Advertisement

apijiwa.id – Kue satu bukan sekadar kudapan manis yang menghiasi meja saat hari raya, melainkan sebuah artefak kuliner yang menyimpan rekam jejak akulturasi budaya dan kearifan lokal Nusantara. Sebagai salah satu jajanan legendaris yang telah eksis jauh sebelum alat dapur modern ditemukan, kue satu menjadi simbol ketekunan dan kesederhanaan.

Nama “Satu” yang disematkan pada kue ini memiliki beberapa versi asal-usul yang menarik. Versi paling populer merujuk pada proses pembuatannya yang menuntut kesabaran ekstra; adonan harus dimasukkan ke dalam cetakan kayu tradisional, ditekan kuat secara manual, lalu dikeluarkan satu per satu. Melalui pengerjaan yang teliti dan bertahap inilah masyarakat mengenalnya dengan sebutan “kue satu”.

Selain merujuk pada proses cetaknya, nama ini juga diyakini lahir dari formula resep asli yang menggunakan perbandingan bahan serba satu. Berdasarkan tradisi lisan pengrajin di Tanah Pasundan, resep standar zaman dahulu terdiri dari takaran seimbang antara bahan utama, yaitu perbandingan 1:1 antara kacang hijau dan gula pasir (misalnya, 12 kg kacang hijau dengan 12 kg gula pasir).

Seiring pergeseran selera masyarakat yang mulai menghindari rasa manis pekat, rasio ini mulai berubah menjadi 12 kg kacang hijau berbanding 10 kg gula pasir. Uniknya, meski komposisinya bergeser, nama “Satu” tetap melekat kuat sebagai identitas kolektif dalam memori kuliner masyarakat Jawa dan Betawi.

Jejak Sejarah dan Akulturasi

Secara historis, sulit menentukan waktu pasti penemuan kue ini, namun tradisi lisan mencatat popularitasnya mulai menanjak sekitar abad ke-18 atau ke-19. Kehadiran kue satu di Nusantara diyakini berkaitan erat dengan pengaruh kuliner Tionghoa-Indonesia, khususnya dalam pengolahan tepung kacang.

Akulturasi ini membuktikan dinamisnya perkembangan kuliner lokal, di mana unsur budaya luar diserap dan diolah kembali menggunakan bahan setempat hingga menjadi hidangan yang terasa sangat “Nusantara”.

Di wilayah Jawa Barat dan Betawi, kue satu telah menjadi warisan turun-temurun. Ia bukan sekadar camilan, melainkan bagian penting dalam upacara adat, mulai dari khitanan, pernikahan, hingga suguhan wajib Idulfitri. Teksturnya yang lembut serta kemampuannya bertahan hingga tiga bulan tanpa pengawet menjadikannya pilihan utama oleh-oleh khas Tanah Pasundan.

Menariknya, karakteristik kue ini juga dibahas dalam literatur ilmiah. Mia Arifah dkk dalam Food Science and Culinary Education Journal (2024) menyebutkan bahwa kue satu atau kue koya adalah kue kering tradisional khas Betawi yang terbuat dari campuran tepung kacang hijau dan gula halus. Prosesnya unik: adonan beraroma vanili dicetak padat, lalu dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari atau dipanggang hingga renyah.

Pembuatan kue satu adalah ritual seni yang mengandalkan kepekaan indra. Kacang hijau harus disangrai sebelum dihaluskan menjadi tepung. Kunci kelezatannya terletak pada tekstur yang tampak padat di luar, namun seketika lumer (prul) di mulut.

Banyak pengrajin tetap mempertahankan metode pengeringan alami di bawah sinar matahari untuk menghasilkan aroma harum yang lebih kuat dan tekstur yang lebih garing dibandingkan menggunakan oven modern.

Melintasi Zaman: Pelajaran dari Sebutir Kue

Meskipun di Jawa Timur dan Jawa Tengah lebih dikenal sebagai kue koya, hakikatnya tetap sama: sebuah perayaan atas kesederhanaan. Di tengah serbuan kue modern berbahan mentega mahal, kue satu tetap bertahan. Ia menjadi penghuni setia stoples lebaran, membawa kembali memori kolektif masa kecil bagi lintas generasi.

Kue satu adalah manifestasi nyata dari ketahanan budaya. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya melakukan akulturasi tanpa kehilangan jati diri. Filosofi pencetakan “satu demi satu” mengingatkan kita akan pentingnya ketekunan dalam proses pembangunan untuk mencapai hasil yang solid. Melalui sebutir kue satu, kita belajar bahwa keharmonisan seringkali lahir dari kesabaran dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan secara perlahan.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.