apijiwa.id – Menembus pasar internasional bukanlah perkara mudah, khususnya bagi produk kuliner dan kerajinan. Kendati demikian, peluang ekspor selalu terbuka lebar asalkan ada upaya yang konsisten dan strategis.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi santai di Sawo Kafe, kawasan Braga, Kota Bandung, Kamis (18/6/2026). Diskusi yang diinisiasi oleh Dewi Turgarini ini fokus membahas pengondisian bisnis agar produk lokal Indonesia mampu bersaing di pasar global.
Diskusi ini dihadiri oleh sejumlah tokoh lintas sektor yang membawa perspektif akademis hingga praktisi bisnis internasional. Di antaranya adalah Dewi Turgarini selaku Dosen Senior Program Studi Manajemen Industri Katering (MIK) FPIPS dan Program Magister UPI Bandung, serta Sinta Tursini Turna yang merupakan pemilik sekaligus Manajer Operasional Bandung Food Centre (BFC) di Qatar. Hadir pula Tini Gustini selaku perwakilan Komunitas UMKM Perempuan Pengusaha Kepala Keluarga (PEKKA) dan Warung Cetarr, yang berkumpul bersama sejumlah pelaku bisnis lokal serta mahasiswa.
Dalam kesempatan itu, Dewi menjelaskan bahwa pihak kampus konsisten menjalankan program pengabdian kepada masyarakat. Selama bertahun-tahun, pihaknya fokus meneliti gastronomi untuk melestarikan kuliner tradisional, termasuk menyusun inventarisasi dan database kuliner desa.
Namun, Dewi menekankan bahwa data tersebut tidak akan berdampak besar tanpa adanya tindak lanjut yang nyata. Alasan itulah yang mendorongnya bersama tim untuk memikirkan cara agar produk-produk lokal ini bisa menembus pasar mancanegara, khususnya pasar Qatar di Timur Tengah.
“Terus terang, saya prihatin saat turun ke desa-desa karena produk yang dihasilkan sebagian besar belum memenuhi standar pasar internasional. Karena itu, saya menggandeng Komunitas UMKM Kuliner Perempuan Pengusaha Kepala Keluarga dan Warung Cetarr. Atas izin Allah, kami juga dipertemukan dengan pemilik Bandung Food Centre di Qatar yang memiliki visi serupa, yaitu memajukan produk kuliner dan kerajinan tradisional agar lebih dikenal di sana,” ujar Dewi.
Ia menambahkan, kolaborasi ini menjadi momentum awal (kick-off) sekaligus pintu masuk untuk membuka akses ke pasar internasional di negara-negara lain, sekaligus memetakan pola pemasaran yang paling efektif.
Menurut Dewi, setiap wilayah memiliki karakteristik pasar yang unik. Oleh karena itu, para perajin dan produsen lokal harus memastikan produk mereka benar-benar memenuhi standar kualitas agar dapat diterima dengan baik dan berkelanjutan.
Sebagai gambaran potensi pasar di Timur Tengah, BFC di Qatar saat ini bahkan telah memasarkan hingga 3.000 jenis produk asal Indonesia, termasuk komoditas non-kuliner seperti minyak kayu putih.
Sementara itu, pemilik sekaligus Manajer Operasional Bandung Food Centre (BFC) di Qatar, Sinta Tursini Turna, menjelaskan bahwa motivasi utamanya adalah kerinduan sebagai warga negara Indonesia untuk memajukan produk lokal, khususnya dari Jawa Barat. Bagi Sinta, keberadaannya bersama keluarga yang menetap di Qatar adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.
Menurutnya, pasar bagi produk Indonesia di sana sangat terbuka karena banyaknya kaum diaspora yang merindukan kuliner dan kerajinan Nusantara. Salah satu komoditas yang saat ini paling tinggi permintaannya adalah tepung tapioka. Selain bernilai ekonomi, upaya ini menjadi bagian dari misi pelestarian khazanah kuliner tradisional, mengingat Tanah Pasundan kaya akan potensi produk olahan makanan.
“Banyak sekali produk Indonesia yang sebetulnya dibutuhkan di sana. Namun, perlu diingat bahwa otoritas Qatar sangat selektif terhadap produk makanan dan minuman. Produk yang masuk harus terjamin kehalalannya, memiliki legalitas hukum yang jelas, dan yang paling utama, mencantumkan tanggal kedaluwarsa (expire date) dengan saksama. Karena itu, ada SOP ketat yang harus dipatuhi agar produk kita bisa diterima di sana,” tegas Sinta.
Di sisi lain, perwakilan Komunitas UMKM PEKKA dan Warung Cetarr, Tini Gustini, menyambut baik kolaborasi nyata ini. Menurutnya, kerja sama ini menjadi angin segar bagi komunitasnya yang mayoritas beranggotakan kaum perempuan penopang ekonomi keluarga.
Tini mengungkapkan bahwa selama ini para pelaku usaha mikro kerap mengikuti berbagai pelatihan, namun kerap kali terhenti tanpa kejelasan pasar (offtaker). Kehadiran BFC di Qatar dinilai sebagai peluang konkret yang wajib dimanfaatkan, asalkan seluruh standar dan SOP produk mampu dipenuhi dengan baik agar dapat bersaing.
“Kami tidak hanya dibantu dalam aspek pengembangan produk dan teknik pengemasan (packaging) yang baik, tetapi juga didampingi dalam pengurusan legalitas. Kesempatan ekspor ini menjadi jalan nyata untuk meningkatkan penghasilan keluarga bagi kaum perempuan pelaku usaha,” ujar Tini optimistis.
Dampak positif dari kolaborasi ini pun mulai terasa. Para produsen lokal kini mulai kebanjiran pesanan ekspor yang otomatis mendongkrak pendapatan mereka. Tini membeberkan, saat ini produk tradisional yang paling banyak dipesan di antaranya adalah rengginang, kerupuk rambak, opak, serta kentang Mustofa. Potensi ini diyakini masih akan terus berkembang pesat di masa depan.
Sinergi lintas sektor antara akademisi, komunitas pelaku usaha, dan jaringan pasar internasional seperti ini patut dipertahankan dan diperluas. Langkah nyata ini diharapkan tidak hanya mampu mendongkrak perekonomian masyarakat di tingkat akar rumput, tetapi juga membawa produk kuliner tradisional Indonesia semakin berkibar di kancah global.












