Advertisement

apijiwa.id – Di tengah bisingnya media sosial yang seolah tak henti berputar—serta dalam ketidakpastian negeri ketika negara seolah tidak hadir untuk rakyatnya—saya tiba-tiba melihat sebuah berita unik di pertengahan tahun 2026 ini. Dua arca perunggu asal Indonesia akhirnya “pulang kampung” setelah sekian lama “berkelana dan melanglang buana” jauh hingga ke mancanegara.

Dua arca perunggu Avalokiteshvara yang berusia sekitar 1.200 tahun ini akhirnya berhasil kembali ke Indonesia setelah sekian lama hilang akibat dicuri dari situs arkeologi dan diperdagangkan secara ilegal di pasar seni internasional. Kabar kepulangan benda bersejarah ini diumumkan secara resmi oleh Kantor Jaksa Amerika Serikat New York, dan prosesi serah terimanya telah dilakukan di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York. Kedua arca yang diduga berasal dari abad ke-8 ini menampilkan sosok Avalokiteshvara dalam posisi berdiri, masing-masing dengan tinggi sekitar 40,64 sentimeter dan 50,8 sentimeter.

Perjalanan kedua arca ini menjadi bukti nyata betapa panjang dan rumitnya lika-liku benda bersejarah Indonesia di pasar gelap internasional. Arca-arca tersebut diduga kuat diambil secara paksa oleh kelompok penjarah dari situs arkeologi di Indonesia beberapa dekade yang lalu. Setelah dicuri, barang-barang berharga tersebut dijual kepada Douglas Latchford, seorang pedagang barang antik yang tinggal di Bangkok, Thailand. Latchford kemudian menjualnya kembali kepada seorang kolektor di Amerika Serikat dalam rentang waktu antara tahun 2003 hingga 2007.

Dalam setiap proses transaksinya, pihak otoritas Amerika Serikat menemukan fakta bahwa status kedua benda tersebut sebagai hasil curian sengaja ditutup-tutupi agar tidak diketahui pembeli. Namun, pada akhir tahun 2021, kolektor yang menyimpan barang-barang tersebut akhirnya menyerahkan 34 benda purbakala miliknya secara sukarela. Koleksi itu mencakup arca dari Kamboja serta negara-negara Asia Tenggara lainnya. Ternyata, dua dari puluhan benda yang diserahkan tersebut adalah arca perunggu asal Indonesia.

Menanggapi keberhasilan ini, Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, menegaskan bahwa kantor kejaksaan memiliki komitmen penuh untuk memberantas praktik perdagangan gelap karya seni dan benda-benda purbakala hasil curian atau jarahan. Dalam dokumen gugatan perampasan aset perdata yang tercatat di New York, kedua arca milik Indonesia tersebut secara administratif diberi label sebagai “Sculpture-12” dan “Sculpture-27”.

Siapa Avalokiteshvara?

Avalokiteshvara adalah salah satu sosok yang paling dicintai dan dihormati dalam dunia Buddhisme. Ia dikenal sebagai seorang bodhisattva—sosok yang telah mencapai tingkat kebijaksanaan tinggi namun sengaja menunda kebuddhaannya sendiri. Keputusan mulia ini ia ambil karena tekadnya yang teguh untuk terus membantu seluruh makhluk hidup di dunia agar bisa terbebas dari penderitaan dan siklus kelahiran kembali. Karena sifat welas asihnya yang tidak terbatas, ia dipuja di berbagai aliran Buddhisme, meskipun setiap aliran memiliki penekanan ajaran yang sedikit berbeda.

Nama Avalokiteshvara sendiri memiliki makna yang mendalam, seperti “pemimpin yang melihat ke segala arah” atau “penguasa dari apa yang kita lihat”. Di berbagai belahan dunia, ia dikenal dengan sebutan yang berbeda-beda sesuai dengan budaya setempat. Salah satu perwujudan yang paling terkenal ada di Tiongkok dengan nama Guanyin, yang berarti “mendengar tangisan”. Di Sri Lanka, ia dikenal sebagai Natha-deva.

Peran Avalokiteshvara di dunia sangat nyata bagi para pengikutnya. Ia dipercaya sebagai pelindung yang menjauhkan manusia dari berbagai bahaya, seperti kapal karam, kebakaran, serangan perampok, maupun binatang buas. Ia bahkan dianggap sebagai pencipta alam semesta yang nyata.

