apijiwa.id – Kabupaten Grobogan bukanlah sekadar hamparan dataran rendah yang gersang di peta Jawa Tengah. Bagi mereka yang bersedia menyibak debunya, wilayah ini adalah sebuah palimpsest sejarah yang berlapis-lapis; mulai dari trah agung Majapahit, sisa-sisa kemegahan Mataram, hingga jejak-jejak sunyi para pejuang kemerdekaan. Di sini, sejarah tidak hanya tertulis dalam buku, tetapi bernapas dalam toponimi desa dan membeku dalam tradisi yang masih dipatuhi hingga hari ini.
Tulisan ini melampaui sekadar catatan dokumenter; ia merupakan upaya naratif untuk menyingkap esensi budaya yang tertuang dalam buku Pesona Budaya Grobogan: Tokoh, Asal-usul, Tradisi, Kuliner, dan Pariwisata karya peserta Bimtek Kepenulisan Konten Berbasis Budaya Lokal 2025 Dinas Kearsipan dan Pepustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Grobogan.
Penelusuran ini berfokus pada kearifan lokal yang, meski sekilas bernuansa mistis, sebenarnya mengandung filosofi mendasar mengenai ketangguhan, kejujuran, serta spiritualitas khas masyarakat Grobogan yang unik.
Filosofi di Balik Genggaman Ki Ageng Selo
Bayangkan langit Tawangharjo pada abad ke-16 yang mendadak pekat. Aroma ozon yang tajam menusuk hidung, diikuti gemeretak energi listrik yang membelah angkasa. Di tengah sawahnya, seorang petani bernama Ki Ageng Selo tidak lari berlindung. Dengan tangan kosong, ia menangkap kilatan petir tersebut—sebuah adegan yang melintasi batas antara realitas sejarah dan mitologi populer Jawa.
Ki Ageng Selo bukan sekadar “superhero” lokal. Sebagai keturunan Prabu Brawijaya V dan leluhur langsung raja-raja Mataram Islam, sosoknya melambangkan pertautan antara agraris dan kekuasaan. Kisah penaklukan petir ini adalah sebuah alegori tentang manusia yang mampu mengendalikan gejolak alam dan hawa nafsunya sendiri.
Legenda penangkapan petir ini melampaui dimensi mistis; ia adalah simbol filosofis tentang kekuatan spiritual dan kebijaksanaan lokal. Petir melambangkan kekacauan dan kemarahan alam, sementara keberhasilan menaklukkannya menunjukkan bahwa manusia yang memiliki ilmu dan kedalaman batin mampu mengubah tantangan destruktif menjadi energi untuk membangun kehidupan.
Misteri “Wali Mastur” dan Disiplin Sosial di Menduran
Bayangkan sebuah desa di jantung Jawa di mana suara ikonik gamelan justru dihindari. Di Desa Menduran, keheningan dari instrumen kuno ini bukanlah bentuk kebencian terhadap seni, melainkan bentuk kepatuhan terhadap petuah Kiai Ageng Kafiluddin. Sang bangsawan Madura ini memilih jalan hidup sebagai Wali Mastur—seorang kekasih Tuhan yang dengan sengaja menyembunyikan identitas kebesarannya di balik kesederhanaan.
Larangan memainkan gamelan di Menduran adalah sebuah bentuk early social engineering. Kiai Ageng Kafiluddin melihat bahwa pada masanya, keriuhan gamelan seringkali membuat masyarakat lalai akan pendidikan dan ibadah. Untuk menjaga fokus komunitasnya, ia menetapkan petuah yang kini dibalut dalam narasi perlindungan gaib.
Mitos “malapetaka” bagi yang melanggar pun bermunculan sebagai pengingat sejarah; mulai dari badai hebat saat pertunjukan ketoprak tahun 1980-an, hingga insiden robohnya tenda resepsi di Plendungan saat gamelan dimainkan. Ini adalah cara unik leluhur Menduran menjaga marwah spiritualitas agar tetap berada di atas sekadar hiburan duniawi.
Jejak Raden Ngabehi Kusumo
Dalam narasi sejarah populer, kita sering mendengar tentang perebutan takhta. Namun, Raden Ngabehi Kusumo (Gusti Pangeran Haryo Suryo Putro), putra Amangkurat IV, memilih narasi yang berbeda. Ia meninggalkan kemewahan Keraton Kartasura, menempuh perjalanan lebih dari 100 kilometer ke arah timur demi menghindari provokasi VOC dan mencari kedamaian spiritual.
