Advertisement

apijiwa.id – Ketika mendengar kata budaya atau lokalitas, hal apakah yang langsung terlintas? Biasanya segera terbayang eksotisnya tarian tradisional, lezatnya aneka penganan lokal, beragam irama musik tradisi, sampai adat istiadat semacam upacara dan ubo rampe-nya.

Budaya dan lokalitas merupakan warisan leluhur yang sangat bernilai. Oleh karena itu, dari tahun ke tahun, selalu digaungkan upaya-upaya untuk melestarikannya. Berbagai cara dilakukan agar kekayaan budaya tersebut tidak hilang tekikis zaman, antara lain dengan rutin mengadakan pagelaran, acara-acara promosi, serta perangkulan dan pemberdayaan oleh pemerintah daerah maupun pusat.

Buku Anak

Namun, pernahkah terpikir ada bentuk lain yang bisa jadi lebih efektif dalam menyampaikan pengenalan dan pelestarian budaya ini? Yang target sasarannya bukan sekadar generasi muda, melainkan menyasar para calon pewaris yang jauh lebih belia?

Mari penulis kenalkan dengan salah satu genre dalam sastra, yang sampai saat ini masih sering dipandang sebelah mata: buku anak.

Disarikan dari berbagai sumber, buku anak atau cerita anak dapat dimasukkan dalam golongan sastra. Mengutip Burhan Nurgiyantoro dari FBS Universitas Negeri Yogyakarta dalam jurnal berjudul Sastra Anak: Persoalan Genre, sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak, yang isinya sesuai dengan minat dan dunia anak.

Buku anak biasanya ditulis oleh orang dewasa, dengan memperhatikan aspek perkembangan anak. Ragamnya banyak, bisa fiksi dan nonfiksi, bisa berupa buku cerita bergambar, novel anak, hingga biografi tokoh.

Sama dengan sastra pada umumnya, buku anak mengulas berbagai sisi kehidupan. Seringkali tokohnya adalah anak, disesuaikan dengan target pembacanya.

Melalui tokoh cerita yang seusia, diharapkan pembaca anak-anak akan merasa terhubung. Dengan karakterisrik tersebut, buku anak menjadi media yang efektif dalam menyampaikan pesan kepada anak.

Dr. Murti Bunanta, ahli sastra anak, mengatakan bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk menyerap ajaran positif dalam buku bacaan. Jadi, buku anak merupakan pilihan yang baik untuk tujuan menyampaikan pesan-pesan, termasuk perihal kebudayaan.

Jika anak-anak sejak dini telah dikenalkan dengan unsur-unsur kebudayaan melalui bahan bacaan, baik dibacakan atau membaca sendiri, akan tumbuh kesadaran dan kelak kecintaan anak pada kekayaan budaya Indonesia.

Kenalkan Daerah

Sebagai seorang kreator buku anak, penulis pun tergelitik untuk mengangkat lokalitas dalam karya penulis, khususnya yang terkait dengan Kabupaten Grobogan. Penulis merasa terpanggil untuk mengenalkan daerah tempat tinggal penulis. Tujuan penulis tentu saja untuk memperkaya cerita, sekaligus menambah wawasan bagi pembaca.

Konten bacaan bertema Grobogan penulis rangkai dengan nilai-nilai dan pesan kebaikan. Karya penulis tersebut pernah diterbitkan dalam bentuk cerpen anak di beberapa majalah anak nasional, ada pula yang terbit sebagai buku cerita bergambar dan novel anak.

Buku pertama yang diilhami oleh Kabupaten Grobogan berjudul Aku si Penjaga Sawah, diterbitkan tahun 2019 oleh salah satu penerbit besar nasional, setelah sebelumnya digodog dalam lokakarya kepenulisan bertaraf internasional.

Buku tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan tentang pertanian Grobogan yang unggul, tetapi menyajikan fakta secara umum tentang proses bertani padi, Mulai dari menyiapkan lahan sampai panen.

Dalam proses menulisnya, penulis melakukan riset literatur, wawancara dengan petani dan penggilingan padi, serta pengamatan langsung ke sawah. Buku Aku si Penjaga Sawah telah dialihbahasakan ke Bahasa India dan Inggris. Buku ini bisa dibaca gratis di laman Room to Read.

Lokalitas Grobogan juga penulis angkat dalam beberapa buku anak dwibahasa. Buku bergambar ini ditulis dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Dalam buku Jaga-Jaga, Serak Jawa, penulis kembali bercerita tentang pertanian Grobogan.

Kali ini membidik hama tikus yang sering menjadi momok petani. Buku ini lahir dari rasa penasaran penulis melihat banyak rumah burung hantu berdiri di tengah area persawahan. Dari kedua buku yang menceritakan pertanian tersebut, penulis berharap semakin banyak orang (dan juga anak-anak) tahu tentang Grobogan yang merupakan salah satu lumbung padi Indonesia.

Kemudian buku Uyah Kagem Simbah (Garam untuk Nenek), menceritakan tentang anak yang tinggal di daerah Desa Jono. Penulis rasa masyarakat Grobogan tahu tentang uniknya garam yang berasal dari Desa Jono. Namun, apakah orang luar tahu? Banyak artikel dan jurnal tentang garam Jono, tetapi apakah anak-anak kecil calon penerus budaya mampu mengaksesnya? Di sinilah penulis buku anak memainkan perannya.

Memotret Lokalitas

Buku ketiga yang penulis dedikasikan untuk Kabupaten Grobogan adalah biografi seorang tokoh literasi dari Karangrayung. Kiprah Yulianto Delaveras, pendiri Rumah Baca Bintang, merupakan contoh tokoh lokal yang layak menjadi panutan.

Buku saka Desa (Buku dari Desa) ini menceritakan perjuangan Yulianto dalam menumbuhkan minat baca pada anak-anak di desa-desa seputar Grobogan.

Tiga buku bergambar tersebut memenangi sayembara penulisan buku anak dwibahasa Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2023 dan 2024. Bisa dibaca dan diunduh gratis di laman perpustakaan Balai Bahasa Jawa Tengah.

Novel anak Tembang Kesayangan Eyang mengangkat seorang kakek yang hobi mendengarkan tembang sebagai dasar konfliknya dan berlatar kota Purwodadi. Meskipun sebagai latar sekilas, napas dan ruh novel ini terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Kelurahan Kuripan, Purwodadi. Novel ini memang terbit secara indi, tetapi telah dipinang untuk dijadikan bahan bacaan resmi oleh sebuah lembaga bimbingan belajar nasional.

Memang bukan perihal budaya yang ndakik-ndakik atau kental, tetapi inilah cara penulis buku anak memotret lokalitas dan budaya yang ada. Bukan melulu tentang tarian atau upacara adat, melainkan bagaimana mengulas nilai-nilai kehidupan dan budaya lokal yang pas untuk konsumsi anak. Karena sejatinya budaya itu bukan sekadar simbol, tetapi internalisasi nilai yang seringkali kompleks. Buku anaklah yang bertugas menyampaikannya secara sederhana, tetapi tetap berkesan.

Facebook Comments Box

Penulis: Lia HerlianaEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.