Advertisement

apijiwa.id – Menjadi seorang polisi bukan berarti hanya berfokus pada tugas penegakan hukum semata. Lebih dari itu, kebanggaan sejati justru akan lahir ketika kehadiran seorang abdi negara mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, terutama dalam merawat seni dan budaya Jawa. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Briptu Adi Qori Kurniawan, anggota Polres Semarang yang juga warga Kupang Jetis, Kelurahan Kupang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

“Saya menjadi polisi, sekaligus sangat tertarik dan berminat untuk nguri-uri budaya Jawa. Langkah ini merupakan bentuk ikhtiar untuk menciptakan ekosistem seni yang baik bagi masyarakat. Pasalnya, bagi saya, seni itu mampu dihidupi dan menghidupi masyarakat,” ujar Briptu Adi Qori Kurniawan saat ditemui awak media di Sanggar Saraswati Widiasmara, Kupang Jetis, Senin (14/9/2026).

Lelaki lulusan SMA Negeri Ambarawa ini mengaku kecintaannya pada seni budaya telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Bahkan, ia sudah mulai melatih tari di berbagai tempat sejak masa remaja sebagai ajang mencari pengalaman sekaligus mendalami ilmu seni tari.

“Jadi, saya sudah senang menari sejak kecil dan mulai melatih tari di sejumlah tempat sejak SMA. Dari kegiatan melatih ini, harapan awalnya tentu mendapatkan tambahan uang saku. Karena saya beranggapan bahwa seni itu dapat menghidupi sekaligus dihidupi, dan ini menjadi salah satu cara untuk mencari penghidupan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari,” terang Adi Qori, yang mengawali dinas kepolisian di Polres Wonosobo pada 2019.

Menurutnya, mencintai dan mendedikasikan diri untuk merawat seni budaya membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit serta kompleks—mulai dari waktu, tenaga, pikiran, hingga materi. Semuanya itu ia jalani dengan serius dan ikhlas demi menciptakan ekosistem seni yang sehat, khususnya di Kecamatan Ambarawa dan Kabupaten Semarang secara luas.

Ia juga menjelaskan bahwa Sanggar Seni Sarasvati Widiasmara didirikan pada 29 Januari 2016 dan kini telah berjalan selama satu dekade. Sanggar seni ini tidak hanya berpusat di Kabupaten Semarang, tetapi juga memiliki cabang di Kabupaten Wonosobo, tepatnya di daerah Mendolo.

“Saat itu, saya bertugas di Unit Satwa Polres Wonosobo. Hingga sekarang, sanggar di sana masih berjalan dengan 18 anak didik, sementara di Ambarawa ada 30 anak. Setelah saya pindah tugas ke Unit Binmas Polres Semarang, pelatihan di Wonosobo dibantu oleh rekan-rekan yang lain,” jelasnya.

Lebih lanjut, Adi Qori mengungkapkan bahwa kiprahnya di bidang seni sempat membawanya lolos di Kompolnas pada bidang prosperity atau kemakmuran masyarakat. Melalui seni, ia ingin mengajarkan kepada masyarakat agar mampu mandiri dan sejahtera. Intinya, anak-anak didik di Sanggar Seni Sarasvati Widiasmara didorong agar mau dan mampu hidup dari seni, mencapai kemakmuran, serta membangun kesejahteraan sosial melalui jalur kebudayaan.

“Secara umum, bagaimana agar generasi muda, khususnya seniman muda di Kabupaten Semarang, bisa tumbuh tanpa terkendala sekat ekonomi. Artinya, mereka bisa berjuang sekaligus mendapatkan penghidupan layak dari seni. Inilah konsep ekosistem seni yang saya harapkan tumbuh di Kabupaten Semarang, agar generasi mudanya menjadi generasi yang hidup dan berkembang bersama seninya,” terangnya.

Menutup perbincangannya, Adi Qori menegaskan bahwa jiwa seni yang dimilikinya bukanlah hasil warisan keluarga, melainkan murni panggilan jiwa untuk melestarikan budaya Jawa. Ia membuktikan bahwa bakat seni tidak selalu lahir dari faktor genetika semata.

“Saya akui bahwa bakat seni tidak hanya lahir dari genetika belaka. Namun, ketika bakat itu tumbuh dari keinginan dan ketulusan pribadi, ia akan benar-benar dijaga dan dilestarikan,” pungkas Briptu Adi Qori Kurniawan.

Facebook Comments Box

Penulis: Heru SantosoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.