Pilihan hidupnya untuk “turun takhta” dan menjadi pembuka lahan di hutan belantara Grobogan adalah bentuk tertinggi dari servant leadership. Jejak perjalanannya kini abadi dalam nama-nama wilayah yang kita kenal:
- Kradenan: Monumen hidup bagi sang “Raden” yang membuka wilayah tersebut.
- Sambeng: Berasal dari frase “Sambil Menyamar”, merujuk pada aktivitasnya sebagai petani biasa untuk menutupi identitas kebangsawanannya.
- Tuko: Berasal dari kata Tumeko, menandakan bahwa sang pangeran telah “sampai” di tempat yang aman dari kejaran penjajah.
Filosofi dan Prinsip Kesucian dari Plosokerep
Grobogan memiliki seorang pahlawan sunyi bernama Tahir Sastrorejo. Sebagai pengawal pribadi dan penasihat batin Bung Karno yang pernah merasakan dinginnya pengasingan di Boven Digoel, Tahir membawa pulang sebuah prinsip hidup yang sangat ketat. Nama “Tahir” yang berarti suci bukan sekadar label, melainkan garis hidup.
Keluarga besarnya di Plosokerep memegang tradisi unik: mereka hanya mengonsumsi sayuran yang “menggantung” (tumbuh tinggi di atas tanah) dan menghindari umbi-umbian (pendem) yang bersentuhan langsung dengan bumi. Logikanya sederhana namun sakral: makanan yang tidak steril dari tanah dianggap dapat memengaruhi kesucian jiwa.
Bagi keluarga Tahir Sastrorejo, makanan bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan warisan nilai tentang bagaimana menjaga integritas lahir dan batin. Kesucian apa yang masuk ke dalam tubuh adalah cermin dari kejernihan nurani.
Keteguhan prinsip ini pula yang membuat mereka menolak fasilitas mewah di Jakarta demi tetap menjaga akar budaya di Plosokerep. Warisan ini terus hidup melalui Sukorini, cicit sang pahlawan yang kini menjadi guru dan melestarikan nilai-nilai leluhurnya melalui lantunan Macapat.
Saat Alam dan Janji Menjadi Identitas
Keunikan Grobogan juga terpahat dalam toponimi desa yang lahir dari fenomena alam dan integritas janji manusia.
Di Desa Kunjeng, sejarah bermula dari Nyi Rawis (Mbah Padmi) yang melihat jutaan capung (kinjeng) mengerubungi gubuknya saat ia sedang membabat alas. Fenomena ini ia tangkap sebagai wangsit, namun ia menyelipkan sebuah ironi linguistik yang tajam: “Aja kaya kanjeng” (Jangan sombong seperti bangsawan meski baru punya sedikit harta). Nama desa ini adalah pengingat abadi agar warga Kunjeng tidak terjebak dalam kesombongan status.
Sementara itu, Desa Penadaran lahir dari kata Nazar. Para pelarian zaman Hindia-Belanda, termasuk tokoh-tokoh seperti Mbah Karjo Redjo dan Mbah Moro Djojo, bersumpah jika mereka selamat dari kejaran kolonial di hutan tersebut, mereka akan mengadakan selamatan. Penadaran adalah saksi bisu bahwa bagi orang Grobogan, janji adalah utang yang harus dibayar dengan syukur.
Warisan yang Harus Dijaga dalam Ingatan
Mulai dari aroma ozon dalam legenda Ki Ageng Selo hingga prinsip kesucian makanan keluarga Tahir Sastrorejo, Grobogan adalah gudang kearifan yang tak habis digali. Dokumentasi melalui kegiatan seperti Bimtek Kepenulisan Konten Berbasis Budaya Lokal 2025 bukanlah sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya vital untuk memastikan bahwa “intan-intan” sejarah ini tidak terkubur oleh hiruk-pikuk digital.
Dalam dunia yang bergerak sangat cepat, kita perlu mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai luhur dari leluhur Grobogan—seperti kerendahhatian Nyi Rawis, kedisplinan Kiai Ageng Kafiluddin, hingga pengabdian Raden Ngabehi Kusumo—masih diimplementasikan dalam keseharian. Tanpa manifestasi dalam tindakan nyata, sejarah hanya akan menjadi tumpukan kertas yang tidak berarti.











