Advertisement

apijiwa.id – Masyarakat Betawi telah lama dikenal dengan khazanah kulinernya yang legendaris. Jika kita berjalan menyusuri festival kebudayaan, aroma gurih Soto Betawi atau kepulan asap dari panggangan Kerak Telor adalah pemandangan yang lazim.

Namun, di antara deretan hidangan ikonis tersebut, terdapat satu entitas yang selalu mencuri perhatian karena namanya yang kontradiktif: Bir Pletok. Meski menyandang label “bir”, minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol, melainkan sebuah manifestasi kecerdasan budaya yang memadukan rasa, kesehatan, dan prinsip hidup dalam satu gelas.

Sejarah kemunculan Bir Pletok merupakan bentuk perlawanan intelektual masyarakat Betawi terhadap hegemoni kolonial Belanda. Di masa penjajahan, bangsa Eropa kerap memamerkan kemewahan melalui budaya minum wine atau bir saat berpesta. Bagi masyarakat Betawi yang religius dan memegang teguh syariat Islam, alkohol adalah pantangan, namun mereka tidak ingin kalah dalam hal estetika pergaulan.

Alih-alih sekadar menolak, mereka melakukan counter culture atau perlawanan halus yang kreatif. Mereka menciptakan ramuan yang secara visual menyerupai bir—berwarna merah kecokelatan dan memberikan efek hangat—namun murni terbuat dari rempah-rempah halal. Ini adalah sebuah pernyataan identitas: bahwa warga lokal mampu merayakan kemeriahan tanpa harus mengadopsi substansi yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

Simbol Prestise

Penamaan Bir Pletok ternyata tidak sembarangan. Sebagai bentuk adaptasi terhadap tradisi minum anggur, warga Betawi mengambil inspirasi dari suara letupan penyumbat botol kayu. Bunyi itulah yang kemudian diabadikan menjadi nama minuman rempah khas ini.

Suara “plop” atau “pletok” itulah yang kemudian diserap secara onomatope ke dalam penamaan minuman ini. Detail ini membuktikan bahwa Bir Pletok bukan sekadar minuman penghangat, melainkan sebuah bentuk apresiasi terhadap gaya hidup “berkelas” yang diterjemahkan ulang ke dalam dialek dan cita rasa lokal.

Dalam kosmologi budaya Betawi, Bir Pletok memegang posisi yang sangat terhormat, mendampingi setiap siklus hidup manusia. Sejarawan JJ Rizal menekankan bahwa minuman ini hadir dalam tiga perayaan utama: khitanan, pernikahan, hingga kematian. Namun, puncaknya adalah pada upacara pernikahan, di mana kehadirannya menjadi standar sosial yang absolut.

“Keberadaan bir pletok sangat prestisius untuk orang Betawi. Bak wine yang selalu ada pada perayaan kemenangan orang Eropa, bir pletok juga menjadi simbol kemewahan dan kesuksesan perayaan orang Betawi… Perayaan-perayaan itu dilihat sukses dari seberapa ‘menyungainya’ si bir pletok, sama kayak wine di Eropa.” — JJ Rizal.

Istilah “menyungainya” menggambarkan betapa melimpahnya sajian Bir Pletok. Tanpa kehadirannya, kemewahan kue-kue khas Betawi lainnya seolah kehilangan ruhnya. Bir Pletok adalah penanda bahwa sang penyelenggara acara telah mencapai tingkat kesuksesan tertentu dalam strata sosial masyarakatnya.

Karakter Rasa yang Unik

Berbeda dengan wine yang cenderung asam atau bir yang memiliki “gigitan” soda dan rasa pahit, Bir Pletok menawarkan profil rasa yang manis dan menenangkan. Rahasia warna merah ikoniknya bukan berasal dari pewarna sintetis, melainkan ekstraksi alami dari kayu secang. Semakin banyak kayu secang yang digunakan, semakin intens rona merah yang dihasilkan, menyerupai kemewahan warna anggur merah.

Keharmonisan rasa Bir Pletok dibangun di atas fondasi jahe dan serai yang memberikan kehangatan instan di kerongkongan, sementara kayu secang menyumbangkan warna merah alami yang ikonik. Sensasi hangat tersebut semakin kaya berkat hidden heat dari lada yang bertahan lama di langit-langit mulut, berpadu sempurna dengan kedalaman aroma dari cengkih, kayu manis, kapulaga, dan pala. Sebagai penyempurna, tambahan daun pandan dan daun jeruk purut memberikan sentuhan wangi segar yang menggugah selera sejak hirupan pertama.

Dalam buku Kuliner Khas Betawi (2012), Sylviana Murni mencatat bahwa selain menghangatkan tubuh, kandungan rempah ini sangat efektif untuk memperlancar peredaran darah, menjadikan Bir Pletok sebagai minuman fungsional sejak zaman dahulu.

Evolusi Bir Pletok

Dahulu, Bir Pletok adalah teman setia di malam hari atau saat musim penghujan untuk melawan hawa dingin. Namun, sebuah narasi sejarah menarik muncul pada tahun 1950-an. H. Djayadi, seorang tokoh Betawi dari Kota Bambu, mengenang masa sekolahnya di mana Bir Pletok telah bertransformasi menjadi jajanan segar. Di depan Masjid Tanah Abang, dekat pangkalan delman, para pedagang pikulan menjajakan Bir Pletok dingin dengan es batu di tengah terik siang hari.

Evolusi Bir Pletok terus berlanjut hingga kini melalui adaptasi modern yang tersedia dalam bentuk bubuk instan praktis maupun kemasan Ready to Drink (RTD). Seiring dengan kemudahan akses tersebut, nilai historisnya pun semakin diakui secara global dan nasional; terbukti dengan terpilihnya minuman ini sebagai salah satu dari “30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia” serta penetapannya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kemendikbud RI sejak tahun 2014.

Transformasi ini memastikan Bir Pletok tetap relevan, tidak hanya sebagai memori kolektif masa lalu, tetapi juga sebagai gaya hidup modern yang menyehatkan.

Bir Pletok adalah lebih dari sekadar minuman; ia adalah ramuan pusaka yang merangkum keberanian, kreativitas, dan martabat masyarakat Betawi. Meneguk segelas Bir Pletok berarti kita sedang mengapresiasi sebuah narasi sejarah yang berhasil bertahan melintasi zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.