi Zamzam yang diikutkan lomba, yaitu cerpen berjudul Mlangun yang memenangkan juara pertama Green Pen Award ke-3 Perum Perhutani 2016; novela berjudul sama Mlangun yang memenangkan juara kedua Lomba Novela Penerbit Basabasi bertema katastrofe 2022; dan cerpen berjudul Jarak yang masuk nominasi pemenang Lomba Cerpen Negeri dan Ironi dalam Festival Marah Roesli 2025.
“Ketiga karya itu memiliki pertalian erat dalam hal tema, yaitu kompleksitas permasalahan yang dialami entitas Suku Anak Dalam (SAD),” tandas Adi Zamzam.

Menurut Adi Zamzam, di negeri ini, bukan hanya persoalan pendidikan yang diatasnamakan demi kemajuan yang mencerabut mereka dari akar; persoalan perkebunan sawit dan karet, bahkan juga pertambangan (batubara), mendesak lahan hidup, mengubah cara hidup—termasuk di dalamnya hukum adat, dan aneka permasalahan lainnya.
Bencana banjir besar di akhir tahun ini, menurutnya, adalah puncak gunung esnya, di mana kaki gunung esnya juga disangga sekian masalah yang mendera hutan yang dihuni SAD ini.
Dan ketidakacuhan, bahkan kesengajaan korporasi yang didukung pemerintah, menurutnya juga, adalah tembok tebal sekaligus jarak sekian ribu tahun cahaya yang harus mereka dobrak atau lalui untuk menyuarakan aneka permasalahan itu.
“Saya hanya kebetulan ingin ikut menyuarakan jeritan mereka. Saya anggap kebetulan, lantaran semuanya memang diawali dari kebetulan-kebetulan yang tersusun indah,” jelasnya.
Kisah Adi Zamzam menemukan ide cerita itu sendiri tergolong unik. Dimulai dari lembar-lembar majalah yang dijadikan alas telur puyuh dagangan emaknya, yang ia pungut dan simpan. Dari situlah ide cerita itu berasal.
Ditambah sobekan majalah Tempo bagian liputan khusus yang ia baca, yang kemudian ia menemukan korelasinya dengan buku Merobek Sumatra-nya Fatris MF yang amat ia sukai.
“Begitulah, hingga akhirnya, saya mencari bahan-bahan tambahan untuk melengkapi ide cerita yang kemudian menjadi cerita dalam tiga karya yang saya ikutkan lomba itu,” jelas Adi Zamzam.
Dari kisah Adi Zamzam ini menunjukkan bahwa ide cerita bisa berasal dari mana saja, termasuk sobekan majalah dan koran, yang sering hanya dianggap sampah.
Saat Menulis Tak Bisa Lagi Jadi Mata Pencaharian
Sebagai seorang penulis, Adi Zamzam mengaku, menulis sudah mendarah daging dalam kehidupannya. Ia mengaku akan tetap menulis, meski saat ini, menulis tidak bisa lagi dijadikan sebagai mata pencaharian utama.
Sebagai penulis, Adi Zamzam mengaku pernah menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. “Itu terjadi sekitar tahun 2012 hingga tahun 2016,” tandas pria yang menikah tahun 2014 dan kini dikaruniai 2 buah hati.
Setelah itu, banyak media massa cetak yang berguguran alias tutup. Atau masih beroperasi, namun tidak lagi menyediakan honorarium bagi tulisan yang dimuat. Sehingga, ia tidak bisa lagi menggantungkan mata pencahariannya semata dari menulis.
Karena itu, Adi Zamzam banting stir menjadi distributor LKS dan buku pelajaran sekolah, selain membuka toko fotokopi dan alat tulis di rumahnya. “Namun, saya tetap akan menulis, setidaknya untuk mengeluarkan uneg-uneg,” tandasnya.
Mengenai nama pena Adi Zamzam, ia menjelaskan, Adi berasal dari nama aslinya sendiri, Hadi, yang ia singkat jadi Adi. Sedangkan Zamzam adalah nama toko milik guru madrasah diniyah yang berjasa menyekolahkannya.
“Beliau sudah wafat dan supaya saya ingat terus dengan jasa beliau, maka saya pakailah nama Zamzam itu,” pungkasnya.
Bagi Adi Zamzam, menulis merupakan satu cara efektif menjadikan gagasan seseorang menembus ruang dan waktu. Dalam arti, akan dibaca lebih banyak orang di berbagai belahan tempat dan boleh jadi masih akan terus dibaca generasi setelahnya, bahkan setelah penulisnya tiada.
Seperti kata Pramoedya Ananta Toer: menulis adalah bekerja untuk keabadian.











