Advertisement
Informasi Buku Keterangan
Judul Mozaik Budaya Grobogan: Jejak Sejarah, Ritual, dan Legenda yang Abadi dalam Ingatan
Penulis Sholehaturidlo, dkk. (Perseta Bimtek Penulisan Konten Berbasis Budaya Lokal 2026)
Penyunting Badiatul Muchlisin Asti
Penerbit CV. Hanum Publisher bekerja sama dengan Dinarpusda Grobogan
Cetakan Pertama, 2026
QRCBN 62-6361-1356-187
Tebal xxii, 508 halaman

 

apijiwa.id – Kehadiran buku Mozaik Budaya Grobogan merupakan sebuah pencapaian historiografi monumental yang lahir dari rahim kesadaran kolektif untuk menjaga nyala api peradaban di tanah agraris Jawa Tengah. Buku ini bukan sekadar bunga rampai literasi, melainkan manifestasi kolaborasi strategis 70 penulis lintas profesi yang mengikuti Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal 2026. Bagi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Grobogan, penerbitan ini adalah langkah konkret “penyelamatan sejarah” yang selaras dengan standar Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) guna memastikan memori kolektif bangsa tidak terdisintegrasi oleh amnesia digital.

Secara strategis, buku ini berfungsi sebagai “arsip hidup” yang mengonversi kerentanan tradisi lisan menjadi dokumentasi tertulis yang rigid. Upaya ini sangat penting dalam memperkuat literasi budaya daerah, memosisikan Grobogan bukan sekadar entitas geografis, melainkan hamparan nilai yang harus diwariskan. Kedalaman narasi ini membawa kita pada sebuah rekonstruksi historiografi yang menyentuh sisi kemanusiaan terdalam dari mikrosejarah yang selama ini terpinggirkan.

Rekonstruksi Historiografi: Menemukan Kemanusiaan dalam Narasi Lokal

Sejarah lokal seringkali terabaikan di tengah riuhnya narasi makro sejarah nasional. Namun, melalui buku ini, kita diingatkan bahwa autentisitas jati diri justru terpatri dalam ingatan para tetua pedalaman. Salah satu bagian paling memikat adalah rekonstruksi kisah Keluarga Stoll di Wirosari (1890). Narasi ini mendobrak stigma dikotomi kolonialisme melalui sosok Daniel Frederik Stoll dan istrinya, Betsy Mathilde—pasangan yang membuka gudang beras pribadi mereka saat bencana kelaparan hebat melanda Grobogan (1848–1850), sebuah tragedi memilukan yang menyusutkan populasi dari 89.000 jiwa menjadi hanya 9.000 jiwa dalam tiga tahun.

Selain itu, buku ini memberikan kontribusi analitis yang signifikan dalam meluruskan kerancuan sejarah terkait sosok Adipati Puger (Raden Tumenggung Martapura). Penulis secara jeli membedakan identitasnya dari Pangeran Puger Kartasura (Pakubuwana I), sekaligus mempertegas perannya sebagai peletak fondasi pemerintahan Grobogan sejak 1726. Sebagai bupati prajurit, Adipati Puger dikenal sangat lihai dalam diplomasi dan strategi politik mancanegari.

Tidak hanya Adipati Puger, buku ini juga mengulas sederet tokoh kunci yang memancarkan kearifan dan perjuangan dalam membangun peradaban Grobogan. Dari panggung perlawanan, hadir Nyi Ageng Serang, Pahlawan Nasional pemimpin unit “Semut Ireng”. Ia melahirkan taktik penyamaran “Daun Lumbu” (daun talas) yang legendaris dan berhasil mengecoh infanteri Belanda.

Sementara itu, jejak spiritual dan kelestarian lingkungan tercermin dari kisah Ki Ageng Tirto serta Mbah Suro Genen. Ki Ageng Tirto menjadi cikal bakal peradaban Karangasem melalui kearifan spiritualnya dalam menemukan dan mengelola sumber mata air (tirta). Di sisi lain, Mbah Suro Genen sebagai tokoh babat alas Desa Ketitang (Kecamatan Godong) memelopori metode “Genen”—sebuah teknik pembersihan hutan menggunakan api sebagai bentuk adaptasi teknis masyarakat lokal terhadap lingkungannya.

Eksistensi “arsip hidup” ini menjadi penting untuk mencegah pengikisan tradisi lisan oleh zaman yang kian menuntut kecepatan. Tanpa dokumentasi ini, nilai resiliensi masyarakat Grobogan akan hilang ditelan arus informasi yang nir-makna. Namun, di luar performa ritualistiknya, terdapat kosmologi yang lebih dalam di mana tanah bukan sekadar komoditas, melainkan saksi bisu yang membawa kita memasuki relung spiritual masyarakat agraris.

