Advertisement

apijiwa.id — Menebar kebaikan dan membagi kasih sayang kepada anak-anak yatim, piatu, serta duafa merupakan bagian terpenting dalam perjalanan hidup Sri Herlina dan M. Abubakar Tarmidzi. Melalui BUMAY (Badan Untuk Membantu Anak Yatim), pasangan suami istri ini melanjutkan warisan kebaikan yang telah dirintis oleh orang tua mereka sejak era pasca-1965.

Gagasan mendirikan BUMAY bermula dari keprihatinan almarhum H. Rmd. Tarmidzi—ayah dari Abubakar yang juga seorang guru ngaji—saat melihat kondisi anak-anak yatim di sekitarnya yang membutuhkan bantuan pangan dan pendidikan.

“Saat itu ayah mertua melihat langsung keprihatinan anak-anak yatim yang butuh makan, pendidikan, dan masa depan. Beliau lalu mencari cara menggalang donasi dengan kemampuan seadanya,” kenang Sri Herlina, didampingi M. Abubakar Tarmidzi.

Bersama sang istri, Hj. Wiwi Ruwita, H. Rmd. Tarmidzi mulai mewujudkan ide tersebut. Meski digagas oleh seorang kiai, operasional harian BUMAY sejak awal didominasi oleh ibu-ibu majelis taklim—sebuah tradisi pengabdian yang bertahan hingga hari ini.

Selain santunan rutin, BUMAY juga mengembangkan layanan sosial dan pendidikan melalui pengelolaan TK Al-Furqon. (apijiwa.id/Deffy Ruspiyandy)

BUMAY sendiri berdiri di atas lahan penuh sejarah di Jalan Jenderal Sudirman No. 711 A, Kota Bandung. Masjid di kompleks tersebut telah berdiri sejak tahun 1932, sementara bangunan depan yang dahulu menjadi tempat tinggal orang tua Abubakar didirikan sekitar tahun 1937. Sebagai anak, Abubakar merasa terpanggil untuk merawat fondasi kepedulian sosial tersebut.

Saat ini, BUMAY menyantuni sekitar 60 anak yatim, piatu, dan duafa berusia 0 hingga 15 tahun di kawasan Kecamatan Bandung Kulon. Para penerima santunan diseleksi secara cermat melalui persyaratan administratif dan sesi wawancara. Seluruh anak tinggal bersama ibu mereka yang berpenghasilan terbatas (non-asrama).

Penyaluran santunan dilakukan setiap bulan di sekretariat BUMAY. Sebelum menerima bantuan, anak-anak mendapatkan pembekalan pemahaman agama, sementara para ibu diberikan pembinaan pola asuh anak.

Bantuan yang disalurkan umumnya berupa uang tunai minimal Rp50.000, beras sebanyak 5–10 kg, serta minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya, yang besarannya disesuaikan dengan kondisi keuangan yayasan. Selain itu, demi menjamin transparansi dan kepastian legalitas dalam setiap aktivitasnya, BUMAY kini telah resmi berbadan hukum.

“Perjuangan memenuhi kebutuhan bulanan memang keras, tetapi karena dijalani dengan ikhlas dan senang hati, alhamdulillah rezeki selalu ada,” ujar Abubakar yang kini menjabat sebagai Penasihat sekaligus Ketua Umum BUMAY.

Keberlanjutan BUMAY tak lepas dari keikhlasan para pengurus yang didominasi kaum ibu. Mereka bekerja secara sukarela tanpa gaji (lillahi ta’ala) setelah mengantongi izin dari suami masing-masing. Penggalangan dana kerap dilakukan dari kantong pribadi, keluarga, kerabat, hingga kolega. Setiap donasi yang terkumpul langsung disalurkan habis setiap bulannya.

Selain santunan rutin, BUMAY juga mengembangkan layanan sosial dan pendidikan melalui pengelolaan TK Al-Furqon dan Masjid At-Turmudzi. TK Al-Furqon hadir untuk memberikan pendidikan usia dini yang berkualitas secara gratis bagi anak yatim, serta dengan biaya yang sangat terjangkau dan fleksibel bagi masyarakat umum. Sementara itu, Masjid At-Turmudzi dikelola sepenuhnya oleh yayasan, dengan biaya pemeliharaan yang tak jarang ditutup langsung dari dana pribadi para pengurus.

Sri Herlina berharap anak-anak binaan BUMAY kelak tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Untuk itu, BUMAY selalu terbuka menerima uluran tangan dari siapa saja yang ingin berbagi.

“Memang tidak mudah, tetapi dengan keyakinan di dalam hati, Allah selalu memudahkan urusan kami. Mari kita saling ber-fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) agar BUMAY dapat terus hadir bagi mereka yang membutuhkan,” tutup Abubakar.

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Redaksi Apijiwa.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *