apijiwa.id — Bandung English Olympiad (BEO) sukses diselenggarakan pada Sabtu (10/10/2026) di Gedung Cabang Dinas Pendidikan Jawa Barat (KCD 8), Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung. Ajang bergengsi ini diikuti oleh 14 siswa perwakilan dari 14 SMA/SMK/MA se-Bandung Raya.
Demi menjaga kualitas persaingan, panitia menerapkan aturan ketat dengan hanya mengizinkan satu peserta dari setiap sekolah.
“Sebenarnya ada 16 peserta yang terdaftar, namun dua orang mengundurkan diri sebelum perlombaan dimulai. Saya selaku panitia menegaskan bahwa setiap sekolah hanya boleh mengirimkan satu perwakilan,” ujar Erwin Kumadjawa, inisiator BEO sekaligus Event Creator dan guru bahasa Inggris.
Acara ini diinisiasi oleh Erwin Kumadjawa dan mendapat dukungan penuh dari LKP Kampung Inggris CEC, Cinunuk, Bandung Timur. Erwin mengungkapkan bahwa ide BEO berawal dari diskusi bersama rekannya yang kemudian ia realisasikan.
“Olimpiade Bahasa Inggris dengan konsep seperti ini merupakan yang pertama di Bandung Raya dan dibuat berbeda dari lomba-lomba sebelumnya,” tambah Erwin.
Rangkaian Lomba Berstandar Tinggi
Rangkaian kompetisi BEO dirancang cukup menantang dengan standar setara TOEFL dan UTBK untuk masuk perguruan tinggi. Pada tahap awal, peserta diuji melalui tes tertulis sebanyak 10 soal untuk mengidentifikasi sekaligus membetulkan kesalahan tata bahasa (grammar). Tidak hanya itu, kemampuan membaca mereka juga diuji lewat 10 soal reading comprehension berstandar tinggi.
Sebagai puncaknya, para peserta mengikuti speech competition (lomba pidato) dengan memaparkan ide menggunakan bahasa Inggris berdasarkan tiga pilihan tema babak penyisihan, yaitu “Career: Passion or Money”, “What Will You Tell a Foreigner About Bandung”, serta “Preference: City or Nature”.
Seluruh penampilan peserta dinilai secara objektif oleh juri-juri kompeten, yakni Erwin Kumadjawa, Ahmad Mutashid (Pemilik CEC Kampung Inggris), dan Kamran (mahasiswa internasional sekaligus staf organisasi internasional asal Pakistan).
Uniknya, BEO tidak menggunakan sebutan konvensional seperti “Juara 1, 2, dan 3”, melainkan sebutan khusus yang rencananya akan dipatenkan untuk edisi mendatang. Gelar utama The Winner berhasil diraih oleh Elora dari SMK Pariwisata Telkom, disusul oleh Vianna dari SMA Trinitas sebagai The Runner-Up, dan Gaia dari SMAN 3 Bandung yang menyabet gelar The Potential.
Selain kategori utama, panitia juga memberikan penghargaan khusus The Score of TOEFL-Based Written Test kepada dua peserta dengan nilai terbaik, yaitu Gaia dari SMAN 3 Bandung dengan skor 5,50 dan Leticia dari SMA BPK Penabur Holis dengan skor 5,00. Erwin menyoroti hasil tes tertulis peserta yang secara keseluruhan belum mencapai angka 6,00, yang menurutnya menjadi bahan evaluasi penting terkait efektivitas pembelajaran bahasa Inggris di sekolah.
“Lomba ini bisa menjadi acuan sejauh mana penerapan pendidikan bahasa Inggris berstandar baik telah dijalankan di sekolah-sekolah,” jelasnya.
Melalui BEO, diharapkan kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan untuk memotivasi pelajar meningkatkan kecakapan bahasa Inggris sebagai modal bergaul di tingkat internasional.