Terdapat sebuah kisah yang sangat terkenal mengenai wujud Avalokiteshvara yang memiliki banyak kepala dan tangan. Dikisahkan bahwa kepalanya pernah terbelah karena kesedihan yang mendalam saat menyadari masih begitu banyak makhluk jahat yang belum bisa diselamatkan. Melihat hal itu, Amitabha mengubah serpihan kepala tersebut menjadi kepala-kepala yang utuh, yang kemudian disusun dalam tiga tingkatan di atas kepala Avalokiteshvara, dengan gambar Amitabha berada di puncaknya. Itulah sebabnya ia terkadang digambarkan memiliki 11 kepala dan ribuan lengan yang menyerupai ekor merak untuk menjangkau semua makhluk.

Dalam lukisan, ia biasanya berwarna putih, kecuali di Nepal di mana ia sering digambarkan berwarna merah. Pemujaan terhadapnya menyebar luas dari India ke berbagai negara di Asia. Menariknya, penggambaran Avalokiteshvara mengalami perubahan seiring berjalannya waktu dan percampuran budaya.

Beberapa aliran menggambarkannya sebagai sosok yang dapat bersalin rupa (tergantung kondisi), baik sebagai sosok yang feminin atau wanita maupun maskulin atau pria. Gagasannya adalah bahwa seorang bodhisattva—sosok dengan tingkat kesadaran luar biasa yang bersumpah menunda pencerahan hingga segenap makhluk hidup terbebaskan—dapat bermanifestasi dalam wujud apa pun yang paling efektif untuk melepaskan makhluk hidup dari penderitaan.

Atina Winaya dalam Jurnal Forum Arkeologi (2021) juga menjelaskan bahwa di Indonesia, salah satu arca Avalokiteshvara yang cukup terkenal terletak di dalam bilik utama Candi Mendut. Arca yang terbuat dari bahan batu tersebut digarap dengan kontur yang jelas serta memiliki ukuran tinggi mencapai 3 meter. Unsur hias arcanya terbilang raya, digarap dengan sangat natural, dan memiliki permukaan yang halus.

Kepemimpinan yang Berwelas Asih dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Kisah Avalokiteshvara yang rela menunda pencapaian pencerahan pribadinya demi meringankan penderitaan makhluk lain merupakan antitesis yang sangat tajam terhadap praktik kepemimpinan yang terjebak dalam ambisi kekuasaan semata. Dalam konteks bernegara, sosok bodhisattva ini menjadi cermin yang memberi contoh bagi para pemimpin untuk memiliki kerendahan hati dalam melepas agenda atau program yang bersifat elitis dan tidak pro-rakyat—terutama jika program tersebut hanya menguntungkan segelintir “pembusuk negara” yang menggerogoti sendi-sendi keadilan.

Kepemimpinan yang sejati seharusnya tidak diukur dari seberapa besar proyek mercusuar yang dibangun, melainkan dari keberanian untuk mengutamakan kepentingan publik di atas ego sektoral, sebagaimana welas asih Avalokiteshvara yang hadir dalam wujud apa pun untuk membebaskan mereka yang menderita.

Relevansi hal ini bagi pemerintah hari ini sangatlah mendesak. Negara yang abai terhadap nasib rakyatnya sama saja dengan membiarkan aset kemanusiaan—yaitu martabat dan hak hidup rakyat—dicuri oleh ketidakadilan dan ketimpangan sistemik. Pemerintah harus meneladani sifat pelindung Avalokiteshvara dengan menghadirkan kebijakan yang benar-benar melindungi rakyat kecil dari ancaman kemiskinan, intimidasi, dan ketidakpastian masa depan. Jika pemimpin lebih memilih untuk memupuk ambisi pribadi yang jauh dari kebutuhan nyata rakyatnya, maka mereka sedang mengkhianati amanah yang seharusnya diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang penuh kasih dan empati.

Di sisi lain, masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga negeri ini agar tidak menjadi “pasar gelap” bagi praktik korupsi dan oportunisme politik dari hal yang terkecil sekalipun. Menjaga negeri saat ini berarti menghentikan sikap apolitis dan menjadi warga negara yang kritis serta peduli, sama halnya dengan upaya kolektif yang berhasil memulangkan arca Avalokiteshvara ke tanah airnya. Arca yang telah kembali ke “rumah” aslinya ini menjadi simbol bahwa setiap elemen bangsa harus kembali pada esensi kebersamaan dan integritas.

Baik penguasa maupun rakyat, kita semua dipanggil untuk menjadi bodhisattva bagi satu sama lain: penguasa melalui kebijakan yang welas asih, dan rakyat melalui pengawalan yang teguh terhadap nurani kebangsaan, agar negeri yang kita cintai ini tidak kehilangan arah dan tetap berdiri di atas fondasi yang hakiki.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.