| Informasi | Detail |
| Judul Buku | Modernitas dalam Kampung: Pengaruh Kompleks Perumahan Sompok terhadap Pemukiman Rakyat di Semarang Abad ke-20 |
| Penulis | Radjimo Sastro Wijono |
| Penerbit | LIPI Press (Anggota IKAPI) — Program Akuisisi Pengetahuan Lokal 2021, bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI) & Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie (NIOD) |
| Tahun Terbit | Cetakan Pertama, September 2013 |
| ISBN | 978-979-799-743-4 |
| Tebal Halaman | xxii + 215 halaman |
apijiwa.id – Permukiman bukan sekadar tumpukan bata dan kalsium yang menyusun ruang berteduh; ia adalah artefak hidup yang merekam jejak kekuasaan, mobilitas manusia, dan pergulatan peradaban. Dalam kacamata sosiologi ruang, permukiman adalah sebuah “peristiwa” berkelanjutan. Buku karya Radjimo Sastro Wijono ini membedah dengan tajam bagaimana Semarang—sebuah mozaik kampung organik yang tumbuh liar—dipaksa tunduk pada ketertiban grid modern di bawah panji Politik Etis kolonial awal abad ke-20.
Tesis utama buku ini mengeksplorasi “permukiman sebagai sejarah”, sebuah dialektika antara kemajuan (vooruitgang) yang dipaksakan otoritas Belanda dengan realitas sosial di akar rumput. Semarang, sebagai pelopor pembangunan modern di Hindia Belanda, mengalami perubahan morfologi kota yang drastis akibat kebijakan desentralisasi (Decentralitatie Wet 1906). Namun, di balik narasi kemajuan tersebut, terdapat jiwa zaman (zeitgeist) yang penuh ketegangan, di mana pertumbuhan kota yang pesat memicu krisis kesehatan massal yang akhirnya memaksa lahirnya intervensi tata ruang yang radikal.
Bedah Krisis Kesehatan dan Higienitas Kolonial
Dalam retorika kolonial, Gemeente Semarang menggunakan logo seorang gadis cantik—seorang “Dara”—untuk mencitrakan dirinya sebagai Vanesa di Timur (Venice of the East). Namun, realitas demografis awal abad ke-20 menunjukkan ironi yang menyakitkan: sang Dara tengah “terluka” parah. Kepadatan penduduk yang mencapai 400–1.000 jiwa per hektare di kampung-kampung kumuh menciptakan ekosistem yang ideal bagi maut. Sanitasi yang buruk dan pelayanan kesehatan yang diskriminatif—yang lebih memprioritaskan populasi Eropa—membuat angka kematian meroket melampaui angka kelahiran.
Data historis dalam buku ini menyajikan potret kelam mengenai krisis higienitas tersebut. Wabah pes, kolera, dan tifus menjadi “Kyai Samber Nyowo” bagi warga kampung yang terpinggirkan.
Tabel 3: Angka Kematian Penduduk Semarang 1919 (per 1.000 jiwa)
| Daerah | Triwulan I | Triwulan II |
| Mranggen | 26 | 151 |
| Karangun | 24 | 115 |
| Kebonbatu | 20 | 98 |
| Pedurungan | 26 | 90 |
| Semarang Wetan | 59 | 72 |
| Rata-rata Kota | 31,2 | 78,6 |
Lonjakan angka kematian di Mranggen dari 26 menjadi 151 per 1.000 jiwa dalam hitungan bulan adalah bukti konkret dari “Dara yang sedang berdarah”. Lingkungan yang mesoem (kotor) ini memaksa pemerintah untuk meluncurkan regulasi perumahan sehat, sebuah upaya medikasi tata ruang untuk menyelamatkan citra kolonialisme.
Karsten dan Kelahiran Kompleks Sompok-Mlaten
Sebagai respons atas luka sosial tersebut, muncul tokoh sentral Thomas Karsten, seorang arsitek visioner yang merancang kompleks Sompok (1918) dan Mlaten (1924). Karsten tak sekadar membangun rumah; ia merumuskan identitas baru melalui IndoEuropeesche bouwskunst. Ini adalah gaya arsitektur hybrid yang mencoba mengawinkan ventilasi dan struktur modern Barat dengan kearifan lokal, seperti adaptasi bentuk atap Joglo.
Pembangunan ini ditargetkan secara spesifik berdasarkan stratifikasi kelas. Kompleks Sompok dan Mlaten dirancang untuk mengakomodasi Pegawai Rendah dan masyarakat pribumi menengah-bawah melalui berbagai tipe rumah terukur.
Katalog Rancang Bangun Perumahan Gemeente Semarang
| Tipe Rumah | Referensi Visual | Karakteristik Sosiologis |
| Tipe 4 | Gambar 13 | Rumah rakyat dengan desain sirkulasi udara sehat. |
| Tipe I | Gambar 19 | Unit di Mlaten dengan denah efisien untuk keluarga kecil. |
| Tipe III & IV | Gambar 20 & 21 | Hunian permanen dengan standar higienitas modern. |
| MCK Umum | Gambar 3 & 4 | Dibangun terpisah sebagai “alat peradaban” (civilizing tool). |
Inovasi Karsten yang paling provokatif adalah penempatan MCK Umum (1 unit untuk 10–15 rumah) di luar bangunan utama. Secara teknis, ini menghemat biaya, namun secara sosiologis, ini adalah instrumen disiplin tubuh. Pemerintah berusaha menjauhkan rakyat dari sungai sebagai tempat aktivitas sanitasi, memaksa mereka mengadopsi standar higienitas Barat demi memutus rantai wabah.
Kompleks Modern vs Tradisi Wong Kampung
Kehadiran kompleks modern ini menciptakan guncangan identitas bagi “wong kampung”. Di satu sisi, warga kompleks mulai menikmati kemewahan air ledeng dan listrik—sebuah gaya hidup yang mulanya dianggap tak tersentuh (untouchable) oleh penduduk tradisional di sekitarnya. Di sisi lain, kampung-kampung seperti Lamper Mijen dan Peterongan tetap menjadi benteng bagi “jiwa” tradisional Semarang.
Dialektika ini muncul secara kontras dalam aspek budaya. Masyarakat kampung tetap memegang teguh tradisi pernikahan yang sakral, dengan busana pengantin Gagak Item untuk perempuan dan Coro Kaji untuk laki-laki, lengkap dengan iringan sinoman, terbangan, dan bantenan. Inilah “ruh” kampung yang hangat, yang mulai bergesekan dengan efisiensi dingin dari grid perumahan Karsten.
Interaksi kedua entitas ini diredam oleh sikap teposliro (toleransi antarbudaya), namun modernitas tetap meminta tumbal. Di Lamper Mijen, perpadatan penduduk dan desakan ruang modern perlahan melenyapkan tradisi sambatan (gotong royong membangun rumah) dan memusnahkan rumah-rumah tradisional joglo limasan, menggantinya dengan deretan hunian yang lebih individualistik.
“Dara yang Pergi” dan Tragedi Ruang
Narasi buku ini mencapai puncaknya pada transisi kekuasaan yang tragis. Ketika hegemoni Belanda runtuh dan Jepang masuk (1942), “Dara” dalam logo itu benar-benar pergi. Kompleks Sompok dan Lamper Sari mengalami inversi fungsi yang memilukan menjadi Kamp Interniran (Kamp Tahanan).
Di sinilah terjadi peristiwa sosiologis yang unik: hierarki kolonial yang kaku runtuh di balik kawat berduri. Warga Eropa yang kelaparan di dalam kamp terpaksa melakukan barter barang-barang berharga dengan wong kampung demi mendapatkan sesuap makanan. Ruang yang tadinya merupakan simbol kemajuan Barat berubah menjadi penjara, di mana batas antara penjajah dan terjajah menjadi cair di tengah penderitaan perang.
Pasca-kemerdekaan (1945–1960), era awal Republik membawa napas baru. Sompok beralih fungsi dari instrumen kolonial menjadi lahan perjuangan hidup bagi “anak negeri”. Program undian dana perumahan melegalkan kepemilikan lahan bagi warga lokal, mengubah residu kolonial menjadi ladang penghidupan bagi tukang becak hingga penjual tempe yang kini berdaulat atas ruangnya sendiri.
“Modernitas dalam Kampung” bukan sekadar catatan arkais mengenai bata dan semen. Sebagaimana direfleksikan oleh I Ketut Ardhana, buku ini adalah referensi strategis untuk memahami manajemen lintas sektoral dalam penataan kota. Masalah lahan dan penyediaan hunian higienis yang kita hadapi di abad ke-21 sebenarnya adalah gema dari persoalan yang pernah coba diselesaikan Karsten seratus tahun silam.
Radjimo Sastro Wijono berhasil mendokumentasikan bahwa perubahan morfologi kota selalu berkelindan dengan perubahan komunitas sosialnya. Buku ini menjadi pengingat bagi para perencana kota masa kini; bahwa modernitas yang berhasil bukanlah yang memusnahkan sambatan dan tradisi lokal, melainkan yang mampu menampung martabat manusianya tanpa melupakan sejarah yang membentuk tanah tempat mereka berpijak.












