Advertisement

“Eh Afdi, tadi malam oshimu, Delyn, live loh… Nonton gak?”

“Kak, Lana sekarang pinter public speaking-nya loh.”

“Walah, ternyata Freya keren banget pas live di Showroom ya.”

“Gilaaaak!!! Tadi malam pas live Nur Intan lucu banget, ada Ekin juga.”

“Semakin ke sini, perkembangan Erine Generasi 12 cukup heboh ya. Dulu dia sering bikin gimmick ngamuk-ngamuk, sekarang sudah bervariasi.”

“Maira, jangan hujanan.”

“Wah, adekku Fritzy Rosmerian kemarin main sulap loh pas live…”

Kutipan di atas adalah potongan obrolan yang sering dilontarkan oleh para pencinta JKT48. Mereka tidak sekadar mengagumi, tetapi juga mengamati dengan jeli setiap detail perkembangan para anggota (member) grup idola tersebut.

Bagi masyarakat awam, JKT48 mungkin hanya terlihat sebagai grup yang menyanyi dan menari dengan kostum serasi di atas panggung. Setiap kali mereka tampil, ribuan penggemar memadati teater di kawasan Jakarta, mengayunkan lightstick berwarna-warni, dan meneriakkan yel-yel (chant) secara kompak.

Namun, jika kita mengupas lapisan permukaan industri hiburan ini dan merunutnya dari akar konseptual, kita akan menemukan sebuah transformasi yang luar biasa. Berawal dari strategi bisnis industri kreatif Jepang, ekosistem ini bermutasi menjadi ruang community learning (komunitas belajar) mandiri yang sangat efektif.

Dalam ranah kajian Pendidikan Nonformal, pembelajaran berbasis komunitas yang lahir dari rahim budaya populer ini merupakan salah satu subtema yang krusial. Fenomena ini membuktikan bahwa proses transformasi pengetahuan terbaik justru bisa lahir secara organik dari sebuah hobi.

Hingga tulisan ini dibuat, JKT48 telah melahirkan 14 generasi. Jika dulu masyarakat awam hanya mengenal Melody, Gaby, atau Nabilah, sekarang tongkat estetika itu telah diteruskan ke generasi baru seperti Bella, Ralyne, Heidi, Carissa, hingga Maxine.

Dari “Idol You Can Meet” Menuju Ekosistem Pembelajaran Nonformal

Akar dari seluruh fenomena ini bermuara pada gagasan revolusioner Yasushi Akimoto, seorang produser genius di balik lahirnya AKB48 di Jepang. Akimoto mendobrak pakem industri hiburan tradisional yang selalu menyajikan idola sebagai sosok yang sempurna, berjarak, dan tidak tersentuh.

Melalui konsep “Idol You Can Meet” (idola yang dapat kamu temui), ia menciptakan sebuah paradigma baru: idola bukanlah produk jadi, melainkan sebuah proses. Cara kerja grup idola bentukan Akimoto ini berpusat pada ekosistem teater harian. Di sana, para anggotanya memulai perjalanan mereka dari titik nol sebagai gadis remaja biasa yang belum mahir bernyanyi maupun menari. Di sinilah letak daya tarik utamanya; para penggemar tidak membeli kesempurnaan, melainkan membeli “proses pertumbuhan” sang idola.

Ketika formula ini dibawa ke Indonesia melalui pembentukan JKT48 sebagai sister group resmi pertama di luar Jepang, konsep pertumbuhan tersebut langsung beresonansi kuat dengan budaya lokal. JKT48 mengadopsi sistem operasional ini mulai dari pembagian generasi, pertunjukan teater rutin, hingga sistem kenaikan kelas dari trainee (siswi akademi) menjadi anggota tim inti.

Model kerja grup idola yang dinamis ini secara tidak sadar menciptakan ruang interaksi sosial yang sangat intens. Di sinilah transisi menuju ranah Pendidikan Nonformal terjadi. Ketika ribuan orang berkumpul, berinteraksi secara konsisten, dan terikat pada narasi pertumbuhan yang sama, ekosistem JKT48 beserta seluruh jaringan penggemarnya secara organik bermutasi menjadi sebuah wadah community learning raksasa.

Pembelajaran tidak lagi bersifat searah dari atas ke bawah (top-down) seperti di sekolah formal, melainkan bersifat horizontal dan partisipatif, yang digerakkan oleh motivasi internal untuk tumbuh bersama.

