apijiwa.id – Selama lebih dari tiga dekade, setiap langkahnya menjadi penentu arah bangsa. Sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia, sosok Soeharto identik dengan wibawa besar, protokol kenegaraan yang tertib, dan diplomasi kelas dunia. Namun, di balik tirai kekuasaan tersebut, terdapat sisi humanis yang sangat bersahaja: selera makannya yang tetap setia pada kesederhanaan akar budayanya.
Lahir di pelosok Desa Kemusuk, Godean, Yogyakarta, sang ‘The Smiling General’ merupakan representasi nyata antara puncak kekuasaan dan napas kehidupan pedesaan yang bersahaja. Di balik kemegahan istana, meja makan pribadinya menyimpan cerita tentang lebih dari 62 hidangan tradisional kegemarannya—sebuah manifestasi identitas seorang anak desa yang tetap membumi meski telah menduduki kursi kepresidenan selama 32 tahun.
Filosofi Kuliner Anak Desa
Bagi seorang kepala negara, jamuan kaviar atau santapan ala fine dining tentu mudah diraih. Namun bagi Pak Harto, kemewahan sejati justru hadir melalui aroma terasi yang menyengat dan renyahnya tempe garit yang seolah menjadi mesin waktu, membawanya kembali ke pematang sawah di Kemusuk.
Berdasarkan literatur kuliner yang tercatat dalam buku Lauk-pauk Komplit Kegemaran Pak Harto dan Sayur & Kudapan Lezat Kegemaran Pak Harto terbitan Pustaka Anggrek Jogjakarta, pilihan menu beliau mencerminkan filosofi Jawa yang kental. Bahan-bahannya bersahaja, namun memiliki kedalaman rasa yang otentik.
Beberapa menu yang senantiasa dirindukan beliau mencerminkan kedekatan yang tulus dengan cita rasa lokal. Mulai dari Gudangan, yakni aneka sayuran rebus dengan bumbu kelapa parut yang menjadi simbol kedekatan dengan hasil bumi, hingga kesegaran Sayur Bening dan Bobor yang kerap hadir di tengah penatnya urusan negara.
Tak ketinggalan, Tempe dan Tahu Goreng Garit dengan teknik sayatan khas yang menciptakan tekstur renyah tak tergantikan, serta kesahajaan Ikan Asin dan Telur Godog—sumber protein sederhana yang selalu menjadi pengingat setia akan jati diri sang Presiden.
Di balik keajekan menu-menu tradisional tersebut, terdapat sosok Ibu Tien Soeharto sebagai dirigen utama di dapur kepresidenan. Beliau bukan sekadar memesan makanan, melainkan dikenal sangat piawai memasak dan memahami detail bumbu yang disukai suaminya. Sayur lodeh racikan tangan Ibu Tien adalah “primadona” yang selalu dicari, sebuah hidangan yang menjadi simbol kestabilan emosional bagi Pak Harto.
Kecintaan ini tertuang jelas dalam catatan pribadinya. Dalam buku autobiografinya, beliau merefleksikan:
“Hidangan yang paling saya sukai adalah tetap lodeh buatan istri saya sendiri, atau ikan bakar atau goreng belut yang membawa kenangan di masa kanak-kanak,” kata Soeharto seperti ditulis dalam buku autobiografi “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”.
Sentuhan personal sang istri melalui masakan rumah menjadi pengingat bahwa di balik beban berat mengelola negara, kehangatan keluarga yang tersaji dalam semangkuk sayur lodeh adalah kemewahan yang paling hakiki.
Selera kuliner Pak Harto adalah peta jalan menuju memori masa lalunya. Kenangan masa kecil saat berburu di area persawahan Desa Kemusuk terpahat kuat dalam kegemarannya pada Ikan Goreng Belut. Baginya, rasa gurih belut bukan sekadar soal nutrisi, melainkan bentuk rekonsiliasi dengan jati diri masa kecil yang sederhana.
Selain belut, Sambal Goreng ala Kemusuk juga menjadi jembatan emosional yang menghubungkan sang penguasa dengan tanah kelahirannya. Fenomena ini membuktikan sebuah realitas psikologis bahwa seberapa pun tingginya seseorang mendaki tangga kekuasaan, rasa yang paling akrab dari masa kanak-kanak tetap menjadi zona nyaman yang tak bisa digantikan oleh kuliner mancanegara sekalipun.
62 Cita Rasa Nusantara
Meskipun didominasi oleh nuansa pedesaan, koleksi 62 menu favorit Pak Harto menunjukkan variasi yang kaya, mulai dari masakan harian hingga hidangan yang sedikit lebih kompleks namun tetap berada dalam koridor warisan leluhur.
Luasnya palet rasa beliau tercermin dari ragam sajian karbohidrat dan sayuran yang selalu hadir di meja makan. Dimulai dari gurihnya Nasi Liwet Solo khas Bu Tien dan Nasi Kuning untuk momen syukur, hingga jejak akulturasi budaya dalam sepiring Lontong Cap Go Meh. Khazanah rasa ini semakin kaya dengan aneka sayur dan sop, mulai dari kesegaran Sayur Asem dan Buntil Daun Singkong yang autentik, hingga hidangan seperti Sop Tomyam dan Sop Buntut yang tetap diolah sesuai dengan selera lokal yang khas.
Kekayaan lauk-pauk dan kudapan tradisional turut melengkapi perjalanan kuliner sang Presiden. Selain tempe dan tahu bacem, terdapat pilihan unik seperti Telur Pindang Kuah Aren, Ayam Panggang Klaten, hingga Tongseng Kambing Muda yang ikonik. Sebagai penutup hari, kehangatan Wedang Jahe dan Sekoteng menjadi teman sempurna bagi deretan penganan tradisional seperti Klepon, Wajik Ketan, dan lembutnya Bubur Sumsum yang selalu memberikan rasa nyaman.
Koleksi menu ini menegaskan bahwa bagi Soeharto, keragaman kuliner Nusantara adalah kekayaan yang harus dijaga dan dinikmati setiap harinya.
Pilihan menu makanan Presiden Soeharto memberikan kita sebuah perspektif yang jujur mengenai autentisitas seorang pemimpin. Di tengah gemerlap kekuasaan, beliau memilih untuk tetap setia pada identitas budaya yang membentuknya. Kegemaran beliau pada lodeh, sambal, dan gudangan bukan semata urusan perut, melainkan pernyataan sikap terhadap cinta tanah air.
Makanan adalah bentuk identitas yang paling murni. Dari meja makan Pak Harto, kita belajar bahwa keberhasilan atau kekuasaan seharusnya tidak mencabut akar budaya seseorang. Justru, nilai-nilai akar rumput itulah yang memberikan kekuatan dan ketenangan.
Di tengah gempuran tren kuliner global yang serba instan, menjaga kebanggaan terhadap cita rasa sederhana dari akar budaya sendiri menjadi sebuah langkah penting. Kesetiaan sang Presiden pada masakan desa hingga akhir hayatnya menjadi pengingat bahwa identitas diri yang sebenarnya memang tersimpan rapi di balik kesederhanaan meja makan kita masing-masing.












