apijiwa.id – Peringatan Hari Kartini seringkali terjebak dalam seremoni pakaian adat, padahal esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini sesungguhnya jauh melampaui itu. Di era modern yang penuh tantangan digital, semangat Kartini menemukan relevansi barunya dalam dunia parenting. Menjadi “Ibu Kartini Masa Kini” berarti memiliki keberanian untuk berpikir merdeka demi mendidik generasi yang juga merdeka pikirannya.
Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh TPQ Ayah Bunda Hebat, Tri Adhadiningsih, dalam Halaqah Parenting bertajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang: Membangun Karakter Berbasis Tauhid di Era Digital” pada Sabtu (25/4/2026). Acara ini digelar oleh Raudhatul Athfal Islam Terpadu (RAIT) Ilma Nafia Godong, Grobogan, Jawa Tengah.
Menurut Tri Adhadiningsih, di tengah standar dunia yang seringkali tidak realistis, kesehatan mental ibu menjadi fondasi utama dalam mendidik karakter. Pesan “Say No to Mom Guilt” menjadi sangat krusial; seorang ibu harus menyadari bahwa menjadi sosok yang sehat secara mental jauh lebih penting daripada sekadar memiliki rumah yang selalu rapi.
Pendidikan karakter pun harus mengedepankan proses dibandingkan sekadar hasil akhir. Anak perlu diajarkan bahwa kegagalan adalah guru yang berharga, dan kesabaran adalah kunci di era yang serba instan ini. Selain itu, komunikasi yang dibangun haruslah setara, yakni mendidik melalui dialog, bukan dengan perintah diktator.

Dalam konteks digital, Kartini dikenal dengan semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Menurut Tri Adhadiningsih, perjuangan tersebut kini bertransformasi menjadi “Habis Hoax Terbitlah Logika”. Ibu masa kini dituntut untuk membangun budaya bertanya dan membiasakan anak memahami alasan di balik sesuatu, bukan sekadar menghafal informasi.
“Ibu juga dituntut untuk melawan buta digital dengan mengarahkan penggunaan teknologi untuk eksplorasi ilmu pengetahuan, bukan sekadar konsumsi konten pasif,” jelasnya.
Tri Adhadiningsih juga menekankan bahwa semangat Kartini adalah semangat cinta ilmu yang tak pernah padam. Baginya, menjadi ibu berarti bersedia menjadi “murid abadi” bagi kehidupan. “Dengan terus memperbarui pengetahuan tentang pola asuh modern seperti gentle parenting dan menjaga kesehatan mental, seorang ibu akan tumbuh bersama anaknya dalam sebuah perjalanan belajar dua arah yang harmonis,” tuturnya.
Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia (Yasmina) Grobogan, Badiatul Muchlisin Asti, dalam sambutannya menyatakan bahwa RA Kartini adalah sosok Muslimah yang tidak hanya mahir bertata busana (macak), tetapi juga cakap memasak. Sayangnya, banyak orang terjebak pada lapisan luar ini saat memperingati Hari Kartini.
“Padahal, ada hal yang lebih substansial dari peringatan Hari Kartini, yaitu menyerap pemikirannya di bidang pendidikan yang visioner dan melampaui zamannya,” tegas Badiatul.
Kepala RAIT Ilma Nafia Godong, Laela Nurisysyafa’ah, menambahkan bahwa agenda Halaqah Parenting ini merupakan rangkaian peringatan Hari Kartini tahun 2026. Tujuannya agar spirit Kartini tidak hanya menyentuh anak-anak, tetapi juga para orang tua agar dapat menginternalisasi nilai-nilainya dalam konteks Islamic parenting.











