apijiwa.id – Suasana hangat menyelimuti kawasan Pondok Pesantren Sidogiri menjelang siang yang tenang pada Ahad (24/5/2026). Kehadiran rombongan pengurus Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Annuqayah disambut dengan diskusi produktif. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan ruang pertukaran gagasan strategis mengenai kemandirian ekonomi pesantren yang telah lama dipelopori oleh Sidogiri.
Koppontren Sidogiri bukanlah entitas yang lahir dalam semalam. Berdiri sejak tahun 1961, koperasi ini awalnya murni melayani kebutuhan internal santri. Namun, seiring dengan visi yang semakin tajam, Koppontren Sidogiri mengambil langkah berani pada tahun 1998 dengan membuka kepemilikan saham untuk publik.
Langkah strategis tersebut menjadi fondasi kuat bagi berdirinya BASMALAH, unit usaha ritel yang kepemilikannya dipegang oleh Ikatan Alumni Sidogiri (IASS). Kini, Koppontren Sidogiri telah menjelma menjadi raksasa ekonomi pesantren dengan jumlah anggota mencapai 8.000 orang.
Sistem keanggotaan dikelola secara profesional dan terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, Anggota Khusus yang terdiri dari Pengasuh Pesantren Sidogiri sebagai perwakilan lembaga. Kedua, Anggota Umum yang mencakup para alumni dan masyarakat umum. Ketiga, Anggota Biasa yang berasal dari kalangan dewan guru.
Ketertiban administrasi menjadi kunci keberhasilan ini. Koperasi Sidogiri menerapkan tiga jenis simpanan, yaitu simpanan khusus, simpanan pokok, dan simpanan wajib.
“Simpanan pokok hanya Rp100 ribu, dan simpanan wajib naik Rp50 ribu setiap satu tahun,” jelas salah satu pengurus dalam forum tersebut.

AMDK Santri: Napas Perjuangan Ekonomi
Salah satu puncak diskusi hari itu adalah pemaparan mengenai Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bermerek “Santri”. Produk ini merupakan unit usaha dengan kepemilikan saham penuh milik pondok pesantren yang sejarah perjalanannya sarat akan perjuangan.
Pada awal perintisannya di tahun 1998, AMDK Santri masih menggunakan sistem maklon atau bekerja sama dengan pabrik air minum lain. Titik balik penting terjadi pada 2007 saat mereka menggandeng seorang pengusaha asal Sumenep, Haji Ali, untuk membuka pabrik mandiri di Desa Rembang.
Ketika kontrak di Rembang berakhir pada 2012, estafet perjuangan berlanjut melalui suntikan modal dari pengusaha asal Bangkalan. Lokasi produksi kemudian dipindahkan ke Kecamatan Winongan untuk memperkuat skala usaha. Hanya berselang dua tahun setelah beroperasi di Winongan, AMDK Santri mampu melakukan lompatan besar dengan mengepakkan sayap ekspansinya ke skala nasional.
Kesuksesan ekspansi ini membuahkan hasil yang fantastis. Saat ini, omzet produksi AMDK Santri sukses menyentuh angka 400 ribu karton setiap bulannya, atau setara dengan nilai perputaran uang sekitar Rp6,4 miliar.
“Suatu omzet yang sangat besar untuk ukuran pesantren,” ungkap Kiai Abdul Rahman, pengurus Ponpes Sidogiri, dengan nada penuh syukur.
Kekuatan Keikhlasan di Balik Mesin Produksi
Di balik angka-angka ekonomi yang memukau, terdapat ruh yang menjaga keberlangsungan usaha ini: keikhlasan. Kiai Nurul Huda, Pengurus AMDK Suci, menegaskan bahwa mereka yang bekerja di unit usaha ini adalah para santri dan alumni yang telah teruji secara mental, fisik, dan kejiwaan.
“Tidak semua orang mau bekerja di pondok karena gajinya kecil,” ujar Kiai Nurul Huda.
Namun, di sinilah letak keajaibannya. Rasa cinta dan takzim yang mendalam kepada pondok membuat rasa lelah seolah menguap begitu saja. “Bekerja demi Koppontren milik pondok itu, walau capek, rasanya akan hilang dengan sendirinya,” imbuh beliau.
Dedikasi para karyawan ini bahkan melampaui logika bisnis profesional. Mereka merasa jauh lebih bersemangat bekerja untuk Sidogiri dibandingkan saat bekerja di perusahaan luar. Bukti nyatanya, sejak tahun 2015 hingga saat ini, tidak ada satu pun karyawan yang mengundurkan diri.
Kisah perjuangan masa lalu bahkan lebih mengharukan. Dahulu, pihak pengelola belum memiliki ponsel berbasis GSM untuk operasional. Namun berkat ketulusan mereka, seorang pelanggan asal Tiongkok dengan sukarela menghibahkan sebuah ponsel GSM agar komunikasi bisnis berjalan lancar. Tidak hanya itu, sebuah motor Prima pun pernah dihadiahkan oleh pelanggan sebagai bentuk apresiasi atas keteguhan niat mereka dalam memajukan pesantren.
Inovasi Menyongsong Masa Depan
Kunjungan ini juga menyoroti pentingnya adaptasi teknologi. Koppontren Sidogiri tidak hanya berfokus pada lini produksi, tetapi juga konsisten membenahi sistem distribusi. Untuk mengatasi kendala piutang yang kerap menghambat perputaran modal, mereka meninggalkan sistem distributor konvensional dan beralih ke sistem “dipo”. Dalam hal ini, BASMALAH sebagai unit ritel hadir menjadi motor penggerak utama dalam memasarkan produk AMDK Santri.
Inovasi digital pun gencar dilakukan. Koppontren Sidogiri kini telah memayungi beberapa anak perusahaan berbentuk PT, yang salah satunya fokus pada pengembangan aplikasi. “Ada aplikasi bernama Smart Pesantren yang terintegrasi dengan sistem keuangan, dan aplikasi ini disediakan secara gratis,” ungkap pengurus dalam pemaparannya di hadapan kami.
Pemaparan kondisi AMDK Suci oleh Kiai Ahmad Hasan Tsabit semakin memperkaya sudut pandang Koppontren Annuqayah. Kunjungan ini tidak sekadar menjadi ajang transfer ilmu teknis, tetapi juga penguatan mentalitas bahwa pesantren mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri melalui sinergi, profesionalisme, dan keikhlasan yang menjadi bahan bakar utama perjuangan.
Di akhir pertemuan, harapan besar tertumpu pada kolaborasi masa depan, di mana kemandirian ekonomi pesantren tidak lagi sekadar menjadi impian, melainkan kenyataan yang kokoh menopang pendidikan umat.
Pertemuan luar biasa ini resmi berakhir pada pukul 11.30 WIB. Agenda kemudian dilanjutkan dengan meninjau langsung unit produksi AMDK Santri di kawasan Winongan. Kami mengamati setiap proses produksi dengan penuh antusias. Melihat skala dan efisiensinya, sangat wajar jika pabrik ini mampu mencapai target produksi 300 hingga 400 ribu karton setiap bulannya. AMDK Santri telah tumbuh menjadi industri yang besar dan sangat layak disebut sebagai pabrik air minum bertaraf nasional.













