apijiwa.id – Sejak resmi dibuka pada 10 September 2025 lalu, museum di Kecamatan Ambarawa telah menarik banyak perhatian pengunjung. Antusiasme datang tidak hanya dari warga lokal Ambarawa dan Kabupaten Semarang, tetapi juga dari luar daerah. Pengunjungnya pun beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Hal tersebut disampaikan oleh Narator sekaligus Pengelola Museum Jayaningrat, Sumbodo Heru Budiyono, kepada awak media pada Senin (22/06/2026).
“Setelah resmi dibuka, museum sejarah ini ramai dikunjungi masyarakat. Bahkan, banyak mahasiswa hingga dosen dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah yang melakukan penelitian di sini, khususnya terkait sejarah Ambarawa secara umum,” ujar Heru.
Menurut Heru, kehadiran museum yang kini dinamai Museum Jayaningrat ini membuktikan bahwa masyarakat Ambarawa memang membutuhkan ruang edukasi sejarah. Dari 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang, Museum Jayaningrat menjadi satu-satunya museum sejarah tingkat kecamatan di wilayah tersebut.
“Pengunjung tidak sekadar melihat-lihat. Banyak mahasiswa yang menjadikannya sebagai objek penelitian skripsi hingga disertasi doktoral (S3), seperti dari UGM Yogyakarta, UIN Salatiga, Udinus Semarang, dan UKSW Salatiga. Mereka umumnya kagum dan heran, tingkat kecamatan bisa memiliki museum sejarah sekelas ini. Menurut mereka, museum ini sangat layak untuk dikembangkan lebih jauh,” lanjut alumnus Pendidikan Geografi FKIP UKSW Salatiga tersebut.
Heru menambahkan, beberapa peneliti bahkan menawarkan bantuan untuk membuatkan video tiga dimensi (3D). Fasilitas ini diharapkan dapat mempertegas identitas museum sejarah, terutama dalam menggambarkan visualisasi Perang Palagan, sejarah kerajaan masa lalu di Ambarawa, serta berbagai peristiwa bersejarah lainnya.
Meski perkembangannya positif, Museum Jayaningrat masih menghadapi kendala keterbatasan petugas pendamping bagi pengunjung. Menyikapi hal tersebut, Heru berinisiatif membentuk komunitas “Mas Pedumus” (Masyarakat Peduli Museum) yang beranggotakan 24 orang. Komunitas ini terdiri dari kolektor benda sejarah, guru sejarah, pemerhati budaya, serta para peneliti Ambarawa.
“Tugas utama ‘Mas Pedumus’ adalah mendampingi pengunjung dan memberikan edukasi terkait koleksi serta sejarah berdirinya museum. Jadi, pengunjung tidak hanya sekadar jalan-jalan, tetapi pulang membawa wawasan baru. Mereka sangat membantu, terutama jika saya sedang ada tugas kedinasan lain dan tidak bisa mendampingi,” terang Heru yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Tata Pemerintahan (Kasi Tapem) Kecamatan Ambarawa.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, Museum Jayaningrat menyimpan berbagai koleksi benda bersejarah yang menarik. Di antaranya adalah sejumlah pusaka tradisional seperti keris dan tombak, batuan alam, foto-foto tempo dulu, lukisan, hingga galeri foto para mantan Camat Ambarawa yang pernah menjabat.
“Untuk koleksi pusaka, beberapa di antaranya adalah Keris Lurus, Landean Tombak, Kyai Tunggul Sari, Ki Jagatri, dan keris Luk 13,” pungkas Heru.














