apijiwa.id – Menyemarakkan Ramadan 1447 H, SMA Pasundan 7 Bandung menggelar Pesantren Kilat Ekologi yang berlangsung dari tanggal 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Kegiatan ini diikuti 539 murid, khususnya kelas X dan XI. Sementara itu, murid kelas XII turut dilibatkan dalam acara doa bersama demi kelancaran ujian sekolah yang dijadwalkan pada 2–7 Maret 2026.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Deri Adiyanto, menjelaskan bahwa konsep tahun ini sengaja mengangkat tema ekologi untuk mengajarkan murid mencintai lingkungan. “Lingkungan sekolah yang bersih adalah harga mati agar proses pembelajaran menjadi nyaman,” terang Deri kepada apijiwa.id.
Rangkaian acara pesantren kilat kali ini dikemas secara variatif. Mulai dari tadabur alam, rantang kanyaah (berbagi makanan), wakaf Al-Qur’an, hingga gerakan Gelisah dan Poe Ibu. Selain itu, terdapat sesi tausiyah yang disampaikan oleh Ustaz Rizal Fadillah Nurhida, Lc., M.A. Sebagai inti dari tema ekologi, para murid juga melakukan aksi nyata berupa kerja bakti lingkungan, kampanye hemat energi, serta upaya pelestarian alam lainnya.

Mengenai tujuan pesantren kilat ini, Deri Adiyanto menjelaskan bahwa fokus utamanya adalah menanamkan kecintaan murid terhadap lingkungan sesuai ajaran agama. “Kebersihan adalah sebagian dari iman. Keunggulan kegiatan ini adalah mengarahkan siswa untuk lebih dekat dengan alam, peduli sesama, dan memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian integral dari ibadah,” tambahnya.
Target utama yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku, terutama dalam konsistensi beribadah dan kebiasaan menjaga kebersihan, baik di lingkungan sekolah maupun di tempat tinggal masing-masing. Menurut Deri, program ini tidak sekadar menggugurkan kewajiban kurikulum pemerintah, tetapi merupakan langkah konkret untuk mengenalkan konsep ekosentrisme kepada generasi muda.
Deri berharap pesantren kilat ini menjadi media transformasi karakter di masa depan. Ia menyadari bahwa estafet kepemimpinan akan terus berganti; murid-murid saat ini adalah calon pemegang kebijakan di masa depan.
“Dengan pemahaman ekosentrisme dan bekal iman yang kuat dari para pemateri, kami berharap mereka dapat mengaplikasikannya kapan pun dan di mana pun. Intinya, sekolah berikhtiar agar siswa benar-benar mencintai dan memelihara lingkungan tempat mereka berpijak,” pungkas Deri.