Perspektif ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Ari Tri Winarno dan Muhammad Azis Muslim dalam buku Sekolah Membunuhmu (2019). Mereka menjelaskan bahwa terdapat tiga jalur pendidikan utama. Pertama adalah pendidikan formal, yaitu jalur yang terstruktur dan berjenjang mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Kedua adalah pendidikan nonformal, sebuah jalur di luar sistem formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang—seperti kursus, pelatihan, kelompok belajar, hingga majelis taklim—yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik. Ketiga adalah pendidikan informal, yaitu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan melalui kegiatan mandiri, keteladanan, serta pembiasaan.

Melihat klasifikasi tersebut, JKT48 dapat dikategorikan secara tepat ke dalam jalur Pendidikan Nonformal dengan ciri khusus berupa community learning (pembelajaran berbasis komunitas).

Dari Belajar Bersama hingga Aksi Nyata

Sebagai bagian dari pendidikan nonformal, community learning dalam ekosistem JKT48 mengusung karakteristik utama berupa peer-to-peer learning (belajar antarteman sebaya). Proses ini terjadi di dua kutub ekosistem: internal anggota dan eksternal penggemar.

Di dalam lingkaran internal grup, proses saling mengajari ini terjadi di ruang latihan dan belakang panggung teater. Para anggota senior sering bertindak sebagai teman belajar bagi junior mereka dengan mentransfer keterampilan teknis—seperti koreografi dan vokal—serta berbagi pengetahuan mengenai etika profesi dan komunikasi publik.

Fenomena belajar horizontal ini menular jauh lebih masif di dalam komunitas penggemar (fans). Di ruang-ruang diskusi digital seperti Discord, WhatsApp, hingga platform X, para penggemar senior secara sukarela membimbing penggemar baru mengenai aturan tidak tertulis dalam fandom, tata krama berinteraksi, hingga keterampilan teknis yang kompleks tanpa adanya paksaan.

Karakteristik penting berikutnya yang melekat kuat dari proses peer-to-peer ini adalah penerapan metode pembelajaran berbasis proyek nyata (project-based learning). Pembelajaran di dalam komunitas ini tidak pernah berhenti pada tataran teori, melainkan selalu digerakkan oleh aksi nyata untuk memecahkan tantangan bersama.

Momen ini paling jelas terlihat saat musim pemilihan anggota atau Senbatsu Sousenkyo (SSK) tiba. Demi membawa idola pilihan mereka masuk ke jajaran utama, komunitas penggemar langsung bertransformasi menjadi organisasi manajemen proyek yang profesional. Melalui proyek kolektif skala besar ini, anak-anak muda secara praktis mempelajari berbagai keterampilan hidup (life skills). Tanpa ada guru yang mendikte, mereka mampu membentuk tim sukses, menyusun strategi kampanye kreatif di media sosial, memetakan target audiens, melakukan audit keuangan internal secara transparan, hingga mengelola konflik kelompok secara mandiri.

Adaptasi Keterampilan Abad ke-21

Selain metode berbasis proyek, kurikulum yang berjalan di dalam community learning JKT48 selalu bersifat dinamis dan berbasis kebutuhan (need-driven curriculum). Tuntutan untuk menjaga sang idola tetap relevan di era digital memaksa komunitas ini merumuskan secara mandiri kecakapan baru yang perlu mereka kuasai.

Aktivitas ini memicu para penggemar untuk mempelajari keterampilan praktis secara otodidak, mulai dari desain grafis untuk merayakan momen penting idola (seperti Seitansai, Shonichi, atau Senshuuraku), hingga penyuntingan video kreatif. Tak kalah mengagumkan, kerinduan untuk memahami makna lagu asli mendorong banyak penggemar mempelajari bahasa asing. Mereka juga belajar membaca algoritma media sosial serta menganalisis tren data demi menyusun strategi pemasaran digital (digital marketing) yang efektif demi mendukung idola mereka.

Fenomena JKT48 membuktikan bahwa ekosistem industri hiburan dapat menembus batasnya dan bermutasi menjadi ruang pendidikan nonformal yang sangat efektif melalui konsep community learning secara organik. Berakar dari prinsip pertumbuhan “Idol You Can Meet”, wadah ini berhasil menciptakan proses pembelajaran horizontal yang partisipatif, baik di ranah internal anggota maupun eksternal penggemar.

Melalui kombinasi praktik peer-to-peer learning, metode project-based learning dalam proyek nyata seperti Senbatsu Sousenkyo, hingga kurikulum dinamis untuk menguasai keterampilan digital, seluruh ekosistem ini bergerak secara sukarela atas dasar ketertarikan yang sama. Pada akhirnya, JKT48 menjadi bukti nyata bahwa transformasi pengetahuan terbaik dan penguasaan berbagai keterampilan hidup (life skills) yang krusial justru dapat lahir secara alami dari rahim budaya populer, tanpa sekat kaku sekolah formal.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.