apijiwa.id – Kaum penyandang disabilitas sering dipandang sebelah mata dan dianggap masyarakat kelas dua. Padahal mereka memiliki hak hidup yang sama di negeri ini. Karenanya, sangat wajar jika kemudian ada semacam harapan jika para kaum disabilitas bisa berperan nyata dalam kehidupan dan mampu hidup setara dengan orang-orang normal pada umumnya.
Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia atau disingkat APDL adalah sebuah organisasi yang lahir dari keprihatinan, karena masih banyak perjuangan yang belum selesai untuk mengangkat harkat dan martabat kaum penyandang disabilitas.
Organisasi APDL didirikan pada bulan Mei 2016 dan diresmikan di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dengan Akta Notaris Surjadi Yasin, SH. “Dalam keterbatasan yang ada, kami harus muncul dan hadir agar kaum penyandang disabilitas segera bisa diberdayakan dalam berbagai hal, karena mereka semua memiliki kemampuan dalam berbagai hal pula,” terang Ketua APDL, Sri Agustini Joekanan kepada apijiwa.id.
Memberdayaan Penyandang Disabilitas
Di antara program APDL yang telah digulirkan adalah pemberdayaan disabilitas di bidang keagamaan dalam bentuk pembelajaran baca tulis Al-Qur’an, baik yang umum maupun menggunakan huruf Braille; penyampaian kajian agama, dan pembiasaan tadarus Al-Qur’an, serta penyelenggaraan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).
Sedang di bidang pendidikan dalam bentuk pembekalan pengetahuan dan wawasan. Di bidang ketenagakerjaan dalam bentuk pelatihan dan pengembangan sejumlah keterampilan dan skill, dan sejumlah program di bidang lainnya seperti bidang seni dan budaya.
APDL juga memfasilitasi dan memberikan perlindungan kepada para penyandang disabilitas. “Kita berusaha agar kaum penyandang disabilitas mendapatkan hak yang semestinya,” ungkap Sri Agustini Joekanan atau yang akrab disapa Ibu Sri.

Adapun dalam bidang kemanusiaan, APDL melakukan advokasi kesehatan seperti membantu pengurusan BPJS Kesehatan secara gratis. Kemudian pemberian bantuan alat bantu gerak, juga pemberian bahan pangan (sembako ), bantuan korban bencana alam, membantu anak-anak yatim, pemberian biaya kesehatan, dan bantuan stimulan untuk meringankan kebutuhan hidup.
“Tidak lupa pula kami memberikan bantuan alat bantu gerak Ortestik Prothestik, alat bantu dengar, peralatan netra, dan lain-lain untuk mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, untuk pengembangan SDM anggota di organisasi yang dipimpinnya, anggota diusahakan mendapatkan pendidikan paket A, B, dan C, hingga mendapat ijazah. Juga dilakukan pemberdayaan UMKM melalui program Disabilitas Berdaya dengan harapan mereka bisa memperoleh penghasilan melalui dunia usaha.
Sejauh ini, APDL telah melalukan upaya-upaya nyata dalam bentuk pemberdayaan melalui advokasi ketenagakerjaan, promosi musisi dan seniman disabilitas, membuka usaha produksi bidang Prothestik, mendirikan grup musik Difa’s Band, dan pemberantasan buta baca tulis Al-Qur’an bagi disabilitas, khususnya di wilayah Jawa Barat. “Hal ini sebagai bukti kepedulian kami, karena kaum penyandang disabilitas adalah aset berharga bagi negeri ini,” tambahnya bersemangat.
Rutin Menggelar Sejumlah Pelatihan
Pemberdayaan menuju kemandirian melalui sejumlah pelatihan juga dilakukan secara rutin seperti pelatihan tata boga, menjahit, cukur rambut, desain grafis, cleaning service, dan lain-lain. “Hal ini kami lakukan karena kami menyadari potensi yang luar biasa dari kaum penyandang disabilitas,” tegasnya.
Menurutnya, pendanaan terhadap aktivitas kegiatan yang dilakukan ada yang bersifat internal dan ada juga yang bersifat eksternal. Secara internal, sebagian didapat dari hasil usaha UMKM disabilitas. Sedang secara eksternal, didapatkan dari BAZNAS dan lembaga zakat lainnya, CSR, instansi, serta jika dibutuhkan patungan dari para pengurus.
“Alhamdulillah, kami selalu bersyukur bisa melakukan kegiatan dengan dana yang ada,” ungkapnya.

Sementara agar mampu melakukan kinerja secara baik, maka APDL selalu menggandeng para relawan peduli disabilitas, bekerja sama dengan dinas terkait, BAZNAS, BUMN, serta perusahaan-perusahaan swasta dan lembaga donor peduli kaum penyandang disabilitas.
Sebelum melakukan kegiatan, biasanya ia melakukan diskusi dengan tim kerjanya terlebih dahulu. Kemudian melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, serta akhirnya melakukan eksekusi lapangan.
Target 2026
Saat ini, anggota APDL mencapai 6.000 orang mencakup wilayah Jawa Barat serta menyebar di provinsi lain. “Semua ini menjadi tantangan bagi kami. Tugas ini memang tidak mudah, tetapi kami yakin semuanya akan dapat dilakukan secara baik,” imbuhnya.
Untuk even, baik tahunan maupun insidental, APDL mengadakan kegiatan Disabilitas Mengaji, cooking class, dan konser kemanusiaan untuk penggalangan dana. Ada juga bakti sosial, peragaan busana, nikah massal, manasik haji, dan lain-lain.
Untuk menyukseskan beragam kegiatan itu, APDL selalu berkoordinasi, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan berbagai pihak melalui mengajukan proposal dengan melampirkan profil organisasi.
“Sejauh ini, sambutannya cukup baik dan banyak pihak yang selalu membantu kegiatan kami,” pungkasnya.
Tahun 2026 ini, APDL menargetkan memberdayakan 10.000 disabilitas di seluruh penjuru Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke. Bisa melaksanakan konser kemanusiaan dengan artis dan musisi Indonesia. Bisa audiensi dengan Presiden, serta ada bantuan dana operasional dari pemerintah atau lembaga donor.
Kendati baru eksis sekitar 9 tahun, namun APDL telah menunjukkan kiprah yang mengagumkan bagi pemberdayaan dan peningkatan harkat dan martabat para penyandang disabilitas.
Tentu, APDL diharapkan bisa terus eksis mengepakkan kiprahnya dalam melakukan advokasi dan pemberdaayan terhadap kaum penyandang disabilitas. Dan juga, diharapkan kiprah APDL bisa menginspirasi eksponen bangsa lainnya untuk menunjukkan kepedulian dan perjuangan serupa.
Aliansi Perempuan Disabilitas dan Lansia (APDL)
Perum Puteraco Blok E1 No.24, Jalan Bandung – Garut KM 27
Parakanmuncang, Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat. CP: 087881038328