Ritual dan Ketahanan Budaya: Kosmologi Masyarakat Agraris

Tradisi di Grobogan bukanlah artefak statis, melainkan living heritage yang terus bertransformasi. Ritual seperti Sedekah Bumi, Apitan, dan Wiwitan dievaluasi bukan sekadar sebagai upacara seremonial, melainkan sebagai mekanisme penjaga kohesi sosial yang tactile—sebuah kontras fisik yang nyata terhadap budaya layar digital yang efemer atau fana.

Filosofi Padasan di Tegowanu diulas sebagai simbol kebersihan lahir-batin. Meski secara fungsional kini tergeser oleh keran modern, keberadaannya tetap menjadi jangkar spiritualitas harian. Sementara itu, keberlanjutan ekonomi budaya ditunjukkan melalui keberadaan Pande Besi di Dusun Tahunan (Kecamatan Grobogan) yang mewarisi keahlian Mpu Supo.

Keaslian trah ini divalidasi oleh keberadaan “Umpak Supo”, sebuah batu simbolis peninggalan sang mpu yang menjadi bukti fisik kedalaman sejarah tempa besi di wilayah ini. Mengenai keluhuran nilai ini, buku ini menyiratkan falsafah Jawa yang menjadi kompas moral; “Ajining bangsa saka budayane” (Martabat suatu bangsa tercermin dari kemampuannya merawat warisan budayanya).

Serta prinsip fundamental yang menjadi motor resiliensi; “Urip Iku Urup” (Hidup yang bermakna adalah hidup yang mampu menjadi nyala dan memberikan manfaat bagi sesama).

Falsafah ini menghubungkan aktivitas manusia dengan lanskap spiritual dan mitologi yang melingkupinya, di mana alam dipandang sebagai entitas sakral yang fungsi ekologisnya dijaga melalui narasi-narasi legendaris.

Lanskap Sakral dan Mitologi: Antara Fungsi Ekologis dan Warisan Spiritual

Buku ini secara brilian memotret bagaimana mitos berperan sebagai benteng ekologis yang menjaga kelestarian sumber daya alam seperti sendang dan punden. Fenomena geologi Bledug Kuwu dianalisis melalui lensa sejarah Raden Jaka Pengalasan (Soeradjenggala) yang secara strategis menggunakan Marsinah dan Nursiyah sebagai “umpan” cerdik untuk menumpas pemberontakan. Secara analitis, sangat menarik melihat bagaimana legenda “anak naga” (Joko Linglung) yang menjaga sumber air garam ini kini bersinggungan dengan realitas ekonomi masa depan; temuan kadar Litium tinggi yang diprediksi menjadi jantung industri baterai dunia. Ini adalah bukti nyata bagaimana “yang spiritual” melindungi “yang material” untuk generasi mendatang.

Narasi mengenai Sendang Sumber dan Situs Jumbangan di Desa Penadaran (Kecamatan Gubug) diulas sebagai jantung spiritual yang sekaligus menjalankan fungsi konservasi air. Sementara itu, mitos Mbah Tijem di Waduk Nglangon atau Bong Cino di Karangrayung membentuk memori kolektif yang organik, menciptakan ruang toleransi yang melampaui sekat etnis. Kearifan lokal ini menjadi sumber inspirasi utama bagi pembangunan berkelanjutan; sebuah harmoni antara manusia dan alam yang harus dirawat agar tetap abadi dalam ingatan di tengah gempuran modernitas.

Buku sebagai Kompas Moral bagi Generasi Masa Depan

Di tengah derasnya arus digitalisasi yang seringkali mencabut akar identitas, Mozaik Budaya Grobogan hadir sebagai kompas moral bagi Generasi Z dan Alfa. Buku ini adalah jangkar yang memastikan bahwa modernisasi tidak harus dibayar dengan kehilangan jati diri.

Buku ini hadir sebagai bacaan wajib bagi para profesional dan pegiat budaya. Pertama, karya ini berfungsi sebagai jangkar identitas lokal yang menyajikan ontologi jernih mengenai asal-usul sekaligus menegaskan martabat warga Grobogan di kancah nasional.

Keunggulan berikutnya terletak pada perannya sebagai arsip hidup yang humanis, di mana memori kolektif yang semula rapuh berhasil dikonversi menjadi sumber pengetahuan yang kredibel dan inspiratif. Terakhir, buku ini menyimpan kearifan ekologis dengan menawarkan berbagai solusi tradisional dalam menjaga keseimbangan alam—sebuah preseden lokal yang sangat relevan untuk menjawab tantangan perubahan iklim global saat ini.

Secara kritis, meskipun buku ini adalah awal yang monumental, ketergantungan pada tradisi lisan sebagaimana tercermin dalam sejarah Desa Ketitang atau Penadaran menunjukkan adanya “balapan dengan waktu”. Seiring berpulangnya para sesepuh, riset lanjutan ke arsip nasional dan dokumen kolonial harus terus dilakukan untuk melengkapi potongan mozaik yang masih belum terarsip secara tertulis. Martabat warga Grobogan pada akhirnya tercermin dari kemampuannya merawat warisan sejarah ini agar tetap abadi, bukan sebagai fosil, melainkan sebagai ruh yang terus berdenyut.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.