Advertisement

apijiwa.id – Suasana di aula MA 2 Annuqayah, Kebun Jeruk, tampak berbeda kemarin lusa (Ahad, 2/5/2026). Udara pengabdian dan semangat intelektual terasa begitu kental dalam agenda Capacity Building yang mempertemukan para pendidik dengan para pakar alumnus terbaik almamater. Sejak pukul 10.30 hingga 16.30 WIB, napas pendidikan tidak lagi dipandang sekadar urusan administratif, melainkan sebuah seni menyentuh jiwa sekaligus strategi jitu memenangkan masa depan.

Menggali Kedalaman Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Tepat pukul 10.30 WIB, sesi inti dibuka dengan pemaparan dari Drs. Zurni, S.Pd., M.M.Pd., pejabat dari Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag RI Pusat. Kehadirannya bukan sekadar representasi birokrasi, melainkan momen kepulangan seorang alumni yang membawa “cinta” kembali ke rahim intelektualnya.

Dalam pemaparannya yang memukau, Drs. Zurni membedah esensi dari Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Ia menggarisbawahi sebuah paradigma yang mencerahkan:

“KBC sejatinya bukanlah tumpukan dokumen administratif, melainkan metode penanaman karakter yang jauh lebih mumpuni. Kuncinya terletak pada ketulusan dalam bersikap, bertindak, dan berkata.”

Menurutnya, kualitas pengalaman belajar siswa tidak ditentukan oleh tebalnya buku teks, melainkan oleh kekuatan keteladanan seorang guru. Drs. Zurni mengingatkan bahwa KBC bukanlah aturan top-down yang dipaksakan oleh struktur birokrasi, melainkan kesepakatan bersama yang lahir dari hati.

Nilai-nilai KBC diyakini akan abadi karena menyentuh substansi kemanusiaan—melampaui sekadar nama atau istilah yang mungkin berganti seiring perubahan zaman.

Sebagai panduan praktis, ia memperkenalkan akronim “ARKA” sebagai pilar utama implementasi KBC di kelas. Konsep ini dimulai dengan Aktivitas yang melibatkan siswa secara aktif, diikuti dengan Refleksi untuk menggali makna mendalam dari setiap kegiatan. Selanjutnya, dilakukan Konseptualisasi guna membangun pemahaman teoritis berdasarkan pengalaman yang didapat, hingga akhirnya bermuara pada Aksi sebagai wujud nyata dari pemahaman tersebut dalam tindakan sehari-hari.

Sesi yang penuh guyon dan inspirasi ini berakhir tepat pada pukul 12.00 WIB, meninggalkan perenungan mendalam bagi seluruh peserta sebelum memasuki masa Ishoma.

Drs. Zurni (baju batik) berfoto bersama para kepala di satuan pendidikan Annuqayah. (Apijiwa.id/Ahmad Muhli Junaidi)

Menuju Pembelajaran Bermakna melalui Deep Learning

Setelah jeda satu jam, tepat pukul 13.00 WIB, energi peserta kembali dipompa oleh Moh. Nurul Hajar, M.Pd., pengawas MA dari Kantor Kemenag Sumenep. Fokus pembahasan kini bergeser dari fondasi karakter menuju teknis pedagogik yang lebih mendalam: Deep Learning.

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa pendidikan yang paripurna harus menyentuh empat aspek fundamental manusia secara seimbang, yaitu olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olahraga. Ia juga melontarkan kritik terhadap pola pembelajaran superfisial yang selama ini cenderung hanya mengejar angka di atas kertas.

Menurutnya, pengalaman belajar yang baik setidaknya memiliki tiga ciri utama: siswa tidak sekadar menghafal melainkan mampu memahami esensi materi, sanggup mengaplikasikan ilmu tersebut ke dalam konteks nyata, serta memiliki kemampuan untuk merefleksi atau mengevaluasi apa yang telah dipelajari demi perbaikan diri secara berkelanjutan.

Sesi ini menjadi ajang dialog teknis yang tajam mengenai bagaimana guru madrasah harus bertransformasi menjadi fasilitator yang mampu membawa siswa menyelami samudera ilmu pengetahuan secara mendalam.

Strategi Rebranding Menuju Madrasah Unggul

Pukul 15.00 WIB, sesi terakhir menghadirkan Dr. Maimun, S.HI, M.Pd.I., seorang akademisi yang kini menjadi dosen tetap di UIN Madura. Sebagai sesama alumni MA 2 Annuqayah, ia membawa perspektif strategis mengenai eksistensi lembaga di mata publik dengan tema: Cara-cara Membranding Madrasah.

“Membranding madrasah agar ‘laku’ di masyarakat itu penting, dan yang kita jual adalah keunikannya,” tegas Dr. Maimun. Ia memaparkan langkah-langkah sistematis dalam membangun brand madrasah yang dimulai dari penguatan niat sebagai fondasi spiritualitas dalam bekerja, diikuti dengan analisis strategi untuk membaca peluang serta tantangan zaman.

Selanjutnya, penting untuk melakukan peningkatan kualitas program guna memastikan produk pendidikan yang bermutu dan melakukan penegasan identitas untuk menonjolkan aspek pembeda dengan institusi lain. Seluruh langkah tersebut kemudian disempurnakan melalui publikasi digital guna mengomunikasikan berbagai keunggulan madrasah dengan memanfaatkan teknologi informasi secara efektif.

Secara khusus, Dr. Maimun memberikan “resep” khusus untuk MA 2 Annuqayah Kebun Jeruk. Ia mendorong agar madrasah ini melakukan rebranding total untuk menjadi lembaga yang ‘Unggul dalam Sains dan Entrepreneur’.

Cara mencapainya adalah dengan membentuk karakter siswa yang jeli dalam menganalisis melalui ketajaman berpikir, namun tetap ekspresif dalam mengomunikasikan gagasan-gagasannya. Di sisi lain, siswa diharapkan tetap menjadi pribadi yang religius dengan berpijak pada nilai-nilai kepesantrenan, serta tepat dan mumpuni dalam karya tulis dengan menjadikan literasi sebagai senjata utama dalam berkarya.

Sinergi untuk Masa Depan

Tepat pukul 16.30 WIB, rangkaian acara Capacity Building ini resmi ditutup. Peserta pulang tidak hanya membawa sertifikat, tetapi membawa “api” baru. Dari Drs. Zurni mereka belajar tentang ketulusan (KBC), dari Nurul Hajar, M.Pd. mereka belajar tentang kedalaman ilmu (Deep Learning), dan dari Dr. Maimun mereka belajar tentang keberanian untuk tampil unik (Rebranding).

MA 2 Annuqayah kini berdiri di ambang transformasi besar—sebuah madrasah yang tidak hanya mendidik otak, tapi juga membasuh hati dengan cinta, demi melahirkan generasi saintis-entrepreneur yang berakhlakul karimah.

Facebook Comments Box

Penulis: Ahmad Muhli JunaidiEditor: M. A. Fathan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.