Detail Informasi Buku:
| Kategori | Keterangan |
| Judul | Kasultanan Demak: Kasultanan Cina Muslim Tanah Jawa |
| Penulis | Anang Harris Himawan |
| Penerbit | BRIN Publishing (Penerbit BRIN), Edisi Pertama, Oktober 2024 |
| Status | Program Akuisisi Pengetahuan Lokal (Tidak untuk diperjualbelikan) |
| ISBN | 978-602-6303-35-6 (e-book) |
| Ketebalan | xxvi + 424 halaman |
apijiwa.id – Kejujuran sejarah bukan sekadar upaya romantisme masa lalu, melainkan fondasi penting bagi integritas identitas nasional. Selama berabad-abad, narasi sejarah Islam di Jawa telah mengalami distorsi sistematis melalui kacamata “Belandasentris” yang mekanistik atau sentimen primordial yang sempit. Kita seringkali disuguhi sejarah yang “disterilkan” dari peran etnisitas tertentu demi stabilitas politik penguasa. Dalam konteks inilah, buku karya Anang Harris Himawan muncul sebagai sebuah intervensi strategis.
Buku ini bukan sekadar tambahan pada rak literatur sejarah, melainkan sebuah upaya dekonstruksi terhadap “kotak pandora” historiografi Nusantara. Penulis berangkat dari keprihatinan mendalam—sebagaimana diuraikan dalam Prakatanya—mengenai penggelapan peran etnis Tionghoa dalam proses islamisasi. Fenomena “penghilangan barang bukti” ini, yang diorkestrasi sejak era kolonial, telah menciptakan kejenuhan narasi yang mengubur kontribusi Tionghoa Muslim dalam posisi “abu-abu”.
Karya ini menantang kita untuk melihat transisi agama-politik dari Majapahit ke Demak bukan sebagai proses organik tunggal, melainkan sebagai hasil dari dialektika multietnik yang kompleks.
Demak sebagai Imperium Cina Muslim
Argumen sentral yang ditawarkan penulis memandang Kesultanan Demak secara struktural sebagai sebuah ‘Imperium Cina Muslim’ di Tanah Jawa. Tesis ini memposisikan Demak bukan sebagai kelanjutan murni tradisi agraris Jawa, melainkan sebagai entitas politik yang napasnya ditiupkan oleh pengaruh diplomatik dan ideologis Dinasti Ming.
Penulis memperkuat tesisnya melalui tiga pilar utama yang diawali dengan penelusuran garis keturunan atau nasab. Fokus utama tertuju pada sosok Raden Patah (Jin Bun) yang ditegaskan sebagai putra Brawijaya V dari seorang selir Tionghoa “Cina Totok” bernama Siu Ban Chi, putri dari Kiai Batong.
Identitas ideologis sekaligus legitimasi kekuasaannya semakin diperkokoh melalui penggunaan gelar resmi yang megah, yakni Sultan Syah Alam Akbar, Brawijaya Sirrullahi Khalifatu Rasulullah wa Hua Amirul Mu’minin, Bajudi Abdul Hamid Haq.
Selain faktor keturunan, keberadaan kekuasaan di pesisir Jawa juga dipengaruhi secara signifikan oleh dimensi geopolitik melalui misi diplomatik Dinasti Ming. Instalasi formal kekuasaan tersebut tidak lepas dari pengaruh ekspedisi raksasa Laksamana Cheng Ho yang berhasil membangun koloni-koloni Muslim Tionghoa sebagai basis kekuatan ekonomi dan politik di Nusantara.
Hal ini berjalan beriringan dengan hegemoni Mazhab Hanafi yang saat itu menjadi mazhab resmi kerajaan. Sebagai mazhab yang dominan di daratan Tiongkok, Mazhab Hanafi berfungsi sebagai jembatan akulturasi sosial dan budaya yang efektif, sehingga Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa sebelum akhirnya memudar seiring dengan melemahnya dominasi pengaruh Tiongkok di tanah Jawa.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberaniannya melakukan kritik metodologis terhadap Historiografi Belandasentris. Penulis membedah bagaimana para sejarawan “Mazhab Batavia” seperti J.J. De Jonge dan F. de Han membangun narasi yang hanya bersandar pada arsip VOC, sehingga meminggirkan peran bumiputra dan etnis Tionghoa.
Anang Harris Himawan menawarkan tandingan melalui penggunaan sumber-sumber yang sering dianggap “subversif” oleh kolonial, seperti Catatan Ma-Huan, Malay Annals of Semarang, dan naskah-naskah filologi seperti Serat Kanda dan berbagai Babad. Penulis menyoroti sebuah ironi sejarah yang bisa disebut sebagai “Poortman Paradox”: meski Residen Poortman tercatat melakukan “penjarahan” tiga gerobak catatan sejarah dari Kelenteng Sam Poo Kong pada 1928 untuk menghilangkan jejak peran Tionghoa, namanya sendiri hampir tidak dikenal dalam arsip resmi di Den Haag.
Penggelapan ini adalah bukti nyata bagaimana kolonial sengaja menciptakan kesimpangsiuran sejarah untuk memperkokoh hegemoni mereka.
Walisongo dan Dilema “Campa atau Jeumpa”
Penulis melangkah lebih jauh dalam melakukan dekonstruksi identitas tokoh-tokoh kunci Nusantara dengan membedah asal-usul Walisongo yang selama ini seringkali disederhanakan sebagai sosok murni keturunan Arab. Dalam narasinya, Bong Swee Ho atau Sunan Ampel diidentifikasi sebagai Ali Rahmatullah, seorang Kapten Cina Muslim Hanafi di pesisir timur Jawa yang menggantikan posisi mertuanya, Gan Eng Chu (Arya Teja).
Selain itu, muncul sosok Swan Liong atau Arya Damar, seorang peranakan Tionghoa di Palembang yang berperan krusial sebagai ayah angkat sekaligus mentor politik bagi Jin Bun (Raden Patah). Hubungan kekeluargaan dan jaringan ini semakin lengkap dengan kehadiran Kin San atau Raden Husen, adik seibu Raden Patah, yang memegang peran strategis sebagai pemimpin galangan kapal di Semarang sekaligus menjabat sebagai Panglima Terung.
Yang menarik, penulis membedah dilema “Campa atau Jeumpa”. Ini adalah debat krusial mengenai asal-usul para penyebar Islam; apakah mereka berasal dari daratan Indochina (Kamboja/Vietnam) yang memiliki relasi kuat dengan Tiongkok, ataukah dari wilayah Jeumpa di Aceh. Penulis menyajikan argumen transisi yang melihat bagaimana identitas “Campa” seringkali menjadi identitas antara dalam migrasi Tionghoa Muslim menuju Jawa.
Buku ini memotret kontribusi etnis Tionghoa melalui bukti empiris dan arkeologis yang selama ini jarang dikaitkan secara langsung dengan pengaruh Tiongkok, terutama dalam aspek teknologi maritim dan arsitektur. Penulis membedah galangan kapal di Poncol, Semarang, sebagai pusat teknologi maritim masa itu, di mana konstruksi “Saka Tatal” di Masjid Agung Demak dianalisis sebagai hasil adaptasi cerdas dari teknologi tiang kapal khas Dinasti Ming.
Jejak estetika dan teknologi ini juga terlacak kuat pada berbagai situs bersejarah, mulai dari ukiran padas di Masjid Mantingan, struktur menara masjid di Pecinan Banten, hingga konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik yang menunjukkan persilangan budaya yang kental.
Selain jejak fisik, buku ini memberikan penjelasan jernih mengenai transisi ideologis dari dominasi Mazhab Hanafi yang dibawa komunitas Tionghoa menuju Mazhab Syafii yang kini umum di Nusantara. Pergeseran sistematis ini dipicu oleh perubahan konjungtur politik, terutama pasca-menurunnya hegemoni Tiongkok dan wafatnya tokoh-tokoh kunci seperti Sunan Ampel.
Menurut data yang dihimpun penulis, momentum ini dimanfaatkan oleh Sunan Kudus untuk melakukan reorientasi keagamaan, yang pada akhirnya mengubah lanskap mazhab resmi di kerajaan-kerajaan Islam Jawa.
Keberanian Naratif dalam Bingkai Ilmiah
Secara metodologis, Anang Harris Himawan menunjukkan integritas intelektual yang luar biasa. Ia berani mengambil risiko politis dan rasial dalam menyajikan “kejujuran sejarah” yang pada masa lalu—seperti karya Slamet Mulyana—pernah dilarang.
Keunggulan buku ini terletak pada pendekatan multidisiplin yang secara komprehensif menggabungkan filologi naskah-naskah lama dengan bukti arkeologis nyata yang tersebar di sepanjang pesisir utara Jawa. Meskipun berbasis riset yang mendalam dan berat, karya ini disusun dengan sistematika yang sangat aksesibel melalui pembagian bab secara kronologis, sehingga tetap mudah dicerna oleh audiens non-spesialis yang mencari perspektif baru dalam sejarah.
Selain itu, aspek kejujuran penulis yang secara terbuka mengakui keraguan awalnya dalam menyusun karya yang dianggap “berbahaya” ini justru memberikan nilai autentisitas dan integritas tersendiri pada hasil risetnya.
Akhirnya, buku “Kasultanan Demak: Kasultanan Cina Muslim Tanah Jawa” adalah sebuah ajakan untuk melakukan dekolonisasi pikiran. Ia meruntuhkan mitos bahwa Islam di Jawa tumbuh dalam ruang hampa atau sekadar ekspor dari satu wilayah saja. Melalui pengakuan atas peran multietnik—khususnya etnis Tionghoa—kita diajak untuk merajut kembali persatuan bangsa secara lebih jujur.
Sejarah bukan hanya soal siapa yang menang, tapi soal siapa yang berani bicara jujur tentang masa lalu. Dengan melepaskan diri dari hegemoni historiografi kolonial, kita menemukan bahwa akar jati diri Nusantara jauh lebih kaya dan berwarna daripada yang selama ini tertulis di buku-buku teks sekolah. Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami bahwa kejayaan Demak adalah monumen keberagaman yang harus kita akui keberadaannya.













